Setiap hari, setiap orang melakukan banyak hal untuk mempertahankan hidupnya. Hal-hal yang diklakukan sangat tergantung pada cita-cita, keinginan atau mimpinya, termasuk upaya mempertahankan eksistensinya duhadapan konstituenya. Seorang pegawai akan selalu berupaya untuk hadir lebih cepat kekantornya untuk menuntaskan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang pengusaha akan selalu terjadwal untuk menemui kleinnya, seorang guru atau dosen akan selalu berupaya untuk menemui murid dan mahasiswanya. Seorang atlit akan selalu mematuhi perintah dan jadwal yang ditetapkan pelatihnya, bahkan seorang pemulung akan selalu setia menunggu jadwal pembuangan sampah.
Semua pekerjaan itu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi dan menunjukkan jati diri kepada semua orang yang menjadi penangungjawabnya atau yang menjadi tanggung-jawabnya. Pekerjaan seberat dan serumit apapun akan tetap dilakukan untuk menghasilkan imunitas terhadap berbagai patologi terutama patologi sosial. Pertanyaanya adalah disiplin dengan jadwal, dapat menyenangkan pimpinan dan membahagiakan keluarga menjadi pilihan atau sekedar tantangan untuk eksistensi.
Donna Turner, seorang doktor psikolog asal Campbell, menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan seseorang bisa mencintai pekerjaannya atau tidak. Kesesuaian latar belakang pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan minat seseorang terhadap pekerjaan akan membuat seseorang merasa nyaman dengan pekerjaannya.
Peribahasa Inggris yang berbunyi “easy come easy go” yang artinya: sesuatu yang diperoleh dengan gampang maka akan gampang pula dilepas. Barang yang mudah diperoleh biasanya kurang dihargai. Berbeda dengan barang yang diperoleh lewat sebuah perjuangan yang keras dan berat maka barang itu pasti akan dijaga, dirawat dan dihargai sangat tinggi. Uang yang diperoleh dari meja judi atau karena menang undian akan lebih mudah dihabiskan dibandingkan uang yang dperoleh dari hasil cucuran keringat selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang yang kerjanya santai banget, nyaris tanpa perjuangan dan kerja keras tetapi bisa sukses. Tapi ada berapa sih jumlahnya orang yang seperti itu? Dan berapa lama sih orang seperti itu bisa mempertahankan keberhasilannya? Kita tidak boleh iri terhadap keberhasilan orang seperti itu. Jangan pula kecewa maupun frustasi. Kalau ada yang meraih keberhasilan karena masalah keberuntungan atau hoki, maka biarlah itu merupakan hak prerogative dari Tuhan yang memberikan banyak kemudahan kepadanya. Tetapi sebaliknya bila hal tersebut dia peroleh karena KKN atau karena perbuatan yang melanggar hukum, maka biarlah hal tersebut menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Kita tidak usah menghakimi dan menghukumnya karena ada hukum positif di negara ini dan sekaligus ada hukum Tuhan yang tidak bisa disuap atau dimanipulasi. Untuk meraih kesuksesan dan sekaligus mempertahankannya, kita tidak cukup hanya memiliki Etos Kerja saja melainkan harus memiliki Etos Kerja yang Positif. Apa bedanya? Begini, kalau hanya etos kerja saja maka saya yakin bahwa para perampok, pencuri dan penjahat lainnya juga memiliki hal tersebut. Mereka punya semangat kerja yang tinggi dan dan bahkan punya kode etik sendiri yang sangat dijunjung tinggi. Tetapi sayangnya apa yang mereka kerjakan bukanlah suatu perbuatan yang positif.
Bandingkanlah dengan etos kerja yang positif yaitu semangat kerja yang dilandasi oleh pikiran yang positif, dilakukan dengan cara-cara yang positif dan terutama untuk mencapai tujuan yang positif. Tujuan positif yang saya maksud adalah membawa manfaat yang positif baik untuk diri sendiri, untuk orang lain dan untuk Tuhan. Dengan adanya etos kerja yang positif maka kita tidak pernah kekurangan atau kehabisan energi. Meskipun banyak hambatan dan rintangan, tidak pernah menyurutkan langkah orang yang punya etos kerja yang positif.
Jadi jenis pekerjaan yang hanya menghasilkan, justru ia akan memperoleh banyak uang, seorang atletik akan memperoleh prstasi juga seorang pemulung/buruh akan mendapat upah yang setimpal dengan upaya dan karyanya. Seyogianya kita harus berupaya untuk membuang mindset atau pola/kerangka berpikir yang seperti itu.
Masih dalam bahasa Inggris, ada peribahasa yang berbunyi “no pain no gain”. Tidak ada keuntungan atau kenikmatan tanpa terlebih dahulu melalui kesulitan dan penderitaan. Kalau dalam bahasa Indonesia sering kita dengar slogan “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit kita dahulu bersenang-senang kita kemudian”. Dari pepatah itu ada pesan yang dapat kita petik semua usaha pasti ada harga, setiap harga akan dikalkulasikan sesuai dengan volume kerja masing-masing. Kompensasi yang diterima tanpa usaha dan peran dapat mengakibatkan kita menjurus pada korup (penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara/perekonomian nasisonal) atau gratifikasi (pemberian atas alasan jabatan seseorang).
Dalam dunia kerja, seorang professional bukan hanya lahir karena modal kepintaran saja tetapi juga karena kerajinan dan ketekunan serta kerja keras. Orang pintar tetapi malas akan dikalahkan oleh orang yang kurang pintar tetapi rajin. Bayangkan apa jadinya bila orang pintar sekaligus rajin, tekun dan pekerja keras. Jadi fungsi dan peranan kerja keras tidak bisa diabaikan. Sekalipun ada kerja cerdas tidak membuat kerja keras jadi berubah menjadi kerja lemah atau kerja santai. Kerja cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot semata melainkan juga menggunakan otak sehingga hasilnya terasa lebih efisien dan efektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar