Tampilkan postingan dengan label Standar gagasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Standar gagasan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2018

Al Washliyah Aceh, gelar turnamen futsal antar mahasiswa dan Pelajar

Pengurus Wilayah Al Washliyah Aceh menggelar turnamen futsal antar mahasiswa, sebagai salah satu agenda tahunan dalam rangka memeriahkan milad Al Washliyah ke 88. Pertandingan futsal berlangsung tanggal 24-25 November 2018 yang dipusatkan di lapangan Eleven Bineh krueng, Darussalam-Banda Aceh.
Ketua PW. Al Washliyah Aceh, Farid Wajdi Ibrahim menjelaskan turnamen futsal ini dilaksanakan dalam rangka memperingati milad Al Washliyah, yang puncaknya akan diperingati pada tanggal 30 November 2018 di Kampus Al Washliyah Rukoh. Turnamen ini, untuk memperebutkan piala bergilir Al Washliyah Cup I, semoga semua  tim untuk dapat bertanding secara fair dengan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas.
“kegiatan ini untuk mensyiarkan Al Washliyah, sekaligus menjalin silaturrahmi dengan rekan-rekan mahasiswa, futsal hanya sebagai jalan yang kita pilih untuk menjalin komunikasi dengan warga Washliyah, mahasiwa dan masyarakat sekitar, karena ini kegiatan anak muda, maka perlu kita jaga nilai-nilai sportifitas secara fair” sebut Farid (24/11) setelah tendangan pertama sebagai pertanda pertandingan dimulai.
Koordinator panitia bidang olah raga, Wahidi Johan menyebutkan, bahwa turnamen futsal Al Washliyah Cup I dalam rangka peringantan milad Al Washliyah ke 88 diikuti oleh 32 tim saja dengan usia pemain maksimal 22 tahun yang dibuktikan dengan KTP atau Kartu Pelajar. Sebenarnya respon mahasiswa dari berbagai BEM perguruan tinggi sangat baik, unsur pelajar tingakt SMA dan SMP juga ada, dan dari asrama mahasiswa peguyuban di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Animo peserta sangat tinggi untuk mengikuti futsal, namun panitia hanya menerima 32 tim karena keterbatasan waktu dan kesiapan panitia, sistem yang berlakukan gugur. Tahun depan akan kita terima dalam jumlah yang lebih besar dan waktunya disiapkan selama satu minggu.” Kata Wahidi menjelaskan.
Turnamen futsal ini untuk memperebutkan piala bergilir ketua PW. Al Washliyah Aceh, panitia  menyediakan hadiah berupa tropi, piagam dan uang pembinaan kepada juara I Rp.3 Juta, juara II, Rp.2 juta dan juara III, Rp.1 juta. Tidak hanya itu panitia juga menyediakan hadiah khusus kepada pemain terbaik, official terbaik, topscore dan beberapa katagori lainnya. Jelas Wahidi dengan penuh semangat.

Senin, 19 November 2018

Jelang milad ke 88: Al Washliyah Aceh gelar pelatihan menulis bagi mahasiswa

Sebagai intelektual muda, mahasiswa perlu terus mempertajam  dan mengasah kemampuan menulis. Menulis menjadi tradisi penting bagi mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan.
“Menulis menjadi tradisi akademik, maka perlu dilatih dan diasah agar mahasiswa memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, maka Al Washliyah Aceh hadir untuk itu” sebut koordinator panitia bidang Pelatihan karya tulis ilmiah, Syahrul Ridha, (17/11) disela-sela pembukaan di kampus Al Washliyah Banda Aceh.
Tradisi menulis dikalangan mahasiswa terkesan masih rendah, padahal mahasiswa dituntut untuk terus menulis berupa karya tulis ilmiah dalam rangka menyelesaikan studinya.
“kita perlu dorong agar mahasiswa dapat lebih cepat menyelesaikan tugas-tugas kuliah termasuk skripsi, kedepan, akan melahirkan generasi yang mempunyai skill dalam melahirkan karya ilmiah yang baik dan berkualitas” pinta Syahrul yang juga sebagai Dosen Tetap STKIP Al Washliyah Banda Aceh.
Sementara itu, Sekretaris Al Washliyah Aceh, Baharuddin AR dalam sambutannya meminta kepada panitia agar kegiatan ini perlu dilaksanakan setiap tahun. Menulis merupakan perintah Allah yang menjadi keharusan bagi kita semua, sekarang mahasiswa dan kader Al Washliyah sudah semestinya untuk terus meningkatkan dan bergiat diri untuk menulis.
“setiap mahasiswa diwajibkan menulis agar dapat lebih cepat menyelesaikan studinya, karya-karya mahasiswa ini nantikan kita jadi jurnal atau proseding dalam bentuk agar dapat dibaca oleh banyak orang” pinta Bahar dengan nada optimis.
Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa, diikuti oleh 92 mahasiwa dari berbagai kampus di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk membekali mahasiswa, panitia menghadirkan pemateri Hasanuddin, Syarul Ridha dan Evi Mauliza. Agar menghasilkan karya ilmiah yang baik, panitia membagi peserta dalam 10 kelompok untuk memudahkan pendampingan dan proses bimbingan dari dosen ahli selama satu pekan.

Rabu, 26 Juli 2017

Kesbangpol gelar FGD pemetaan rawan konflik di Babel


Potensi konflik sosial di masyarakat akan terjadi kapan saja dan di mana saja, semua masyarakat berkeinginan agar daerahnya aman, nyaman dan terbebas dari konflik. Keinganan tersebut disahuti oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Babel, untuk melaksanakan penelitian pemetaan daerah rawan konflik di Bangka Belitung. Untuk mendapatkan masukan dan informasi awal maka Kesbangpol Babel menggelar Focus Group Discution (FGD) (26/7) di Bangka City Hotel, Pangkalpinag.
FGD: Kepala Kesbangpol Babel Drs. Tarmin, M. Si
dan Direktur Pusaka Dr. Abdul Ghofar, hadir dan memberi sambutan 
dalam pembukaan FGD Pemetaan Daerah Rawan Konflik di Bangka Belitung, 
Rabu (26/7) di Bangka City Hotel-Pangkalpinang. (Foto/Jam)
Dalam kesempatan itu hadir kepala Kesbangpol Babel Drs. Tarmin, M. Si, dalam sambutan pembukaanya menyebutkan bahwa kegiatan pemetaan daerah rawan konflik ini merupakan amanah sebagaimana yang sudah diinstruksikan oleh Gubernur. Meski secara keseluruhan, kondisi sosial Babel boleh dikatakan aman, namun pemetaan daerah rawan konflik tetap penting untuk dilakukan. "Persoalan konflik merupakan persoalan sosial. Selama dinamika sosial terus berjalan, maka munculnya konflik tetap berpotensi," kata Tarmin.
Penelitian pemetaan daerah rawan konflik, merupakan kerjasama Kesbangpol Babel  dengan Pusat Studi Kependudukan dan Keagamaan (Pusaka) STAIN Babel, akan dilaksanakan selam 4 bulan kedepan, diharapakan dapat menghasilkan gambaran tentang daerah konflik dan jenis konflik yang akan terjadi.
Direktur Pusaka STAIN SAS Babel Dr. Abdul Ghofar , menegaskan kepada tim teknis peneliti di lapangan, setidaknya ada empat fokus penggalian data. Pertama  tim lapangan lebih fokus kepada di mana konflik pernah dan berpotensi untuk terjadi konflik, Kedua, apa pemicunya,  Ketiga, siapa pelakunya,  Keempat gambaran kondisi daerah rawan konflik itu, saat ini.
"Dalam penggalian data, kami minta kepada tim di lapangan untuk lebih fokus kepada di mana konflik pernah dan berpotensi untuk terjadi konflik, jadi kita tidak masuk dalam konflik itu sendiri. Perlu diingat kawan-kawan tim teknis, bahwa kegiatan ini adalah pemetaan daerah" tegas Abdul Ghofar.
Sementara itu Kepala Bidang Kewaspadaan Kesbangpol Babel, Riswardi,  mengungkapkan, sejauh ini, penanganan konflik di Bangka Belitung, khususnya, baru pada tahap pencegahan dan penghentian. "Kita menginginkan, selain pencegahan dan penghentian, juga ada tindakan pemulihan pasca konflik," jelas Riswardi

