Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

MILAD AL WASHLIYAH BANDA ACEH KE 84 DI PANTI ASUHAN

Al Jam'iyatul Washliyah sebagai salah satu organisasi massa yang tergolong  tua memperingati hari lahirnya (Milad) ke 84 bersama para anak panti asuhan (30/11) di Panti Asuhan binaan Al Washliyah Kota Banda Aceh di Lampermai Ulee Kareng-Banda Aceh.
Organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, amal sosial, dakwah dan peningkatan ekonomi ummat itu lahir di Medan pada tanggal 30 November 1930 yang pada hari ini genap berusia 84 tahun. "Milad yang dirangkai dengan penyerahan santunan dan samadiyah/pembacaan do'a untuk mengenang jasa-jasa para syuhada Al Washliyah, diikuti oleh sesepuh, tokoh-tokoh dan mahasiswa serta warga Gampong Lampermai Ulee Karaeng berjalan dengan sederhana dan khidmat" Sebut Muchtar Husen Ketua PD. Al Washliyah Banda Aceh diselal-sela kegiatan tersebut.
Muchtar juga menambahkan, bahwa Al Washliyah di Aceh sudah ada sejak tahun 1931 di Langkat Tamiang dan untuk Banda Aceh dibawa mandat oleh Tgk. H. Abdullah ujong Rimba pada tahun 1935. "Untuk kali ini, biarlah kami berulang tahun bersama anak panti, agar semangat juang para pendahulu, menjadi terpatri dalam semangat kami dalam menjaga Al Washliyah zaman berzaman" kata Muchtar berfilosofi.
Kegiatan milad juga diisi dengan refleksi dan napaktilas sejarah Al Washliyah yang disampaikan oleh Drs. H. Dimyati Thoyyib, MBA, tokoh Al Wahliyah ini, menyebutkan bahwa Al Washliyah lahir sebagai organisasi penyeimbang antara kaum tua dan muda dalam menyusun rencana untuk mengusir penjajahan Belanda. "Al Washliyah lahir sebagai penyeimbang agar kaum tua dan muda dapat sinergis dalam menggerakkan semangat masyarakat untuk mengusir penjajahan Belanda" terang Dimyati. 
Kader Al Washliyah harus mampu mengisi ruang kekosongan yang selama ini luput dari perhatian kita, padahal kesempatan masih terbuka lebar untuk berperan dan memajukan Al Washliyah.  "Perlu sinergis agar ruang kosong dapat diisi oleh kader-kader terbaik dari Al Washliyah, hindari perpecahan, karena Al Washliyah lahir sebagai pemersatu ummat" tegasnya
Sementara itu, Ketua pelaksana Adnin A. Salam menyebutkan bahwa kegiatan ini diprakarsai oleh generasi muda Al Washliyah bersifat sedehana dan lebih pada syukuran bersama anak yatim. "Nama besar Al Washliyah perlu kita jaga dengan sepenuh hati dan jiwa, jangan ragu untuk memberikan yang terbaik untuk Al Washliyah,  kami yakin hal yang sama akan terus dilakukan pada masa-masa yang akan datang" sebut Adnin. Berbuat baik untuk anak yatim akan dibalas dengan syuga, perhatian yang kita berikan, kadang-kadang sedikit bagi kita namun sgt berharga bagi anak-anak panti. katanya

Senin, 10 Desember 2012

Al Washliyah Aceh Berduka, Ketua Umum Tutup Usia

         Aceh kembali kehilangan seorang tokoh organisasi sekaligus pemuka agama, dengan tutup usia Drs. H. Ibrahimsyah Fanshury. beliau merupakan ketua umum Pimpinan Wilayah Al-Washliyah Aceh selama dua periode sejak tahun 2006-2011, 2011-2016. Beliau menghembus nafas terakhir pada hari Minggu tanggal 9 Desember 2012 pukul 07.10 WIB karena menderita gagal jantung dan komflikasi akut yang sudah lama diderita.
Meskipun udara pagi sekitar Kota Banda Aceh masih terasa sejuk, mata hari baru mulai terbit di ufuk timur, hari itu, suasana jalan masih sepi, mungkin karena bertepatan dengan hari libur kantor. Namun suasana sibuk dan ramai terlihat di seputaran jalan Teuku Umar tepatnya di komplek Rumah Sakit Harapan Bunda. Setelah menjalani perawatan selama 10 hari sejak tanggal 30 November 2012 hingga menghembus nafas terakhir diusia 58 tahun.
Tanggal 30 November 2012, merupakan hari paling bersejarah bagi keluarga besar Al-Washliyah karena pada tanggal tersebut adalah hari lahirnya Al Washliyah dan diperingati sebagai milad ke 82 di Banda Aceh.
Seyogianya beliau hadir memberi sambutan, namun hajatan itu tidak dapat beliau penuhi karena harus diopname. Peringatan milad yang dipusatkan di Anjong Mon Mata komplek Pendopo Gubernur Aceh, tetap berjalan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan meskipun ketua umumnya terbaring lemas di rumah sakit. Peringatan milad dihadiri oleh ratusan pengurus dan simpatisan Al Washliyah dari Banda Aceh dan  pengurus beberapa pimpinan daerah.
Berita duka atas meninggalnya Ibrahimsyah yang juga Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Aceh dengan cepat tersebar mulai dari kalangan sejawat beliau, keluarga Besar Al Washliyah. Pesan singakat dan berantai juga terjadi pada Keluarga Besar Partai Persatuan Pembangunan Aceh di mana beliau menjabat sebagai Wakil ketua. Selebihnya melalui pengurus Pelajar Islam Indonesia, Ikatan Siswa Kader Dakwah (ISKADA) dimana beliau aktif ketika masih muda.
Berita duka tersambung melalui masyarakat Keutepang di mana beliau pernah menjabat selama 12 tahun sebagai Geusyik Gampong Lambheu Keutapang Dua. Berita duka juga seketika tersebar keseantero Banda Aceh dan Aceh Besar dan Aceh melalui pengurus daerah Al-Washliyah, Pengurus PPP, bahkan nasional. 
Masyarakat terus berdatangan kerumah duka, Gampong Lambheu, Keutapang Dua, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, terutama teman-teman dan kerabat beliau, sekira pukul 12.00 WIB jenazah beliau dishalatkan di Masjid Babul Iman Lambheu diimami oleh putra sulung almarhum, Muhammad Arief Syahrizal dan doa dipimpin Prof. Dr Rusjdy Ali Muhammad, SH sebagai sekjen PB Al-Washliyah.
Prosesi penglepasan jenazah dari rumah duka dilakukan oleh abang ipar almarhum, Drs. Tgk. H. A. Rahman Kaoy, selanjutnya jezanah Ibrahimsyah Fanshury dikebumikan di pemakaman keluarga Gampong Lambheu.Almarhum Ibrahimsyah Fanshury meninggalkan istri, Dra Hj Chairiah serta tiga putra-putri masing-masing Ir. Rahimah Chairi Isfani, Muhammad Arief Syahrizal ST, dan si bungsu Muhammad Taufik Rahim.
Kiprah dan pengabdian beliau untuk organisasi Islam tergolong sangat intensif, sejak pelajar sudah bergabung dengan PII, ketika menjadi mahasiswa bergabung dengan Himmpunan Mahasiswa Al-Washliyah (HIMMAH) di Medan. Setelah menamatkan kuliah di IAIN Sumatra Utara beliau mengabdikan diri sebagai PNS di kantor gubernur Aceh. Menjelang pensiun, beliau sempat menjabat sebagai kepala bidang pemberdayaan pesantren dan panti asuhan pada Dinas Sosial Aceh hingga pensiun pada tahun 2009.
Atas pengabdiannya untuk organisasi Islam dan Masyarakat Aceh, kita berdo'a semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisiNya dan kepada keluarga dan kerabat yang ditinggal agar tetap tabah atas cobaan ini. Amin... 

