Tampilkan postingan dengan label Dignity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dignity. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2020

PULAU NANGKA YANG TIDAK DISANGKA

Pulau Nangka merupakan salah satu dusun yang berada dipulau tersendiri dan terpisah laut dari dusun Tanjung Tedung, kedua dusun tersebut berada di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka. Kabupaten Bangka, masyarakat di sana lebih sering menyebut kabupaten Bangka induk, karena setelah pemekaran dari kabupaten Bangka tahun 2000, Pulau terbagi menjadi 4 kabupaten yaitu Bangka Tengah, Bangka Selatan, Bangka Barat dan Bangka dan 1 Kota Pangkalpinang sebagai ibukota Provinsi Bangka Belitung.
Pelabuhan penyeberangan terdekat ada di Dusun Tanjung Tedung, hanya dalam waktu 15-25 menit kita dapat menyeberang ke pulau dengan menggunakan kapal nelayan yang setiap hari khusus digunakan sebagai sarana transportasi bagi masyarakat setempat. Selain pelabuhan Tanjung Tedung, masyarakat dapat juga menggunakan pelabuhan Desa Sungaiselan yang berada ditimur Pulau Nangka, rute ini tergolong jauh dan membutuhkan waktu sekira 2-2,5 jam perjalanan. Bagi masyarakat yang mempunyai fobia laut, disarankan untuk menyeberang lewat pelabuhan Tanjung Tedung, memang harus menempuh perjalanan darat sekiira  2-2,5 jam dari Kota Pangkalpinang sebagai Ibukota Provinsi yang berada dipusat Pulau Bangka.
Pulau Nangka yang dihuni oleh 120 KK dan 100 persen muslim, termasuk salah dari duabelas pulau terluar di Provinsi Kepuluan Bangka Belitung, memiliki panorama pasir putih bersih, terletak di bagian selatan pulau Bangka diapit oleh Pulau Sumatera bagian selatan. Pulau yang memikat mata dengan penampakan burung tujuh warna. Bagi pengunjung yang beruntung akan melihat burung menari, biasanya terbang rendah dan terkesan menyapa para pengunjung dengan kepekan sayap yang lebar dan ekor yang menari bak irama semilir angin yang mendayu mengingikuti hempasan gelompang.
Tidak hanya itu, Pulau Nangka dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, hijau, dan rimbun sehingga selalu menghadirkan udara yang cukup dingin dan segar bagi pengunjngnya. Suasana di sore hari, bagi yang “metuah mata” akan menyaksikan pemandangan indah ketika matahari terbenam atau sunset yang menghadir romantisme yang tak terhingga. Masyarakat Pulau Nangka sebagai besar berprofesi sebagai nelayan tradisional menggunakan bubu sebagai alat tangkap ikan, sedangkan bagi ibu-ibu dan remaja hanya berkebun, sebagaiannya lagi berprofesi sebagai penganyam bubu setiap tiga bulan sekali.

Mahasiswa Berkemah
Mengawali tahun 2020, tepatnya pada hari Jum’at, tanggal 3 Januari 2020 atas inisiatif Dr. H. Janawi selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, mengajak para “pentolan” mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan kemah bakti dan rapat kerja organisasi kemahasiswaan (ormawa) di Pulau Nangka. Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari tersebut diikuti oleh pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) periode 2019 dan pengurus Dema periode 2020, dan para ketua-ketua Unit Kegiatan Mahasiswa dan Uni Kegiatan Khusus (UKM/UKK) yang ada dilingkungan IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Kegaiatan kemahasiswaan perdana tahun 2020, sengaja dipilih di pulau agar mahasiswa dapat lebih serius dan fokus dalam mengevaluasi kegiatan 2019 dan lebih strategis merancang kegiatan untuk tahun 2020.  Mahasiswa adalah elemen penting yang harus ada di setiap kampus, yang kehadirannya dihimpun dalam wadah organisasi mahasiswa (Ormawa). Ormawa terdiri dari Dema, UKM dan UKK, sebagai organisasi atau wadah berhimpun bagi mahasiswa dalam rangka pengembangan keilmuan, minat, bakat dan keterampilan mahasiswa ditingkat kampus. Kampus perlu hadir sekaligus menfasilitasi panggung ekspresi bagi mahasiswa sebagai bagian dari kebebasan berserikat dan berpendapat. Disamping itu, ormawa juga wahana untuk mengembangkan potensi diri, kepribadian dan peningkatan kapasitas dan wawasan intelektual. Diharapakan nantinya mahasiswa mampu belajar bagaimana berpikir (learning how to think), belajar bagaimana untuk melakukan (learning how to do), belajar menjadi diri sendiri (learning how to be) dan belajar bagaimana hidup bersama (learning how to live together).
Raker yang dibahani oleh beberapa narasumber internal kampus dimulai pada pagi hari Sabtu, 4 Januari 2020 dengan pemaparan konsep dan target berorganisasi bagi mahasiswa yang disampaikan oleh Dr. Iskandar. Iskandar mengajak mahasiswa untuk selalu hadir sebagai insan intelektual dengan mengedepankan kesantunan, berkepribadian dan selalu taat azas. Diskusi selanjutnya dibahani oleh Dr. Yusra Jamali, yang mengajak mahasiswa untuk sanantiasa mengikuti norma-norma yang berlaku di kampus, sebagai aktivis kampus, setiap mahasiswa perlu menunjukkan prestasi akademik yang unggul dengan karya-karya besar agar dapat dicatat sebagai jejak sejarah, bahwa kita bernah berhimpun, bersama mengawangi organisasi kemahasiswaaan. Sedangkan Kusnadi, S.Kom mengingatkan agar mahasiswa selalu mempersiapkan diri untuk tampil lebih prima dengan administrasi yang tertib, dokumen yang tertata rapi serta memastikan setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat menghadirkan nuansa positif bagi kampus.