Kamis, 07 November 2013

SEMUA PIHAK PERLU LEBIH BIJAK


Insiden walk out dari mahasiswa wisma foba pada pertemuan dengan yayasan Wisma Mahasiswa Pelajar Indonesia (WMPI), tanggal 2 November 2013 di Mess Aceh-Jakarta Pusat, justru dikarenakan lemahnya sirkulasi informasi tentang rencana pembangunan wisma foba.
Seharusnya insiden itu tidak perlu terjadi,  namun nasi sudah jadi bubur, mungkin informasi yang diperoleh penghuni wisma foba sangat terbatas, apalagi belum ada sosialisasi sebelumnya tentang rencana pembangunan wisma foba.
Seyogiyanya, pihak WMPI perlu lebih arif dan bijak dalam menyingkapi aksi walk out teman-teman penghuni asrama foba, tidak perlu menuding apalagu menuduh. Mengkomunikasikan rencana alih fungsi aset foba, sebaiknya dilakukan secara maraton dan masif dengan melibatkan semua pihak. Apalagi mahasiswa foba, selaku penerima manfaat, perlu lebih inters untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan, termasuk mekanisme pembangunan dan keberlanjutan nasib penghuni asrama wisma foba.
Mungkin, Pengurus Taman Iskandar Muda (TIM) selaku lembaga paguyuban Aceh di Jakarta, dapat menfasilitasi para pihak untuk duduk satu meja dan membicarakan persoalan ini dengan melibatkan semua elemen dan komponen masyarakat Aceh yang ada di Jakarta. Sebaiknya masalah ini dapat segera dicarikan solusi yang strategis, bila perlu pengurus TIM dapat menfasilitasi pertemuan lintas elemen masyarakat Aceh termasuk pemuda dan Mahasiswa Aceh yang ada di Jakarta.
Sebelum ada kata-kata sepakat, maka semua pihak perlu menahan diri, karena ini terkait dengan pemanfaatan asset masyarakat Aceh di Jakarta. Seyogiyanya pihak yayasan selaku pemangku kepentingan, juga perlu melakukan pendekatan secara arif dengan rekan-rekan mahasiswa penghuni wisma foba, jangan ada kesan memaksa kehendak.
Kalau memang, pembangunan ini untuk kemashlatan mahasiswa dan masyarakat Aceh di Jakarta, maka semua pihak perlu dilibatkan dan terbuka agar hasilnya dapat diterima oleh semua komponen dan elemen masyarakat Aceh yang ada di Jakarta, berpikirlah untuk 30-50 tahun yang akan datang. Jangan ada dusta diatara kita.

Minggu, 10 Maret 2013

KOMUNITAS ASRAMA

Tulisan ini hanya sekadar ilustrasi, tidak bermaksud untuk memihak apalagi menyudutkan seseorang atau satu pihak, apalagi memvonis yang berakibat pada fitnah yang berakhir pada provokasi. Komunitas asrama, menjadi kehidupan yang unik dan penuh ekspresi. Banyak hal yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam keseharian, mulai dari tradisi kebersamaan, loyalitas, kerja sama tim, toleransi, saling menghirmati, saling menjaga nama baik dan senasib sepenangungan.
Kondisi ini juga terjadi pada komunitas asrama FOBA. Asrama yang dikenal dengan sebutan WISMA FOBA berada di seputaran Setia Budi pusat Kota Jakarta. Asrama yang dihuni oleh 60-an mahasiswa yang sedang melanjutkan studi kejenjang sarjana dan pascasarjana di berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya. Dengan dinamika yang berbingkai keceriaan dan kebersahajaan terpatri positif pada setiap canda dan tawa warga. Suasana penuh keakraban dan tatapan masa depan yang lebih menjanjikan menjadi teman setia dalam meniti langkah menuju kepastiaan dan kebahagiaan.
FOBA, nama indah, penuh sejarah, mudah diingat,dan dirindukan oleh banyak orang, dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak boleh ada pihak yang menodainya. Kalaupun itu terjadi, maka perlu diselesaikan dengan bijak dalam bingkai kolektif kolegial. Kemaslahatan bersama menjadi titik focus dalam mengambil keputusan, nilai-nilai keakraban dan kekompakan menjadi fondasi dalam menggulirkan rasa kebersamaan. Seyogianya setiap masalah besar perlu dikecilkan, beban kecil mesti dapat dihilangkan. Silang pendapat dan gesekan menjadi bumbu yang melahirkan citra rasa sehingga memperkuat tradisi intelektual yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah.
Sebagai komunitas kaum terpelajar, rasa independensi akan menjadi warna yang dinamis sehingga melahirkan pelangi yang indah dipandang, namun perlu diingat pelangi itu hadir karena adanya percikan hujan. Pelangi, menjadi pertanda hujan akan segera berakhir, bak pepatah “Kesalahan akan menjadi pelajaran untuk masa depan, jangat takut berbuat salah selama salah itu tidak direncanakan. Kesalahan hanya terlihat pada akibat, bukan pada sebab, seharusnya jangan tanya mengapa dia mencuri, justru yang perlu ditanya kenapa dia mencuri. Orang bijak selalu berfikir positif dan akan bertanya kenapa…, orang yang berambisi selalu bertanya mengapa…, dan selalu mencari pembenaran, meskipun kesalahan diri sudah secara terang bederang, terbuka di depan umum.
Tugas besar dan berat bagi komunitas asrama adalah memulai sesuatu yang baru, karena terkangkangi oleh tradisisebagai pembenaran dalam bersikap yang sudah turun temurun, meskipun itu sudah tidak up date lagi. Upaya reformasi perlu terus dilakukan sebagai salah satu tridarma kalum intelektual, meskipun akan ada pertentangan dan pergolakan dari kaum yang mempertahankan status Quo. Sebagai tangggung jawab moral, semua pihak perlu berfikir strategis untuk menjaga kesinambungan dan kekompakan warga asrama, meskipun itu juga akan mendapat celaan dan nada miring dari pihak yang mengaku diri sebagai reformis. Tradisi dan kecendrungan warga asrama selalu berada pada tataran menjaga dan mempertahankan eksistensi diri dengan membentuk atau bergabung dengan komunitas tertentu.
FOBA sebagai asrama yang sudah melahirkan banyak orang-orang cerdas dan sukses di level regional, nasional dan bahkan internasional. Maka wajar saja dinamika sudah menjadi pelangi yang mewarnai komunitas FOBA.
Secara kasat mata dan kecendrungan paling tidak ada 3 komunitas yang mewacana dalm kehidupan komunitas. Pertama komunitas Mushalla yang selalu setia hadir pada setiap kegiatan keagamaan, paling tidak ketika azan berkumandang, komunitas ini selalu berfikir menunaikan kewajiban adalah hal yang utama sembari bermunajat kepada yang maha kuasa.
Kedua komunitas pante jaga yang selalu diisi oleh orang-orang yang sudah aman pada level pertama, misalnya sudah taman kuliah, berpenghasilan cukup, belum ada tanggungan, dan selalu berfikir atas obsesi dan kebanggan sembari berdiskusi kritis (pohcakra) dengan tamu yang ditemani teman-teman komunitasnya.
Ketiga komunitas kasur, komunitas ini menjadi unik karena setiap hari hanya dikamar saja, mungkin sedang istirahat atau baca buku, buka internetan cari bahan kuliah atau informasi peluang beasiswa, jarang berfikir apa yang terjadi diluar, masa bodoh dengan keadaan selingka.
Setiap komunitas mempunyai tradisi menjaga jati diri dengan loyalitas yang tinggi, terutama dalam menjaga nama baik wadah dan konstituennya. Hal ini menjadi kebanggaan yang sekaligus menjadi tradisi fenomenal dalam menghadapi berbagai tantangan. Hanya saja jangan terlalu bangga dengan ashabiyah yang dapat mengekang selera reformasi dan libido demokrasi. Wallahu’alam bissawaf.