Jumat, 16 November 2012

MAKNA HIJRAH DI ANTARA DUA MESJID


Mesjid Quba
Mesjid Nabawi

Mesjid Quba dan Mesjid Nabawi adalah dua mesjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad swa. ketika terjadinya peristiwa Hijrah. Mesjid Quba adalah Mesjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah di tengah-tengah padang pasir ketika unta yang tunggangi beliau berhenti sekira sepuluh kilometer akan mencapai Negeri Madinah ketika itu disebut Yatsrib. Mesjid ini dibangun pada hari Senin, 8 Rabi’ul Awal tahun pertama Hijrah, peristiwa ini diabadikan menjadi dimulainya penanggalan dalam kalender Islam (kalender Hijriah). 
Mesjid Nabawi adalah mesjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah ketika rombangan muhajirin tiba di Madinah, lokasi mesjid adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim yang dibeli oleh Rasulullah. Mesjid ini dibangun pada Hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun 1 Hijrah yang bertepatan dengan 24 September 622 M.
Mesjid ini, awalnya berukuran 50 x 50 M2 dengan tinggi 3,5 M, berbentuk persegi empat yang temboknya terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma. Sedangkan tiang-tiang penopangnya diambil dari batang kurma, sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, Mesjid ini tanpa penerangan di malam hari kecuali pada waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami. Dalam waktu yang hampir bersamaan hanya selisih empat hari saja, Nabi mendirikan dua buah Mesjid, lalu pertanyaannya apa yang menjadi pertimbangan sehingga yang dibangun pertama-tama adalah Mesjid bukan yang lain? Ada apa dengan Mesjid?

Misi Hijrah
Sesuai dengan makna aslinya, hijrah memiliki pengertian meninggalkan atau berpindahnya seseorang atau sekelompok orang dari keadaan yang huru hara ke wilayah yang lebih aman. Kondisi ini terjadi pada peristiwa hijrah, ketika itu komunitas Islam Mekkah sudah tidak aman lagi dalam melaksanakan rutinitas keislaman. Pada waktu itu Nabi Muhammad dikejar-kejar oleh kaum Quraisy dan diancam akan dibunuh, kondisi ini menjadi satu kekuatan yang dijadikan parameter sehingga hijrah perlu dan mendesak untuk dilaksanakan.
Sebelum peristiwa hijrah, kaum Quraisy telah menyusun rencana untuk membunuh Nabi Muhammad, karena petinggi kaum Quraisy merasa kewalahan dalam membendung penyebaran Islam, maka mereka mengancam untuk membunuh Rasulullah. Untuk menghindari terjadi perang terbuka, maka Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk Hijrah melalui Jibril AS. Pada malam hijrah itu Ali bin Abi Thalib diminta untuk menempati tempat tidur Nabi dan beliau diizinkan untuk berhijrah.
Ternyata hijrah tidak hanya sekadar perpindahan secara fisik, tetapi juga perpindahan secara spritual. Suasana yang mencekap, takut, pilu dan terancam secara fisik, perlu adanya upaya hijrah agar memperoleh suasana baru yang lebih nyaman dan aman. Pada peristiwa hijrah terdapat kekuatan baru dengan komunitas baru, dinamika baru dan proses baru sehingga transformasi religius, rasa kekeluargaan dan persaudaraan dapat terjalin.
Manusia perlu adanya tranformasi untuk memperoleh atau perbaikan kualitas hidupnya, secara alamiah hijrah menuntut adanya transformasi fisik dan mental untuk mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang. Bila ditilik secara mendalam ternyata opsi hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam, tetapi lebih kepada upaya pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan terhadap nilai-nilai kebersamaan, senasib sepenanggungan, solidaritas dan kesetaraan. Sungguh, luar biasa kesabaran jiwa Nabi Muhammad ketika menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Beliau tidak pernah membalasnya, justru meminta para sahabat dan pengikutnya untuk melewati masa-masa kritis itu dengan hati dan pikiran yang tenang, meskipun pertaruhannya adalah nyawa seperti yang dilakukan oleh Ali Bin Abi Thalib.

Visi Mesjid
Ada tiga pilar sebagai pengangan dalam kehidupan umat Islam adalah Al-Qur’an, Sunnah dan Mesjid. Ketiga pilar ini saling terkait dan menentukan tegak dan kokohnya kejayaan Umat Islam. Keberadaan Mesjid tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Umat Islam,  paling tidak, Mesjid menjadi simbol pemersatu bagi umat muslim, sekaligus menjadi identitas keberadaan komunitas Islam. Mesjid menjadi salah satu wadah yang memiliki peran secara holistik dalam melahirkan pribadi-pribadi dan jama’ah yang berkualitas dan profesional.
Oleh sebab itu Mesjid menjadi penting untuk dibangun pada peristiwa Hijrah karena pada mesjid memiliki beberapa keutaman. Pertama Mesjid sebagai pusat ibadah, Umat Islam di manapun berada, akan mencari Mesjid terutama untuk melaksanakan ibadah seperti Shalat lima waktu, i’tiqaf, baca Al-Qur’an, berdo’a dan kegiatan ibadah lainnya. Paling tidak setiap sepekan sekali bagi muslim laki-laki perlu berada di Mesjid untuk shalat Jum’at secara berjamah. Mesjid juga difungsikan sebagai tempat untuk pembinaan akhlak dan menanamkan nilai-nilai ajaran Islam seperti kesopanan, saling menghormati, saling menghargai, saling membantu. Mesjid menjadi pusat kajian dan sarana pengabdian dan penghambaan diri kepada Sang Khaliq dalam ritual ibadah keagamaan.
Kedua pusat pendidikan, Mesjid adalah universitas kehidupan di dalamnya dipelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai ilmu-ilmu agama tentang teologi (tauhid), Syari’ah (sistem hidup Islam), akhlak, jihad (perang). Tidak hanya itu, dimesjid juga dapat mempelajari strategi politik, pemberdayaan ekonomi, budaya, manajemen, media massa dan sebagainya. Semua masalah dapat dipelajari, dibincangkan, didiskusikan, diputuskan dan diselasaikan di Mesjid. Pendidikan mesjid memang bukanlah pendidikan formal, namun secara keilmuan, sejarah sudah membuktikan bahwa di mesjidlah ilmu itu dapat diterima oleh para sahabat dari Nabi Muhammad. Ketika di Madinah, Mesjid Quba dan Mesjid Nabawi dijadikan pusat transformasi ilmu dan meyelesaikan brbagai persoalan umat, termasuk konflik rumah tangga, mengajar pendidikan anak (TPA/TPQ). Mesjid adalah wadah paling utama dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan tidak tempat lain semulia Mesjid (QS. 3:96).
Ketiga pusat kegiatan sosial, Selain sebagai pusat ibadah dan pendidikan, Mesjid juga difungsikan sebagai pusat kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Pelayanan sosial (public services) dapat dilakukan di Mesjid termasuk musyawarah untuk menyelesaikan permasalahan umat. Mesjid juga sering dijadikan sebagai pusat peringatan hari-hari besar Islam, ceramah agama, pelayanan kesehatan, penyaluran zakat, infak, sadaqah dan  pembagian bantuan untuk masyarakat.
Keempat simbol pemersatu umat, sebagai tempat ibadah, menuntut ilmu dan berbagai kegiatan sosial lainnya, selayaknyalah Mesjid difungsikan sebagai wadah penyemaian dan perawatan ukhuwwah Islamiyah. Di negara-negara Islam, Mesjid dijadikan sebagai simbol kejayaan dan identitas sesama muslim, ketenagan dan kenyamanan akan terjaga bila berada di mesjid. Hampir semua negara dan daerah yang berpenduduk Islam, menjadikan mesjid sebagai identitas dan kebanggan seperti Mesjid Istiqlal menjadi kebanggan umat Islam Indonesia, Mesjid Raya Baiturrahman menjadi kebanggan dan identitas Masyarakat Aceh.
Kelima simbol kesetaraan, Mesjid menjadi tempat yang paling steril dan setara, sama hak dan kewajiban tidak ada perbedaan antara jama’ah yang berpangkat dengan rakyat jelata, yang datang duluan silakan menempati saf terdepat. Semua penghuni mesjid disebut jama’ah tidak perlakuan khusus kepada orang tertentu, semuanya menikmati fasilitas yang sama, rukuk dan sujud mengikuti imam yang sama. 
Hijrah perlu dilakukan untuk memperoleh dinamika, ketenangan, kemajuan dan keberhasilan. Hijrah sebagai upaya pembebasan dari negeri yang sedang berperang, negeri tirani, kezaliman, korupsi, tertindas, semua ini dilakukan untuk memperoleh ketenangan dan keselamatan jiwa, harta dan kebebasan berpikir, sebagaimana orang-orang yang selalu berada di Mesjid.

Jumat, 01 April 2011

QURBAN : BUKTI PENGORBANAN DAN KEIKHLASAN

Setiap datangnya hari raya ‘idul ‘adha mengingatkan kita pada sebuah peristiwa besar yang dilakoni oleh Nabiullah Ibrahim dan anaknya Ismail alaihissalam. Peristiwa munomental itu terjadi ketika turunya perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mengqurbankan (menyembelih) putranya Ismail as. Dengan predikat khalilullah, Nabi Ibrahim sangat cinta kepada Allah swt. Semua perintah Allah ia lakukan dengan ikhlas, bahkan ketika ia diperintahkan untuk mengurbankan anaknya Ismail ia lakukannya dengan kerelaan dan kekuatan iman.
Satu hal yang istimewa, perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail sebagai qurban hanya diterima lewat mimpi “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat di dalam tidur (mimpiku), bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu? Ismail menjawab; “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintah Allah, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk di antara orang-orang yang sabar “(QS, Al- Shaffat: 103).
Dari isyarat ayat Alquran tersebut dapat diambil i’tibar berupa sikap santun dan humanisnya seorang ayah terhadap anaknya. Padahal seorang ayah memiliki otoritas dan memiliki hak paksa untuk menjalankan sebuah perintah, tetapi ia tidak menggunakan hak tersebut, melainkan dengan cara-cara yang sopan dan lembut melalui dialog terbuka dan musyawarah.
Metode dan cara yang dilakukan Nabi Ibrahim sangat berpengaruh pada sikap dan psikologis seorang anak dalam menerima perintah. Sekalipun sebuah ajakan untuk disembelih atau diqurbankan di tangan ayahnya sendiri, namun jawaban yang diberikan anak dengan tulus dan ikhlas menerimanya. Akan tetapi bila ajakan tersebut dilakukan secara kasar dan tidak bersahabat, kemungkinan si anak pun akan menggunakan berbagai cara untuk menghindar kalaupun tidak melawannya.
Buah kesabaran dan keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah yang semata-mata mengharapkan ridha Nya berakhir dengan memerintahkan malaikat untuk menggantikan posisi Ismail dengan se-ekor kibas, dan ketika Ibrahim membuka matanya ternyata yang disembelih bukan anaknya tetapi se-ekor kibas.
Syukur dan Ketaqwaan
Kisah heroik pengorbanan Nabi Ibrahim diabadikan secara nyata dalam Alquran. Allah swt memperlihatkan kembali kepada para hamba-Nya, contoh orang-orang yang sangat cinta kepada Allah dan dalam menjalankan perintah-Nya dilakukan dengan ikhlas. Sudah tentu dalam kondisi normal bila perintah itu ditujukan kepada kita sekarang ini, dipastikan banyak yang mengabaikan bahkan menentangnya.
Karena itu Allah swt. sangat memahami dengan kondisi hamba- Nya, maka yang diperintahkan kepada kita bukanlah menyembelih anak seperti halnya diperintahkan kepada Ibrahim as, tetapi yang diperintahkan kepada kita, mau menyisihkan bagian kecil dari pemberian Allah berupa rezeki yang banyak dengan menyembelih hewan qurban tertentu, pada sepuluh Zulhijjah dan hari-hari tasyriq, seperti diisyaratkan Alquran: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka shalatlah kepada Tuhan-Mu dan berqurbanlah “(QS, Al- Kautsar: 1-2).
Dan Allah sendiri tidak mengharapkan daging dan darahnya (dari hewan qurban) itu, tetapi yang diharapkan Allah darimu adalah “ketaqwaan” di antara kamu. Hendaknya dicamkam pula; “Dengan mensyukuri nikmat Allah, Allah terus menambah (nikmat) itu dengan berbagai jalur, sebaliknya bila bersikap kufur (menentang), Allah menurunkan azab-Nya”.(QS,Ibrahim:7)
Harus pula dipahami bahwa perjuangan tidak pernah berhenti dan final. Pengorbanan umat Islam sekecil apapun sangat diperlukan. Yang kaya dengan hartanya, yang memiliki kekuasaan dengan jabatannya, yang punya ilmu dengan ketajaman otaknya, yang punya tenaga dengan pisiknya dan lain sebagainya.
Tradisi qurban mengajarkan untuk berbagi kesenangan dengan sesama. Karena itu, membagikan sebagian daging adalah sebuah keharusan. Lebih utamanya, jika orang yang ber tidak mengambil lebih dari organ hati hewan saja, meskipun mengambil lebih dari itu sampai batas 1/3 daging masih dalam batas sunnah. Adapun jika itu dinazarkan, maka orang yang ber dan anggota keluarga yang wajib dia nafkahi tidak diperbolehkan mengambil sedikit pun dari daging tadi, dan semuanya harus dibagikan.
Semua itu menjelaskan bahwa hari raya qurban adalah saat di mana Allah menjamu hamba-hamba-Nya. qurban, dengan bercermin dari sejarah perjalanan hidup Nabi Ibrahim as telah mengajarkan kepada manusia, bahwa hanya Allah swt di dalam hati dan raja yang menguasai kehendak-kehendak ego-nafsunya. Pada tahap ini, seorang hamba tidak lagi melihat nilai dari materi. Dia hanya melihat bahwa satu-satunya yang harus disembah adalah Allah, bukan materi.
Qurban juga menegaskan pilihan Nabi Ibrahim kepada sesuatu yang abadi, di atas yang fana. Baginya, lebih penting menuruti kehendak Tuhan, dan anak tidak lagi menjadi penting ketika berhadapan dengan perintah Tuhan. Inilah contoh keagungan cinta kepada zat Yang Maha Agung yang pantas ditiru generasi yang gersang zaman ini. Tradisi sebagai simbol persembahan dan pengabdian yang tinggi kepada Allah.
Di dalam Islam, kemudian diletakkan sebagai bagian ibadah yang terikat oleh sejumlah aturan agar dinilai sah menurut syara’. Akan tetapi, makna yang hakiki dari itu tetap bisa dilihat di dalam aturan-aturannya. Jika pada kali pertamanya dipakai sebagai pembuktian cinta seorang hamba kepada Tuhan-nya, maka di dalam Islam, juga suatu cara orang berbagi dan saling menyayangi dengan sesamanya. Ini dapat dilihat dari keharusan memberikan sebagian dari daging kepada orang-orang sekitar, dan diutamakan kaum fakir miskin. Bahkan dianjurkan bagi orang yang berqurban cukup untuk mengambil sedikit saja dari dagingnya, sementara yang lain dibagikan kepada fakir miskin dan handai taulan sebagai bentuk kepedulian dan kesetiakawanan sosial.

Kamis, 18 November 2010

MENGGAPAI HIKMAH DI BULAN RAMADHAN

Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu, padahal alunan takbir dan suasana terawih masih terasa dibenak kita. seakan-akan masih terngiang diteliga kita lantunan ayat Al-Qur’an pada malam-malam sepi di bulan Ramadhan tahun lalu, namun itulah bukti konsistensi waktu yang tidak pernah melampaui walau sedetikpun. Menyambut datangnya bulan ramadhan yang penuh rahmat, pengampunan dan terbebas dari api neraka, cukup dengan menjernihkan hati sembari memupuk rasa ikhlas untuk menyongsong bulan penuh keagungan, yang dialamnya diturunkan Al-Quran dan lailatul Qadar. Hanya dalam hitungan hari kita akan menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan 1431 Hijriah yang secara kalender bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 2010 Miladiyah. Kewajiban melaksanakan ibadah puasa bagi setiap muslim, yang sudah baligh berakal sehat dan bagi perempuan suci dari haidh dan nifas. Ketika kita dengan ikhlas menjalankan perintah puasa dan dengan rela meninggalkan larangan-Nya, maka pada saat itulah ia sudah mendekatio dirinya mencapai derajat taqwa. Kewajiban melaksanakan puasa diawali dengan kalimat seruan “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183) Kata akhir yang hendak dicapai dengan berpuasa adalah derajat takwa, Seorang ulama sufi berkata “Sesungguhnya dengan bertakwa, para kekasih Allah akan terlindungi dari perbuatan yang tercela, terjaga dari perbuatan dosa, mengisi waktu dengan kegiatan beribadah, lebih suka menahan kesusahan daripada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan". Puasa merupakan ibadah yang langsung menyentuh dimensi ruhani, bahkan porsinya lebih besar dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Jika zakat memiliki dimensi harta dan hisab, sementara shalat masih terdapat dimensi gerak dan haji memiliki dimensi aktivitas dan kekayaan yang cukup. Tetapi ibadah puasa lebih merupakan dimensi ruhaniah yang ganjarannya langsung diberikan oleh Allah. Dan barang siapa yang menjalankan perintah berpuasa dengan baik dan benar, maka akan banyak hikmah yang dapat digapai, paling tidak ada 5 hikmah yang dapat dikemukan di sini adalah: 1. Puasa menahan diri Menahan diri adalah pekerjaan yang maha berat dan membutuhkan waktu, salah satunya dengan menjalankan ibadah puasa. Menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan suami-istri sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun kesempatan untuk melakukan itu setiap waktunya terbuka lebar. Sedang berada dirumah yang tertutup, di dalam kamar yang terkunci, tidak ada orang lain yang mengetahui jika ia makan atau minum. Di sinilah hikmah puasa, melatih seseorang untuk menahan nafsu yang merupakan bagian terkait (inheren) dengan kekotoran jiwa. Puasa dapat membersihkan jiwa dan media pengntrol dari berbagai hasrat yang dicenderungi oleh manusia. 2. Puasa mengangkat martabat manusia Manusia diciptakan dari unsur tanah dan ruh, potensi tanah cendrung mengajak jiwa untuk berbuat mungkar, Sebaliknya, ketika manusia mengikuti unsur ruh yang cenderung pada akhirat dan mencintai hal-hal bernuansa langit, maka kedudukannya akan melambung tinggi ke derajat malaikat. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. At-Tin : 5) Unsur ruhiah mengajak lisan, pendengaran, dan pikiran untuk ikut berpuasa dari perkataan bohong dan perbutan yang sia-sia. 3. Puasa melatih kesabaran Inti dari kesabaran adalah menahan diri. Menahan diri dari dorongan untuk segera memiliki atau melakukan sesuatu yang negatif. Puasa membiasakan kesabaran, karena pada puasa kita menahan diri untuk tidak memenuhi sesuatu termasuk makan dan minum. Menahan dari dari kebiasaan minum kopi atau teh di pagi hari, ngemil di siang hari, dan sebagainya. Kesabaran ini pada akhirnya juga mengikis kedengkian. Sabar dan menahan amarah dengan pernyataan saya sedang berpuasa, merefleksikan bahwa dengan berpuasa maka kita akan memupuk kesabaran. 4. Puasa menekan gejolak seksual Gejolak seksual merupakan salah satu senjata syetan yang paling ampuh dalam menjerumuskan manusia. Tidak hanya bagi pemuda yang belum menikah tetapi juga bagi orang yang sudah berkeluarga. Itulah sebabnya berita selingkuh terlalu sering diberitakan oleh media massa, semua itu karena dorongan nafsu. Rasulullah SAW menyuruh orang yang kuat "syahwatnya" dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, karena eksistensi dan subtansi puasa adalah menahan dan menenangkan dorongan kuat dari syahwatnya. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang nyata/dhahir dan kekuatan bathin. Rasulullah SAW bersabda "Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba'ah (mampu menikah dengan berbagai persiapannya) hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya". (HR. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud). 5. Puasa menuju Allah membuktikan kasih sayang-Nya kepada hamba dengan memberikan keringanan-keringanan yang lain, di antaranya kepada orang sakit (yang membahayakan dirinya jika berpuasa) dan orang yang sedang menempuh perjalanan jauh (yang memberatkan dirinya jika melaksanakan puasa) diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya pada hari yang lain, sesuai dengan jumlah puasa yang ia tinggalkan. 6. Puasa menuju kesehatan Betapa banyaknya penyakit medis yang berawal dari pola makan yang tidak sehat. Dan betapa banyak penyakit yang berawal dari masalah pencernaan. Puasa juga memberi kesempatan bagi alat pencernaan untuk beristirahat. Maka puasa dapat mengobati peyakit maag, lever, usus buntu, gagal ginjal, alergi makanan,, penyakit liver, tekanan darah tinggi, dan kencing manis dan yang lebih menakjubkan ketika pasien akan diperasi, maka oleh dokter diminta untuk berpuasa sebelum melakukan operasi besar atau kecil. Disamping itu telah terbukti kebenarannya secara ilmiah bahwa makan yang berlebihan akan menimbulkan bernagai penyakit. Oleh karena itu, puasa akan memberikan kesempatan istirahat bagi organ pencernaan dan organ tubuh lainnya. Setiap ibadah yang disyariatkan, pasti memiliki hikmah ada yang sudah diketahui dan ada yang masih tersembunyi, ada yang sudah jelas bagi manusia dan ada yang masih menjadi rahasia. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga semua rahasia Allah yang diturunkan pada bulan ramadhan kali ini. Wallahu’aklam bissawaf.