Kisah Lima Datuk 
Alkisah, pada Hari Minggu, Tanggal 5 Januari 2020 sebagai hari ke-3, dan hari itu sebagai hari terakhir kami berada di Pulau Nangka. Ketika kami pulang dari pantai kapal terendam sebagai tempat digelarnya kemah. Kami berziarah ke makam Syaikh Ja’far Siddik begitu nama yang tertera di pintuk masuk makam, tidak ada warga yang dapat menceritakan siapa sesungguhnya yang bersemanyam di makam yang terlihat sangat sederhana.
Kami hanya manedapatkan informasi bahwa tidak akan menemukan hewan Babi dan Anjing. “Babi dan dan Anjing tidak dapat hidup di Pulai Nangka, mungkin itu koramah dari Syaikh” tutur Hasan Rais ketua Mesjid Al Mujahidin, satu-satunya Mesjid yang ada di pualau itu. Tanah Nangka adalah pulau suci yang dulunya pernah dihuni oleh para alim ulama, kata Kadus Pulau Nangka, Sukarni yang didampingi kadus lama Alvira ketika beliau berkunjung ke kemah kami.
Sejarah bajak laut atau perompak laut, di masyarakat Bangka lebih sering menyebut Lanon, menjadi alasan historis mengapa di Pulau Nangka ada sebuah makam tua yang digelar dengan Syaikh.  Ternyata beliau adalah Datuk Jafar Sidiq pendekar dan jawara silat asal Kota Waringin yang di daulat untuk menjaga penduduk Tanjung Tedung dan Pulau Nangka yang sering menjadi sasaran para lanon. Datuk Jafar Sidik dalam menjalankan tugasnya menyamar menjadi petani cengkeh, menanam Sagang/lada dan berburu iakan menggunakan bubu.
Kurun waktu 1856-1916 Masyarakat Bangka atas perintah Raden Muhammad Akil salah seorang anak dari Sultan Muhammad Ali, untuk mendirikan Benteng pertahanan di Tanjung Tedung dan Pulau Nangka, sebagai strategi perang melawan Lanon. Raden Muhamad Akil, ketika peperangan dengan Lanon di Laut Mentok menderita luka-luka dan diselamatkan oleh pedagang Arab yang kebutulan sedang lewat jalur selat Bangka. Beliau diobati dan dibawa ke Arab untuk belajar agama sekaligus menunaikan ibdah haji. Ketika Raden Muhamad Akil pulang ke Bangka, diamahkan oleh pedagag Arab untuk mempersiapkan Benteng pertahanan di Pulau Bangka.
Setelah sampai di Bangka beliau menetap di Kota Waringin dengan tetap mengkobarkan semangat menantang Belanda dengan mengajak para jawara bela diri yang masih ada di Bangka yaitu datuk Waringin, datuk Jakfar Sidiq. Datuk terang, datuk Paga, dan datuk berembun dan beberapa murid dari mereka untuk menyusun strategi mempertahankan wilayah Bangka dari perompak atau penjajah Belanda. Para datuk itu adalah pejuang yang sudah berpengalaman dan terlatih di medan pertempuran darat maupun air sejak perang melawan Belanda yang di pimpin oleh Fatih Krio Panting yaitu Sultan Muhammad Ali atau di kenal dengan julukan Batin Tikal. Bekal ilmu bela diri silat, para datuk tersebut memiliki gerakan seperti bayangan dan kemampuan tenaga tubuh mereka seperti baja.
Raden Muhammad Akil sebagai panglima tertinggi, memberi perintah kepada masing-masing datuk untuk mengamankan wilayah masing-masing. Datuk Waringin di angkat atau di daulat menjadi Panglima Angin yang dibantu oleh Datuk Harimau Garang Al Minangkabau utusan dari kesultanan minangkabau atas permintaan pedagang dari arab yang tugasnya mengamankan perairan selat bangka sampai selat Malaka dan mebentuk satu armada perang. Panglima Angin ini, sekarang dinobatkan sebagai icon dalam perayaan tahunan “perang ketupat” di Desa Tempilang kabupaten Bangka Barat.
Datuk Jafar Sidiq di daulat menjaga penduduk Tanjung Tedung dan Pulau Nangka yang sering menjadi sasaran para lanon. Datuk Jafar Sidik dalam menjalankan tugasnya menyamar menjadi petani cengkeh, menanam Sagang/lada dan berburu iakan menggunakan bubu. Datuk Terang di daulat menjaga kampung kurau di utara pulau Bangka, juga sering menjadi sasaran Lanon, beliau menyamar menjadi petani dan nelayan di kampung Kurau, sebelah Utara Bangka. Datuk Paga di daulat menjaga kampung Penyak yang juga menjadi sasaran Lanon dan menyamar menjadi petani di kampung Penyak, Datuk Berembun di daulat menjaga kampung Tanjung Berikat dan perairan sampai pulau Kelasa menyamar menjadi nelayan di sekitar kampong. (dbs) Waalahu’alam bissawaf…
(Yusra Jamali, Dosen IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)

Minggu, 25 November 2018

Al Washliyah Aceh, gelar turnamen futsal antar mahasiswa dan Pelajar

Pengurus Wilayah Al Washliyah Aceh menggelar turnamen futsal antar mahasiswa, sebagai salah satu agenda tahunan dalam rangka memeriahkan milad Al Washliyah ke 88. Pertandingan futsal berlangsung tanggal 24-25 November 2018 yang dipusatkan di lapangan Eleven Bineh krueng, Darussalam-Banda Aceh.
Ketua PW. Al Washliyah Aceh, Farid Wajdi Ibrahim menjelaskan turnamen futsal ini dilaksanakan dalam rangka memperingati milad Al Washliyah, yang puncaknya akan diperingati pada tanggal 30 November 2018 di Kampus Al Washliyah Rukoh. Turnamen ini, untuk memperebutkan piala bergilir Al Washliyah Cup I, semoga semua  tim untuk dapat bertanding secara fair dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas.
“kegiatan ini untuk mensyiarkan Al Washliyah, sekaligus menjalin silaturrahmi dengan rekan-rekan mahasiswa, futsal hanya sebagai jalan yang kita pilih untuk menjalin komunikasi dengan warga Washliyah, mahasiwa dan masyarakat sekitar, karena ini kegiatan anak muda, maka perlu kita jaga nilai-nilai sportifitas secara fair” sebut Farid (24/11) setelah tendangan pertama sebagai pertanda pertandingan dimulai.
Koordinator panitia bidang olah raga, Wahidi Johan menyebutkan, bahwa turnamen futsal Al Washliyah Cup I dalam rangka peringantan milad Al Washliyah ke 88 diikuti oleh 32 tim saja dengan usia pemain maksimal 22 tahun yang dibuktikan dengan KTP atau Kartu Pelajar. Sebenarnya respon mahasiswa dari berbagai BEM perguruan tinggi sangat baik, unsur pelajar tingakt SMA dan SMP juga ada, dan dari asrama mahasiswa peguyuban di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Animo peserta sangat tinggi untuk mengikuti futsal, namun panitia hanya menerima 32 tim karena keterbatasan waktu dan kesiapan panitia, sistem yang berlakukan gugur. Tahun depan akan kita terima dalam jumlah yang lebih besar dan waktunya disiapkan selama satu minggu.” Kata Wahidi menjelaskan.
Turnamen futsal ini untuk memperebutkan piala bergilir ketua PW. Al Washliyah Aceh, panitia  menyediakan hadiah berupa tropi, piagam dan uang pembinaan kepada juara I Rp.3 Juta, juara II, Rp.2 juta dan juara III, Rp.1 juta. Tidak hanya itu panitia juga menyediakan hadiah khusus kepada pemain terbaik, official terbaik, topscore dan beberapa katagori lainnya. Jelas Wahidi dengan penuh semangat.

Senin, 19 November 2018

Jelang milad ke 88: Al Washliyah Aceh gelar pelatihan menulis bagi mahasiswa

Sebagai intelektual muda, mahasiswa perlu terus mempertajam  dan mengasah kemampuan menulis. Menulis menjadi tradisi penting bagi mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan.
“Menulis menjadi tradisi akademik, maka perlu dilatih dan diasah agar mahasiswa memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, maka Al Washliyah Aceh hadir untuk itu” sebut koordinator panitia bidang Pelatihan karya tulis ilmiah, Syahrul Ridha, (17/11) disela-sela pembukaan di kampus Al Washliyah Banda Aceh.
Tradisi menulis dikalangan mahasiswa terkesan masih rendah, padahal mahasiswa dituntut untuk terus menulis berupa karya tulis ilmiah dalam rangka menyelesaikan studinya.
“kita perlu dorong agar mahasiswa dapat lebih cepat menyelesaikan tugas-tugas kuliah termasuk skripsi, kedepan, akan melahirkan generasi yang mempunyai skill dalam melahirkan karya ilmiah yang baik dan berkualitas” pinta Syahrul yang juga sebagai Dosen Tetap STKIP Al Washliyah Banda Aceh.
Sementara itu, Sekretaris Al Washliyah Aceh, Baharuddin AR dalam sambutannya meminta kepada panitia agar kegiatan ini perlu dilaksanakan setiap tahun. Menulis merupakan perintah Allah yang menjadi keharusan bagi kita semua, sekarang mahasiswa dan kader Al Washliyah sudah semestinya untuk terus meningkatkan dan bergiat diri untuk menulis.
“setiap mahasiswa diwajibkan menulis agar dapat lebih cepat menyelesaikan studinya, karya-karya mahasiswa ini nantikan kita jadi jurnal atau proseding dalam bentuk agar dapat dibaca oleh banyak orang” pinta Bahar dengan nada optimis.
Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa, diikuti oleh 92 mahasiwa dari berbagai kampus di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk membekali mahasiswa, panitia menghadirkan pemateri Hasanuddin, Syarul Ridha dan Evi Mauliza. Agar menghasilkan karya ilmiah yang baik, panitia membagi peserta dalam 10 kelompok untuk memudahkan pendampingan dan proses bimbingan dari dosen ahli selama satu pekan.

Sabtu, 27 Oktober 2018

Profesi Guru Semakin Terancam

Wajah pendidikan kita kembali tercoreng, seorang ibu guru SMA Negeri 4 Kota Kupang, harus menahan rasa sakit dan sempoyongan setelah menerima dua kali tendangan di bagian perut. Perlakukaan kasar dilakukan oleh orang tua siswa, pada saat guru tersebut sedang mengajar di kelas. Perlakuan miris itu diberitakan serentak di media cetak, online dan tv, peristiwa terjadi (20/10/2018) dialami oleh Makrina Bika (57) guru Bahasa Inggris dianiaya oleh Matheos Tuflasa (50) yang notabene-nya adalah ayah dari siswanya berinisial MT (17).
Saksi mata, Erens Tualaka (37), menuturkan kejadian itu terjadi disaat MT  siswi kelas XI IPA 4 berjalan melalui koridor sekolah menuju perpustakaan, lalu bersenggolan dengan guru Makrina Bika. Akibatnya, telepon genggam sang guru terjatuh, sementara MT terus berjalan tanpa mempedulikan peristiwa itu. Makrina kemudian mengikuti MT dengan maksud ingin menegur dan bertanya sambil mencolek pipinya. Diluar dugaan, justru MT menelpon ayahnya atas perlakuan gurunya dan lebih dari lima kali dengan suara keras, MT mengeluarkan makian dengan kata-kata kasar sambil menelpon ayahnya.
Anehnya, tak berselang lama, ketika memasuki jam keenam pelajaran, tiba-tiba sang ayah MT datang ke sekolah dengan serta merta masuk ke ruang kelas dan menganiaya sang guru yang sedang mengajar. Melihat perlakuan yang keterlaluan terhadap gurunya, maka spontanitas siswa berusaha menyelamatkan gurunya dari serangan orang asing itu. Mungkin, untuk menghindari terjadinya kegaduhan, maka pihak sekolah berinisiatif melaporkan kejadian itu kepihak Mapolsek Kelapa Lima, akhirnya pelaku terpaksa diamankan sementara sambil menunggu proses selanjutnya.

Ketegasan Sekolah
Akhirnya, pihak sekolah mengambil keputusan tegas dan  mengeluarkan siswi tersebut dari sekolah. Tidak bisa dipungkiri, siswa semakin kehilangan etika dan sopan santun terhadap teman, guru, keluarga bahkan ke orang tua sekalipun. Siswa tidak lagi menganggap gurunya sebagai teladan, panutan, seorang yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan sehingga patut dihormati dan disegani. Kondisi ini diperparah dengan adanya kesan “pembiaran” yang dilakukan oleh pihak sekolah atas perilaku menyimpang yang dilakukan siswanya. Sudah saatnya pihak sekolah menyiapkan peraturan dan persyaratan yang ketat terkait dengan tatatertib sekolah sejak penerimaan siswa baru.
Selama ini, masih ada kesan dari pihak sekolah belum mampu secara optimal menjalankan peraturan sekolah terkait dengan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pengelolaan, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, dan standar pembiayaan pendidikan sebagai delapan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di Indonesia. Seharusnya kriteria ini menjadi pengunci celah bagi para pihak, untuk “negoisasi” dan “terpaksa” menerima siswa yang kompetensinya rendah apalagi yang berperilaku nakal. Kemudian, untuk menjaga keseimbangan maka setiap orang tua siswa perlu membuat surat pernyataan yang menerangkan bahwa jika terjadi pelanggaran dan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anaknya atau orang tuanya, maka pihak sekolah berhak memberi sanksi sesuai dengan kaedah kepantasan dan kepatutan.

Profesi yang terancam
Profesi guru akan terus terancam, jika guru tidak mampu membuat terobosan secara bersama-sama untuk menjadi penyeimbang dalam status sosial, kesejahteraan, imunitas dan kewibawaan. Terjadinya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa dan remaja secara umum dikarenakan pergaulan, gadget dan teknologi yang sangat terbuka, mudah diakses oleh siapa saja, dan lemahnya pengawasan dari keluarga. Orang tua siswa mempunyai kesibukan dan pekerjaan yang menyita waktu, sehingga mengakibatkan kurangnya perhatiaan terhadap anak-anaknya. Orang tua tidak sempat lagi menayakan suasana sekolah anaknya, tidak sempat lagi menemani anaknya ketika mengerjakan PR, tidak sempat lagi mengantar anaknya ke sekolah. Hal ini dapat mengakibatkan anak terlalu bebas, terlalu liar, dan kehilangan pengawasan sehingga merasa sangat merdeka dalam menentukan sikap dan pilihannya.
Kondisi ini, dapat berakibat pada hilangnya sopan santun, lunturnya budaya hormat-menghormati, hilangnya rasa saling menghargai dan pudarnya rasa solidaritas. Bahkan kondisi dapat terjadi karena faktor; Pertama, status sosial siswa lebih tinggi dari gurunya, sang siswa berasal dari keluarga yang mapan, terpandang, apalagi orang tuanya sebagai pejabat di instansi pemerintah. Jadi, dengan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya membuat siswa tidak takut pada siapapun termasuk pada guru karena orangtuanya pasti akan mendukung anaknya.
Kedua, posisi ekonomi siswa lebih baik dari guru, hal ini banyak terjadi disekolah favorit dan internasional. Siswa akan memandang rendah gurunya, karena siswa ke sekolah dengan kendaraan mobil, sedangkan sang guru hanya naik sepeda motor, pakaian dan sepatu yang digunakan siswa lebih ‘branded’ dibandingkan gurunya. Ketiga, siswa lebih paham materi yang diajarkan oleh gurunya, bagi siswa yang serius belajar, mereka akan dapatkan materi lebih banyak dan update dengan cara kursus melalui lembaga bimbingan belajar atau privat. Hal ini memungkinkan siswa akan memberikan pandangan rendah terhadap gurunya.

Tugas guru tidak hanya sekadar mengajar, menunaikan kewajiban, memenuhi jam pelajaran, justru guru harus mampu menunjukkan kreativitas yang mumpuni, model pembelajaran fun, dan materi ajar yang terus di update. Sebagai pendidik, guru perlu menghadirkan kepekaan sosial,  rasa simpati dan empati, tanggungjawab, solidaritas dan berhimpun dalam wadah asosiasi guru. Orang tua/wali siswa hendaknya mampu menjaga silaturahmi secara intens dengan kepala sekolah dan dewan guru, menjalinan kerjasama, hadir ketika diundang, terutama pada saat pengambilan rapor. Pemerintah perlu hadir menfasilitasi sekolah untuk menyiapkan tenaga keamanan di setiap sekolah agar para tamu dapat difasilitasi dan dimediasi untuk mendapatkan informasi secara profesional dan proporsional. Waalahu’alam bissawaf.
artikel ini sudah pernah dimuat di kolom Opini Harian Babel Pos, halaman 8 tanggal 27 Oktober 2018.

Kamis, 25 Oktober 2018

Literasi Pendidikan Kependudukan di Perguruan Tinggi

Masalah kependudukan perlu disiapkan dan direncana secara sistematis dan komprehensif dengan mengikutsertakan semua pihak termasuk dunia pendidikan.  Isu dan upaya pemecahan masalah kependudukan sudah menjadi isu internasional sejak deklarasi kependudukan di PBB pada 1967. Studi kependudukan, berkenaan dengan tingkat kemakmuran masyarakat yang melingkupi dinamika kependudukan, penduduk usia produktif, penduduk usia lanjut, pemberdayaan ekonomi keluarga, sosial dan budaya, psikologi klinis, sejarah, dan tradisi hubungan antar individu.
Pendidikan kependudukan di lembaga pendidikan perlu diupaya secara strategis, untuk membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tentang kondisi kependudukan. Materi dasar kependudukan terkait dengan kelahiran, kematian, perpindahan, kesejahteraan, kesehatan dan lingkungan hidup. Pendidikan kependudukan diharapkan, agar masyarakat memiliki kepekaan sosial, bertanggungjawab dan ikut peduli dengan kualitas hidup generasi sekarang dan akan datang.
Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, menegaskan bahwa pembinaan dan pelayanan kependudukan dilakukan secara edukatif, komunikatif dan informatif. Kualitas kependudukan mencakup derajat kesehatan, tingkat pendidikan, kesempatan kerja, produktivitas, ketahanan keluaraga, kemandirian, dan kecerdasan lingkungan. Keberhasilan integrasi pendidikan kependudukan, menjadi konsep dan tolok ukur untuk mengembangkan kemampuan masyarakat dalam memaknai kehidupan, bertakwa, berbudaya, berkepribadian, dan berkebangsaan.

Literasi Pendidikan Kependudukan

Secara sederhana literasi adalah kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah. UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak dasar setiap orang untuk belajar sepanjang hayat. Literasi pendidikan kependudukan dapat dimaknai sebagai upaya pemerintah dalam mengintegrasikan nilai-nilai kependudukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Salah satu upaya pemerintah melalui BkkbN adalah mengintegrasikan pendidikan kependudukan dengan literasi secara terstruktur agar materi kependudukan dapat diterima secara masif dan berkelanjutan di masyarakat. Pelayanan diseminasi informasi kependudukan di lembaga pendidikan tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan perguruan tinggi perlu terus digalakkan. Pendidikan kependudukan di sekolah dilakukan secara formal melalui integrasi materi kependudukan pada mata pelajaran wajib sekolah seperti pendidikan agama, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, sejarah indonesia, bahasa indonesia, seni budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, dan mata pelajaran peminatan seperti geografi, sejarah, sosiologi dan antropologi, dan ekonomi.
Internalisasi program kependudukan kepada siswa dapat dilakukan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler seperti sekolah siaga kependudukan (SSK), gemar membaca, pelatihan guru, rumah belajar, bimbingan konseling, pojok kependudukan dan penyediaan materi digital.
Secara nonformal integrasi materi kependudukan dilakukan melalui Balai pendidikan dan pelatihan, seperti BPSDM, BPPKS, PKP2A-LAN, Lemhanas, balai diklat keagamaan, balai diklat BUPR, dll. Sedangkan jalur informal dapat dilakukan melalui pendidikan berbasis keluarga, lingkungan, kelompok usaha, karang taruna, penggiat seni dan tari, kelompok tani, masyarakat marginal, media massa, organisasi massa, organisasi kepemudaan, perhimpunan, ikatan alumni, dll.

Integrasi Kurikulum Perguruan Tinggi

Integrasi pendidikan kependudukan dalam kurikulum perguruan tinggi merupakan salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh pemerintah melalui direktorat kerjasama pendidikan kependudukan BkkbN. Pencangkokkan materi kependududkan dapat diintegrasikan pada mata kuliah wajib umum sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 35 Ayat 2, bahwa kurikulum pendidikan tinggi merupakan pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan wajib memuat mata kuliah agama, pancasila, kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia yang dilaksanakan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Upaya pengintegrasian menjadi penting agar mahasiswa memiliki wawasan mengenai kependudukan dan dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka pertumbuhan  penduduk. Hal ini, dapat dilakukan dengan materi ajar berupa konsep dasar kependudukan, isu dan masalah kependudukan, karakter penduduk berkebangsaan, tantangan usia produktif, masyarakat ekonomi ASEAN, urbanisasi, pembangunan perkotaan dan pedesaan, dan isu disabilitas.
Sementara itu, kegiatan dapat dilakukan mahasiswa dalam bentuk KKN tematik kependudukan, PKL/magang, kegiatan seni dan olah raga, kegiatan penelitian tingkat mahasiswa, lomba menulis karya ilmiah dengan tema kependudukan, penulisan skripsi/tesis tentang program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK), Pusat studi kependudukan, taman baca kependudukan, pojok kependudukan dan penyediaan materi kependudukan berbasis digital.
Dengan adanya pendidikan kependudukan tingkat perguruan tinggi, diharapkan mahasiswa sebagai agen perubahan dapat memiliki pengetahun, pemahaman, dan kecakapan tentang kependudukan. Hal ini penting, sebagai bekal bagi generasi muda untuk melahirkan kesadaran dan kepekaan kependudukan. Mahasiswa hendaknya mampu menikmati kehidupannya, menyiapkan rasa optimisme, memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi kemampuan dan kebutuhan generasi mendatang. Waalahu’alam bissawaf.

artikel ini sudah pernah dimuat di kolom Opini Harian Bangka Pos, halaman 7  tanggal 25 Oktober 2018.

