Minggu, 25 November 2018

Al Washliyah Aceh, gelar turnamen futsal antar mahasiswa dan Pelajar

Pengurus Wilayah Al Washliyah Aceh menggelar turnamen futsal antar mahasiswa, sebagai salah satu agenda tahunan dalam rangka memeriahkan milad Al Washliyah ke 88. Pertandingan futsal berlangsung tanggal 24-25 November 2018 yang dipusatkan di lapangan Eleven Bineh krueng, Darussalam-Banda Aceh.
Ketua PW. Al Washliyah Aceh, Farid Wajdi Ibrahim menjelaskan turnamen futsal ini dilaksanakan dalam rangka memperingati milad Al Washliyah, yang puncaknya akan diperingati pada tanggal 30 November 2018 di Kampus Al Washliyah Rukoh. Turnamen ini, untuk memperebutkan piala bergilir Al Washliyah Cup I, semoga semua  tim untuk dapat bertanding secara fair dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas.
“kegiatan ini untuk mensyiarkan Al Washliyah, sekaligus menjalin silaturrahmi dengan rekan-rekan mahasiswa, futsal hanya sebagai jalan yang kita pilih untuk menjalin komunikasi dengan warga Washliyah, mahasiwa dan masyarakat sekitar, karena ini kegiatan anak muda, maka perlu kita jaga nilai-nilai sportifitas secara fair” sebut Farid (24/11) setelah tendangan pertama sebagai pertanda pertandingan dimulai.
Koordinator panitia bidang olah raga, Wahidi Johan menyebutkan, bahwa turnamen futsal Al Washliyah Cup I dalam rangka peringantan milad Al Washliyah ke 88 diikuti oleh 32 tim saja dengan usia pemain maksimal 22 tahun yang dibuktikan dengan KTP atau Kartu Pelajar. Sebenarnya respon mahasiswa dari berbagai BEM perguruan tinggi sangat baik, unsur pelajar tingakt SMA dan SMP juga ada, dan dari asrama mahasiswa peguyuban di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Animo peserta sangat tinggi untuk mengikuti futsal, namun panitia hanya menerima 32 tim karena keterbatasan waktu dan kesiapan panitia, sistem yang berlakukan gugur. Tahun depan akan kita terima dalam jumlah yang lebih besar dan waktunya disiapkan selama satu minggu.” Kata Wahidi menjelaskan.
Turnamen futsal ini untuk memperebutkan piala bergilir ketua PW. Al Washliyah Aceh, panitia  menyediakan hadiah berupa tropi, piagam dan uang pembinaan kepada juara I Rp.3 Juta, juara II, Rp.2 juta dan juara III, Rp.1 juta. Tidak hanya itu panitia juga menyediakan hadiah khusus kepada pemain terbaik, official terbaik, topscore dan beberapa katagori lainnya. Jelas Wahidi dengan penuh semangat.