Minggu, 21 Oktober 2018

KETIKA DIES TANPA ATRIBUT = KEBAHAGIAAN YANG TERLUPAKAN

(Refleksi Dies XIV IAIN SAS Bangka Belitung)

Hampir dapat dipastikan, sebagian besar anak melinial mesti ingat pada hari lahirnya, hari bahagia yang selalu dinanti, kedatangannya menjadi kerinduan disambut dengan gegap-gempita, penuh suka cita dan ada acara potong kue “tar” sebagai pertanda bertambah umur satu tahun. Tradisi memperingati hari lahir sudah menjadi tren dikalangan anak muda melinial, diumur ke 14 menjadi remaja yang sedang duduk di bangku SMP. Masa-masa tersebut menjadi masa penuh rasa, mungkin baru mengenal pasangan, mulai jatuh cinta, dan mencari jati diri sebagai remaja tanggung dengan penuh ceria. Diusia ke 14 merupakan usia bahagia yang sedang merajut benang menjadi tenun, meraih mimpi menjadi kenyataan, menjalin kasih menjadi sayang, menjaga irama menuju kekompakan, menangkan pertarungan menuju winner.
Simbol-simbol, simpul-simpul dan atribut kebahagiaan yang terlihat dengan adanya balon-balon terbang yang warna-warni, bak pelangi yang melengkung di atas menara gading kampus kami tercinta. Persiapan untuk itu, ternyata belum terlihat secara kasat mata, mungkin secara batiniah sudah dirancang dan akan menjadi kejutan di hari bahagia. Namun sampai dengan hari H+3 (18 Oktober 2004-18 oktober 2018) aura kebahagiaan belum terpancar, mungkin masih bersembunyi dalam relung hati yang sangat dalam sehingga sangat sulit diterka. Perayaan ulang tahun secara akademik disebut dies natalis, karena pada hari itu segenap civitas akademika mengekspresikan kebahagiaan atas keberhasilan kampus menggapai cita-cita.

Visi dan Misi Kampus

Sederhana saja mimpi itu akan menjadi kenyataan jika kita mimpikan ketika kita sedang terjaga, jika di kampus disebut visi. Visi dihadirkan untuk menjawab kenapa, kenapa kampus ini perlu hadir di Bangka Belitung, secara ilmiah dijawab untuk mendekatkan sarana pendidikan dengan masyarakat. Untuk mewujudkan mimpi besar itu perlu disiapkan jawaban, jawaban dari pertanyaan bagaimana caranya, dalam kaedah akademik disebut misi. Misi perlu dirumuskan dengan subjek yang operasional misalnya menghasilakan, melahirkan, menciptakan, act, semua jalan yang ditempuh akan menuju dan finish dipuncak piramida sebagai menara gading keilmuan.
Secara filosofis visi dan misi diarahkan kepada calon alumni yang disebut profil lulusan, lulusan dihadirkan untuk mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat, karena pada diri sarjana melekat steriotipe sebagai insan intelektual yang siap mempraktekkan sejumlah ilmu dan teori yang diterima di bangku kuliah. Ternyata, seorang sarjana, tidak sekadar mampu menjawab bagaimana...., justru harus mampu menjawab pertanyaan kenapa dan mengapa..., apabila mampu menjawab ketiga pertayaan tersebut maka ia akan menjadi sarjana sebagai calon pemimpin sejati.
Lalu, bagaimana caranya membekali mahasiswa agar mereka dapat menjawab pertanyaan bagaimana, kenapa dan mengapa ? Untuk mewujudkan keinginan itu, bukanlah hal yang gampang, justru itu perlu keseriusan tenaga pengajar dan ketekunan para mahasiswa dalam mengikuti proses pendidikan. Tenaga pengajar yang profesional, kurikulum yang tepat, sarana belajar yang mumpuni, persaingan mahasiswa yang kompetitif dan seterusnya, itu akan menjadi bagian terpenting dalam membangun tradisi akademik di kampus.
Ternyata, kemegahan gedung belum dapat dijadikan sebagai simbol “menara keunggulan intelektual” justru itu menjadi pertaruhan untuk menjawab berbagai tantangan baik di internal kampus maupun di masyarakat luas. Letak kampus yang strategis, anggaran yang cukup, mahasiswa yang membludak, ternyata belum cukup untuk menyebutkan bahwa kampus itu elit dan alumninya bonafit. Ketersediaan tenaga pengajar yang profesional dan materi ajar yang aktual menjadi penting untuk menjawab kebutuhan pasar dan itu menjadi bekal bagi mahasiswa kita untuk dapat bersaing secara sehat disetiap adaya peluang kerja.
Lowongan untuk jadi PNS sekarang ini, sesungguhnya bukanlah perkara mudah, dengan persyaratan yang super ketat, perlakuan dan seleksi berbasis CAT yang harus melampaui angka 75-80 dari 100 soal yang ditawarkan. Di sana membutuhkan daya juang dan bekal keilmuan yang interdisipliner untuk menjawab berbagai soal yang disiapkan oleh Menpan dan RB ketika ujian seleksi. Keinginan untuk menaklukkan formasi adalah dambaan dan cita-cita para sarjana, magister dan doktor untuk merebut kesempatan menjadi ASN atau tenaga PPK pada instansi pemerintah.

Komitmen Kampus 

Sejarah adalah masa lalu, yang perlu dikenang agar kita tidak lupa diri, yakinlah saat ini berawal dari masa lalu yang penuh heroik dan diperjuangkan dengan penuh dinamika dan romantika. Sejarah akan menjadi spion yang berfungsi sebagai pedoman, dan cermin untuk melihat dan memastikan bahwa dibelakang dalam kondisi aman dan jauh dari mara bahaya.
Sebagai pengemudi profesional dipastikan teknik melihat spion itu seperti kedipan mata saja, menatap spion cukup 1 sampai 2 detik saja, jika menatap spion terlalu lama dapat berakibat fatal dan berbahaya bagi penumpang dan kendaraan. Tetapi sebagai supir kawakan disarankan durasi dan siklus memantau kaca spion setiap 5 sampai 8 detik, lalu kenapa kita terlalu mudah melupakan masa lalu yang telah mengantarkan kita pada comfort zone (zona nyaman) saat ini. Ternyata sangat penting mengawasi kondisi dan keadaan di belakang karena keselamatan penumpang ada ditangan dan mata supir, dan penumpang juga harus yakin dengan kemampuan supir, jangan ragukan kemahiran supir apalagi “supir medan”.

Sebagai insan akademika, diberi tugas untuk mengembangkan dan meningkat pelayanan kepada civitas akademika, terutama mahasiswa sebagai konstituen yang mempunyau kedaulatan untuk menghitam-putihkan kampus. Untuk memberi pelayanan prima kepada masyarakat akademis maka hendaknya pihak kampus secara kolektif dan kolegial, perlu berpikir ke arah perbaikan mutu pendidikan dan distribusi alumni. 
Pertama; jemput dukungan gubernur, gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman sudah membuka pintu dengan kesediaan beliau hadir secara langsung dan menyampaikan orasi ilmiah dalam rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana ke 11 tanggal 28 November 2017 di Banka City Hotel. Dalam kesempatan itu, gubernur sangat mendukung penyelenggaraan pendidikan di kampus kita, gubernur juga memberikan beasiswa kepada lulusan berprestasi untuk melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa dari gubernur. Tidak hanya itu, Erzaldi Rosman juga menjanjikan akan membangun sarana ibadah di kampus hijau IAIN SAS Bangka Belitung, begitu besar dukungan pemerintah kepada kita, sekarang tugas kampus silakan jemput dan lengkapi semua dokumen yang dibutuhkan dengan menjalin komunikasi verbal dan non verbal.
Kedua, Rancang komitmen pemkab/pemkot, Jika gubernur sudah memulai, maka yakinlah pemerintah kabupaten/kota akan ikut berkomitmen untuk membantu kampus kita. Kita harus coba jalin kerja sama dan ajak  pemerintah kabupaten/kota  untuk membangun gedung pertemuan, ruang kelas, ruang sidang, laboratorium, ruang dosen dll. Nanti bantuan dari dari kabupaten Bangka dinamakan  dengan “aula sepintu sedulang” , Bangka Barat “ruang sidang sejiran setason” dan seterusnya. Jika misi ini dapat diwujudkan, maka yakinlah alumni IAIN SAS Bangka Belitung dapat berdiri tegak sejajar dengan alumni perguruan tinggi umum lainnya dan kasus ditolak berkas CPNS alumni TBI dan PIAUD akan menjadi catatan sejarah, sejurus dengan adanya pengakuan eksistensi dari pemerintah setempat.

Ketiga, perkuat jaringan, kampus perlu memperkuat jaringan dan relasi dengan instansi pemerintah terutama lembaga teknis dilevel dinas, badan dan kantor  agar kerjasama dapat ditindaklanjut secara secara operasional. Sambangi dan jalin kerjasama dengan BUMN, BUMD, perbankan, dan pelaku bisnis lainnya, agar memudahkan mahasiswa untuk PKL/mangang dan serapan alumni. Hal ini, perlu terus disosialisasikan agar dunia usaha seperti perbankan, perhotelan dan pariwisata, asuransi, mall dapat secara sinergis menumbuhkan budaya kemitraan dengan komitmen saling menguntungkan.
Keempat, Jaga integritas, kampus perlu menjaga integritas dihadapay publik, menjaga citra dan kepercayaan masyarakat perlu terus dirajut. Hal ini penting untuk menjadi daya tarik peminatan tamatan SMA sederajat untuk bersedia masuk dan kuliah di IAIN SAS Bangka Belitung. Pihak kampus dapat menjamin kenyamanan dan konstribusi kepada masyarakat di sekitar kampus, agar masyarakat sekitar merasa memiliki terhadap kampus.
Kelima, menjaga tradisi akademik, setiap dosen perlu terus mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme dalam proses belajar-mengajar, peningkatan penelitian dan pengabdian yang dapat bermanfaat secara langsung kepada masyarakat. Hal ini perlu ditradisikan sebagai jati diri dosen sebagai insan intelektual, menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dan tradisi saling menghargai baik di kampus maupun di masyarakat.
Keenam, bebaskan kampus dari intrik politik, meskipun terasa agak bombastis, namun hal ini perlu dijadikan pertimbangan agar sivitas akademika terasa lebih steril dan stabil dalam menjalankan rutinitasnya. Independensi kampus dan kebebasan akademik perlu ditunjukkan, agar wibawa dan demokrasi intelektual dapat terbagun dengan ramah, sehat dengan mengedepankan tradisi ilmiah. 
       Kita selalu dan do believe dengan kampus IAIN SAS Bangka Belitung , dalam membangun tradisi intelektual, semangat kreativitas, penguatan ilmiah dan penyediaan sumber daya manusia. Selamat hari jadi ke 14 IAIN SAS Bangka Belitung, kami civitas akademika dan alumni akan selalu hadir untuk menjaga mu, lekas dewasa karena baktimu ditunggu. waallahu’aklam bissawaf.



Selasa, 09 Oktober 2018

Pemerataan Pendidikan untuk Menjaga Keutuhan NKRI

Upaya pemerataan pendidikan tidak hanya tugas pemerintah, masyarakat perlu diajak dan diminta untuk ikutserta dalam rangka percepatan pemerataan pendidikan terutama di daerah kepulauan yang berstatus terluar, terdepan dan terpencil. Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa, pemerintah harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dengan penuh kesadaran para pendiri bangsa ini, mengamanatkan kepada pemerintah guna menjamin hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas. Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dan upaya pemerataan pendidikan di kota dan di desa bahkan wilayah kepulauan menjadi tanggungjawab pemerintah pusat dan pemerintah daearah termasuk masyarakat setempat.
Kita meyakini, bahwa pemerintah selalu berusaha untuk mencerdaskan anak bangsa, menyediakan gedung sekolah yang memadai, peningkatan kompetensi guru, peningkatan kesejahteraan guru, ketersediaan modul, buku ajar dan ketersediaan berbagai fasilitas pendukung termasuk IT. Hal ini dibuktikan dengan adanya klausul dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pemerintah perlu menyediakan anggaran minimal 20% dari APBN setiap tahun untuk penyelenggaraan pendidikan.

Kepulauan sebagai penyambung

Indonesia sebagai negara kepulauan, secara kasat mata menjadi salah satu kendala dalam memenuhi hak warga untuk mendapatkan pendidikan, jarak tempuh yang sangat jauh dan akses transportasi yang terbatas. Namun disisi lain, justru menjadi tantangan tersendiri, agar pemerintah dapat menyiapkan berbagai skenario untuk menyambung antar pulau yang ada di Indonesia, dengan jalur pendidikan.
Pendidikan menjadi wahana yang sangat objektif dalam membuka cakrawala tenaga pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan masyarakat tempatan termasuk diseminasi informasi kemajuan pembangunan Indonesia. Menjadi salah satu upaya dalam menumbuhkan rasa nasionalisme, karena guru hadir dengan semangat untuk mencerdaskan anak bangsa, memiliki kompetensi yang sama, bahasa pengantar yang sama, bahan dan materi ajar berpedoman pada buku yang sama dan disiapkan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan, dengan catatan tidak diperdagangkan.
Lembaga pendidikan akan melahirkan generasi yang memiliki tensi nasionalis yang mumpuni, cinta tanah air dan rela berkorban untuk bangsa dan negara.  Secara tegas konstitusi kita, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, menjadi warga negara yang demokratis serta ber­tanggung jawab.
Peserta didik sebagai investasi bangsa, mereka akan menjadi pewaris dan calon pemimpin masa depan. Pemerintah dengan program nawacita perlu menyiapkan regulasi yang kuat agar guru mempunyai jaminan hidup di daerah kepulauan, guru dapat hadir dengan wibawa tinggi dengan penghasilan yang lebih dari cukup sehingga pemerataan pendidikan menjadi jalan untuk mewujudkan nasionalisme bangsa.

Intervensi Pemerintah

Kehadiran pemerintah dalam pemerataan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa menjadi keharusan, pemerintah dengan konsep otonomi dapat menata pendidikan yang lebih baik. Pemerintah perlu hadir sebagai penyambung keberlanjutan pendidikan di wilayah kepulauan yang tergolong tertinggal, terluar dan terpencil. Setidaknya pemerintah dapat melakukan upaya sebagai berikut, Pertama menyiapkan infrastruktur pendidikan yang memadai, pemerintah perlu melakukan survei terhadap ketersediaan sarana fisik sekolah dan secepat mungkin menyediakan anggaran untuk membangun atau memperbaiki ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang laboratorium, perpustakaan, sarana ibadah dan sarana olah raga.
Kedua, menyiapkan guru yang profesional, pemerintah perlu melakukan pendataan terhadap guru yang belum memiliki sertifikat profesional dan sesegera mungkin melakukan pelatihan kepada guru dalam rangka penguatan pengembangan diri, penguatan metode pengajaran, ketrampilan memilih sumber pengajaran dan kreatifitas penggunaan alat peraga. Ketiga, penguatan tenaga kependidikan, pemerintah perlu melatih tenaga kependidikan agar administrasi sekolah semakin tertib, termasuk update data guru dan siswa yang dimasukkan dalam data base sekolah berbasis operator.
Keempat, jaminan penghasilan guru, guru yang berstatus PNS dipandang sudah sangat menjamin kehidupannya, namun bagi guru yang status honorer, kontrak dan bakti sepertinya nasib mereka tidak sebaik guru PNS. Namun rutinitas sekolah cendrung diperankan oleh guru yang bukan PNS. Sehingga masih ada guru yang pagi hari mengajar sementara sore atau malam hari kerja sampingan.
Kelima, pemerataan guru, kecenderungan guru masih keberatan ditempatkan di daerah kepulauan. Padahal pemerintah sudah memberikan penghasilan berupa gaji pokok, sertifikasi guru dan tunjangan daerah tertinggal. Meskipun berpenghasilan tiga kali gaji, namun masih ada oknum guru yang abai dan malah keberatan tinggal dikepulauan sehingga proses belajar mengajar menjadi terkendala, malah ada proses pendidikan terhenti karena tidak ada guru.
Keenam, siswa yang berkualitas, pemberdayaan peserta didik diarahkan dalam rangka melahirkan siswa ideal yakni siswa yang kreatif, inovatif dan mandiri. Pemerintah perlu menyiapkan beasiswa/bantuan pendidikan kepada siswa yang berprestasi, namun berekonomi lemah (miskin) dan tinggal dikepuluan terutama diperbatasan.
Upaya pemerintah dalam percepatan membuka akses ketertinggalan pendidikan di kepulauan, menyiapakan sarana dan sarana pendidikan, penguatan kapasitas guru, tersedianya buku ajar yang cukup dan kesejahteraan guru yang memadai. Maka hal ini, segera dioptimalkan agar anak didik dan warga kepulauan merasa bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga...
artikel ini sudah pernah dimuat di kolom Opini Harian Bangka Pos, halaman 6 tanggal 17 September 2018.

Kepala Sekolah dalam mewujudkan Guru Berprestasi

Kepala sekolah sebagai leader mempunyai peran strategis dalam upaya pengembangan dan peningkatan kompetensi guru, termasuk pengembangan keprofesian berkelanjutan. Kepala sekolah sebagai guru yang diberi tugas tambahan diharapkan mampu mengelola dan menjalankan manajemen sekolah dengan baik dan berkualitas.
Bila mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah, maka kepala sekolah sekurang-kurangnya memiliki lima kompetensi yaitu; kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Selanjutnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, diamanatkan agar kepala sekolah mampu merencanakan program supervisi akademik, mampu melaksanakan supervisi akademik dan mampu menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme.
Setiap kepala sekolah dalam merencanakan supervisi sudah dibekali dengan kompetensi manajerial ketika mengikuti pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah. Pembekalan tersebut dibimbing langsung oleh widyaiswara dari Badan Pengembangan Kepala Sekolah (BPKS), selaku satu-satunya lembaga yang berwenang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah.

Supervisi Kepala Sekolah

      Kompetensi supervisi kepala sekolah akan berjalan seiring, seimbang dan simultan, sebagai penguatan sistem untuk menggerakan potensi sekolah agar berjalan dengan stabil dan dinamis. Secara prinsip (Chaerul Rochman; 2011) menegaskan supervisi dilakukan untuk meningkatkan keterampilan kerja kelompok, kepemimpinan pendidikan, pengaturan personalia sekolah, dan penilaian kinerja. Supervisi dirancang khusus oleh kepala sekolah untuk membantu guru dalam menjalankan tugas fungsional di sekolah. Setiap guru harus diberi kesempatan untuk menggali ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuannya untuk memberikan pelayananan terbaik kepada peserta didik.
Pada prinsipnya semua kompetensi berperan penting dalam penguatan proses pembelajaran termasuk pembinaan kompetensi guru berbasis keberlanjutan. Pelaksanaan  supervisi akan sangat strategis bagi kepala sekolah dalam memahami tugas dan fungsi guru guna mewujudkan visi dan misi kepemimpinan sekolah. Proses penilaian kinerja profesionalisme guru, dilakukan secara periodik dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat. Supervisi dilakukan untuk memberikan bimbingan, bantuan, pengawasan dan penilaian agar guru mampu mengembangkan potensi diri dalam proses belajar-mengajar yang lebih baik dan berkualitas.

 Prestasi guru

Pengembangan keprofesian guru secara integral dan berkelanjutan menjadi salah satu bentuk aktualisasi tugas guru sebagai tenaga profesional. Pemerintah secara sadar memberi dukungan dengan menerbitkan aturan perundang-undangan, mulai UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2010 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.
Selanjutnya secara operasional adanya Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor : 03/V/PB/2010 Nomor  14 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Semua aturan tersebut menyebutkan secara eksplisit bahwa guru wajib melakukan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang meliputi unsur pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.
Pertama pengembangan diri, guru perlu mengikuti pendidikan dan pelatihan tambahan untuk upgrade diri, meningkatkan profesionalisme, untuk memenuhi standar profesinya. Pendidikan tambahan, berorientasi pada teori dan metode pembelajaran untuk menjawab why (mengapa?). Sedangkan pelatihan berorientasi pada praktek, untuk menjawab how (bagaimana?). guru perlu ikut serta dalam pertemuan ilmiah, workshop, lokakarya, seminar, koloqium, diskusi pannel dan pertemuan ilmiah yang lain.
Kedua publikasi ilmiah, setiap guru dikehendaki untuk lebih optimal dalam menulis karya ilmiah, baik hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK), tulisan ilmiah populer (opini), menulis buku pelajaran, modul/diktat pembelajaran, dan karya terjemahan. Karya ilmiah diterbitkan dalam jurnal ilmiah atau diseminarkan secara mandiri di sekolah sebagai pertanggungjawaban publik.
Ketiga karya inovatif, guru perlu didorong untuk menemukan hal baru sebagai kontribusi terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran, pengembangan alat peraga, model pembelajaran sains berbasis teknologi dan digital. Penemuan teknologi tepatguna, menciptakan karya seni, penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya.
Kepala sekolah perlu hadir dalam setiap proses pembelajaran, mendorong  peningkatan kompetensi guru, pengembangan minat siswa dan prestasi siswa. Supervisi kepala sekolah menjadi instrumen dan jembatan dalam memotivasi guru untuk selalu meningkatkan kompetensinya, menuju guru berprestasi. Wallahu’alambissawaf.
artikel ini sudah pernah dimuat di kolom Opini Harian Bangka Pos, halaman  tanggal 3 Oktober 2018.