Senin, 19 November 2018

Jelang milad ke 88: Al Washliyah Aceh gelar pelatihan menulis bagi mahasiswa

Sebagai intelektual muda, mahasiswa perlu terus mempertajam  dan mengasah kemampuan menulis. Menulis menjadi tradisi penting bagi mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan.
“Menulis menjadi tradisi akademik, maka perlu dilatih dan diasah agar mahasiswa memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, maka Al Washliyah Aceh hadir untuk itu” sebut koordinator panitia bidang Pelatihan karya tulis ilmiah, Syahrul Ridha, (17/11) disela-sela pembukaan di kampus Al Washliyah Banda Aceh.
Tradisi menulis dikalangan mahasiswa terkesan masih rendah, padahal mahasiswa dituntut untuk terus menulis berupa karya tulis ilmiah dalam rangka menyelesaikan studinya.
“kita perlu dorong agar mahasiswa dapat lebih cepat menyelesaikan tugas-tugas kuliah termasuk skripsi, kedepan, akan melahirkan generasi yang mempunyai skill dalam melahirkan karya ilmiah yang baik dan berkualitas” pinta Syahrul yang juga sebagai Dosen Tetap STKIP Al Washliyah Banda Aceh.
Sementara itu, Sekretaris Al Washliyah Aceh, Baharuddin AR dalam sambutannya meminta kepada panitia agar kegiatan ini perlu dilaksanakan setiap tahun. Menulis merupakan perintah Allah yang menjadi keharusan bagi kita semua, sekarang mahasiswa dan kader Al Washliyah sudah semestinya untuk terus meningkatkan dan bergiat diri untuk menulis.
“setiap mahasiswa diwajibkan menulis agar dapat lebih cepat menyelesaikan studinya, karya-karya mahasiswa ini nantikan kita jadi jurnal atau proseding dalam bentuk agar dapat dibaca oleh banyak orang” pinta Bahar dengan nada optimis.
Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa, diikuti oleh 92 mahasiwa dari berbagai kampus di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk membekali mahasiswa, panitia menghadirkan pemateri Hasanuddin, Syarul Ridha dan Evi Mauliza. Agar menghasilkan karya ilmiah yang baik, panitia membagi peserta dalam 10 kelompok untuk memudahkan pendampingan dan proses bimbingan dari dosen ahli selama satu pekan.

Sabtu, 27 Oktober 2018

Profesi Guru Semakin Terancam

Wajah pendidikan kita kembali tercoreng, seorang ibu guru SMA Negeri 4 Kota Kupang, harus menahan rasa sakit dan sempoyongan setelah menerima dua kali tendangan di bagian perut. Perlakukaan kasar dilakukan oleh orang tua siswa, pada saat guru tersebut sedang mengajar di kelas. Perlakuan miris itu diberitakan serentak di media cetak, online dan tv, peristiwa terjadi (20/10/2018) dialami oleh Makrina Bika (57) guru Bahasa Inggris dianiaya oleh Matheos Tuflasa (50) yang notabene-nya adalah ayah dari siswanya berinisial MT (17).
Saksi mata, Erens Tualaka (37), menuturkan kejadian itu terjadi disaat MT  siswi kelas XI IPA 4 berjalan melalui koridor sekolah menuju perpustakaan, lalu bersenggolan dengan guru Makrina Bika. Akibatnya, telepon genggam sang guru terjatuh, sementara MT terus berjalan tanpa mempedulikan peristiwa itu. Makrina kemudian mengikuti MT dengan maksud ingin menegur dan bertanya sambil mencolek pipinya. Diluar dugaan, justru MT menelpon ayahnya atas perlakuan gurunya dan lebih dari lima kali dengan suara keras, MT mengeluarkan makian dengan kata-kata kasar sambil menelpon ayahnya.
Anehnya, tak berselang lama, ketika memasuki jam keenam pelajaran, tiba-tiba sang ayah MT datang ke sekolah dengan serta merta masuk ke ruang kelas dan menganiaya sang guru yang sedang mengajar. Melihat perlakuan yang keterlaluan terhadap gurunya, maka spontanitas siswa berusaha menyelamatkan gurunya dari serangan orang asing itu. Mungkin, untuk menghindari terjadinya kegaduhan, maka pihak sekolah berinisiatif melaporkan kejadian itu kepihak Mapolsek Kelapa Lima, akhirnya pelaku terpaksa diamankan sementara sambil menunggu proses selanjutnya.

Ketegasan Sekolah
Akhirnya, pihak sekolah mengambil keputusan tegas dan  mengeluarkan siswi tersebut dari sekolah. Tidak bisa dipungkiri, siswa semakin kehilangan etika dan sopan santun terhadap teman, guru, keluarga bahkan ke orang tua sekalipun. Siswa tidak lagi menganggap gurunya sebagai teladan, panutan, seorang yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan sehingga patut dihormati dan disegani. Kondisi ini diperparah dengan adanya kesan “pembiaran” yang dilakukan oleh pihak sekolah atas perilaku menyimpang yang dilakukan siswanya. Sudah saatnya pihak sekolah menyiapkan peraturan dan persyaratan yang ketat terkait dengan tatatertib sekolah sejak penerimaan siswa baru.
Selama ini, masih ada kesan dari pihak sekolah belum mampu secara optimal menjalankan peraturan sekolah terkait dengan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pengelolaan, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan standar pembiayaan pendidikan sebagai delapan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di Indonesia. Seharusnya kriteria ini menjadi pengunci celah bagi para pihak, untuk “negoisasi” dan “terpaksa” menerima siswa yang kompetensinya rendah apalagi yang berperilaku nakal. Kemudian, untuk menjaga keseimbangan maka setiap orang tua siswa perlu membuat surat pernyataan yang menerangkan bahwa jika terjadi pelanggaran dan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anaknya atau orang tuanya, maka pihak sekolah berhak memberi sanksi sesuai dengan kaedah kepantasan dan kepatutan.

Profesi yang terancam
Profesi guru akan terus terancam, jika guru tidak mampu membuat terobosan secara bersama-sama untuk menjadi penyeimbang dalam status sosial, kesejahteraan, imunitas dan kewibawaan. Terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa dan remaja secara umum dikarenakan pergaulan, gadget dan teknologi yang sangat terbuka, mudah diakses oleh siapa saja, dan lemahnya pengawasan dari keluarga. Orang tua siswa mempunyai kesibukan dan pekerjaan yang menyita waktu, sehingga mengakibatkan kurangnya perhatiaan terhadap anak-anaknya. Orang tua tidak sempat lagi menayakan suasana sekolah anaknya, tidak sempat lagi menemani anaknya ketika mengerjakan PR, tidak sempat lagi mengantar anaknya ke sekolah. Hal ini dapat mengakibatkan anak terlalu bebas, terlalu liar, dan kehilangan pengawasan sehingga merasa sangat merdeka dalam menentukan sikap dan pilihannya.
Kondisi ini, dapat berakibat pada hilangnya sopan santun, lunturnya budaya hormat-menghormati, hilangnya rasa saling menghargai dan pudarnya rasa solidaritas. Bahkan kondisi dapat terjadi karena faktor; Pertama, status sosial siswa lebih tinggi dari gurunya, sang siswa berasal dari keluarga yang mapan, terpandang, apalagi orang tuanya sebagai pejabat di instansi pemerintah. Jadi, dengan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya membuat siswa tidak takut pada siapapun termasuk pada guru karena orangtuanya pasti akan mendukung anaknya.
Kedua, posisi ekonomi siswa lebih baik dari guru, hal ini banyak terjadi disekolah favorit dan internasional. Siswa akan memandang rendah gurunya, karena siswa ke sekolah dengan kendaraan mobil, sedangkan sang guru hanya naik sepeda motor, pakaian dan sepatu yang digunakan siswa lebih ‘branded’ dibandingkan gurunya. Ketiga, siswa lebih paham materi yang diajarkan oleh gurunya, bagi siswa yang serius belajar, mereka akan dapatkan materi lebih banyak dan update dengan cara kursus melalui lembaga bimbingan belajar atau privat. Hal ini memungkinkan siswa akan memberikan pandangan rendah terhadap gurunya.

Tugas guru tidak hanya sekadar mengajar, menunaikan kewajiban, memenuhi jam pelajaran, justru guru harus mampu menunjukkan kreativitas yang mumpuni, model pembelajaran fun, dan materi ajar yang terus di update. Sebagai pendidik, guru perlu menghadirkan kepekaan sosial,  rasa simpati dan empati, tanggungjawab, solidaritas dan berhimpun dalam wadah asosiasi guru. Orang tua/wali siswa hendaknya mampu menjaga silaturahmi secara intens dengan kepala sekolah dan dewan guru, menjalinan kerjasama, hadir ketika diundang, terutama pada saat pengambilan rapor. Pemerintah perlu hadir menfasilitasi sekolah untuk menyiapkan tenaga keamanan di setiap sekolah agar para tamu dapat difasilitasi dan dimediasi untuk mendapatkan informasi secara profesional dan proporsional. Waalahu’alam bissawaf.
artikel ini sudah pernah dimuat di kolom Opini Harian Babel Pos, halaman 8 tanggal 27 Oktober 2018.