Selasa, 30 Mei 2017

Bukit Menumbing, Soekarno dan Mobil Ford

di depan Pesanggrahan Menumbing

Tujuh sekawan, tersebutlah nama Soekarno, Mohd. Hatta, Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, Assa'at, Ali Sastroamidjodjo dan Moch Roem. Sebagai pejuang kemerdekaan, semangat patriotisme yang pantang menyerah, itu menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda. Itulah salah satu ketakutan sehingga sejak tanggal 22 Desember 1948 sampai dengan 7 Juli 1949.
Ketujuh sekawan ini diasingkan di Bukit Menumbing, Kota Muntok, Bangka sekarang masuk dalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengasingan para pejuang RI di Munumbing dilakukan oleh Belanda dalam 3 gelombang, Soekeorno sendiri berada pada gelombang terakhir setelah beliau diasingkan di Siantar dekat Danau Toba, Sumatra Utara.
Menumbing, begitu nama komplek vila yang letaknya pada ketinggian 445 di atas permukaan laut (dpl), sekira 12,7 KM dari Kota Muntok. Suasana hutan perawan menjadi pemandangan sepanjang jalan menuju bukit Menumbing lebih kurang 2,7 KM atau sekira 7-10 menit perjalanan dengan kendaran roda empat dalam keadaan mendaki. Maka sangat tepat bukit tersebut, pada masa pemerintahan Belanda tepatnya 1927-1930, menjadi tempat peristirahatan para pegawai perusahaan timah Bank Tinwinning Bedriff.
Ruang Kerja Bung Karno
 Suasana Bukit Menumbing sangatlah asri, mendukung untuk dijadikan tempat istirahat, suasana sejuk dan dingin menjadi lebih terasa, apalagi dikelilingi oleh hutan rimba yang hijau dengan kayu besar dan tinggi. Suasana hutan perawan menjadi pemandangan sepanjang jalan lebih kurang 2 KM atau sekira 7-10 menit perjalanan dengan kendaran roda empat dalam keadaan mendaki dengan ketinggian 445 di atas permukaan laut (dpl).
Bukit Menumbing, oleh pemerintah Bangka Barat dijadikan wilayah cagar alam/cagar budaya dan hutan lindung. Tidak dibenarkan memotong kayu dan mengolah lahan jadi kebun. Untuk itu pemerintah setempat hanya membuka akses satu-stunya jalan menuju bukit menumbing harus melewati pos satpam yang dijaga 24 jam.
Untuk bisa naik ke atas, kita perlu melapor kepada pos pengamanan dengan memberikan restribusi Rp.7000, kita langsung dikonekkan (dihubungkan) dengan pos yang ada diatas bukit dan sekaligus memastikan bahwa tidak ada mobil yang sedang turun/dalam perjalanan pulang.
Hellypad, pernah  mendaratkan Megawati (anak Bung Karno)
 berada di lantai 4 dan terbuka. 
Koordinasi secara baik dan detail perlu dilakukan karena mobil tidak dapat saling berpapasan di jalan antara bukit menumbing, karena jalan sangat sempit dan licin serta hanya dapat dilewati oleh satu mobil saja. Malah sebelum tahun 2000,  pemerintah setempat tidak memperkenankan mobil naik keatas bukit, penumpang/pengunjung hanya dapat berjalan kaki selama 2 jam untuk mencapai bukit menumbing.
Kiki sebagai salah seorang pramusaji menyebutkan, “kami harus hati-hati dalam melepas mobil turun, karena jalan sempit, kalau terjadi papasan dua mobil maka akan sangat berbahaya, dan dulu sering terjadi kecelakaan” jelas Kiki yang sudah 4 tahun bekerja di persanggrahan menumbing.
Pesanggrahan Menumbing merupakan bangunan megah dan elite pada zamannya. Bangunan yang mulai didirikan tahun 1929 ini awalnya ditempati para pejabat Banka Tin Winning (BTW), perusahaan pertambangan timah Belanda.
Gedung ini kemudian menjadi bagian dari ikon sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, karena Belanda pernah menjadikannya sebagai tempat pengasingan bagi para pemimpin RI.
Ada sebuah kamar di Pesanggrahan Menumbing yang disebut sebagai tempat Soekarno dan Hatta pernah tinggal. Dari pintu kamar, terdapat ruang berukuran sekitar 4x5 meter. Di dinding tembok putih menghadap ke pintu kamar, terdapat meja dan kursi yang semakin usang termakan usia. Kamar Bung Karno cukup sederhana, terdiri dari 2 kasur serta lemari dan kamar mandi.
Mobil Soekarno 
Sejumlah foto-foto kenangan tertempel rapi di ruang kerja Bung Karno. Lukisan bergambar Soekarno menempel di dinding sebelah kiri ranjang. Lemari kayu tiga pintu dan sebuah meja kayu ditempatkan di bawahnya. Kamar bernuasa putih dan beralas karpet coklat tampak nyaman untuk tempat beristirahat. Perabotannya masih asli, begitu pula letak tiap furniturenya. Foto-foto para pemimpin RI terpampang besar-besar di ruang pertemuan. Di ujung ruangan ini, terdapat mobil Ford Deluxe 8 silinder dengan plat BN 10. Mobil sedan kuno ini (orisinil) menjadi salah satu benda kenang-kenangan jejak proklamator yang paling sering diabadikan kamera para pengunjung Pesanggrahan Menumbing. (dbs)

Senin, 29 Mei 2017

Ramadhan Edukasi : Kemulian Orang Sabar

Setiap manusia mempunyai kesabaran, semakin tinggi kesabaran seseorang akan semakin tinggi kemuliaannya.  Kemuliaan bersumberdari Allah sebagai manifestasi nilai-nilai keislaman, semua nilai bersumber pada keimanan. Seorang muslim mempunyai sifat sabar sebagai karakteristik setiap muslim. Sabar sangat dekat dengan tawakkal, setiap orang yang tawakkah selalu bersikap istiqamah. Sabar, tawakkal dan istiqamah adalah karakter muslim yang selalu didambakan.
Sabar adalah senjata ampuh bagi seorang muslim yang taat. Seorang muslim, ketika menghadapi musibah selalu sabar karena yakin bahwa semua itu menjadi pelajaran dan datangnya dari Allah dengan tidak sia-sia. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (QS. Al-Baqarah : 45).  Tawakal merupakan salah satu buah dari keimanan. Setiap orang yang beriman memandang bahwa semua urusan kehidupan dan semua manfaat serta madharat ada di tangan Allah.
Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak akan kaget dengan segala kejutan. Hatinya akan tetap selalu tenang dan tenteram, karena ia yakin akan keadilan Allah Swt. Oleh sebab itu, Islam menetapkan bahwa iman harus diikuti oleh sikap tawakal. "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".[ QS. Al-Maidah : 23]
Cobaan dan tantangan akan terus menjadi bagian dari kesabaran, kehidupan dalam kesabaran  membuat hidup ini penuh dinamika, cobaan sebagai ujian naik kelas, semakin sering menghadapi cobaan dan dapat diselesaikan dengan benar sesuai waktu yang ditetapkan, maka yang demikian disebut orang berkelas. Jangan sebut diri orang hebat atau berkelas jika belum diuji dan terus diuji. (dbs)