Kamis, 05 Januari 2012

ROMANTIKA : HARI PERTAMA KERJA TAHUN 2012

Mungkin menjadi hari bersejarah bagi PNS Dosen, tenaga struktural dan tenaga honorer di lingkungan STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Pasalnya pada pagi Hari Senin, tanggal 2 Januari 2012 merupakan hari kepastian tentang komposisi dan personalia dalam struktur kepemimpinan di STAIN. Tidak hanya itu dalam kesempatan tersebut, juga dipertegas terkait penetapan tiga pembantu ketua, tiga Ketua Jurusan, dua Kepala Pusat dan dua kepala Unit pendukung. Tidak hanya itu, lima Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi, bahkan tenaga honorer juga diacak sesuai kompetensi masing-masing, malah ada satu orang tenaga honorer yang diberhentikan juga menjadi informasi penting pada hari itu.
Undangan pembagian Surat Keputusan ketua STAIN tentang job description dijadwalkan pada pukul 10.00 WIB, itu tertera jalas pada undangan yang saya peroleh pada pagi hari senin tersebut. Undangan itu, sepertinya semua dititipkan di meja kerja masing-masing dosen yang ditandatangani langsung Prof Dr. Imam Malik, M. Ag selaku ketua STAIN.
Setelah saya membaca undangan, lalu saya berharap bisa memenuhi undangan tersebut tepat waktu, namun pada hari dan jam yang sama saya harus melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS). Atas pertimbangan mendahului kepentingan mahasiswa jauh lebih bijak dan terhormat, maka saya secara otomatis bergegas masuk ruang dan membagikan soal kepada mahasiswa yang sudah menunggu di kelas.
Setelah semua lembaran jawaban dikumpulkan mahasiswa, jam sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB, meskipun agak terlambat saya bergegas menuju gedung rektorat lantai 2 sebagai tempat digelarnya pertemuan. Kertika saya melangkahkan kaki menaiki tangga menuju ruang pertemuan yang terletak di lantai 2 saya melihat beberapa satpam berdiri mematung disisi kiri kanan pintu masuk ruang pertemuan, karena terlambat saya mencoba memantau keadaan ruang rapat yang sudah dipenuhi oleh peserta rapat. Dari luar ruangan lewat celah jendela kaca saya melihat salah seorang staf umum sedang memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya dan semua peserta terlihat berdiri penuh rasa hormat termasuk pimpinan.
Sebagai rasa hormat saya menahan diri untuk tidak langsung masuk ruangan, sembari menunggu selesainya alunan lagu Indonesia Raya. Meskipun dari luar, sebagai orang Indonesia dengan rasa nasionalisme tinggi saya tetap khitmad mengikuti dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya berpikir ini menjadi hari yang luar biasa kerena dihari pertama kerja kita disuguhi lagu Indonesia Raya yang sudah kita hafal sejak sekolah dasar. Namun saya tetap membatin ini mungkin semangat baru sebagai perekat bagi semua civitas akademika menuju terwujudnya visi STAIN yang unggul bidang intelektual dan moral.
Ketika lagu Indonesia Raya berakhir, saya siap-siap menuju pintu masuk, tetapi justru dirijen melanjutkan dengan lagu “padamu negeri”, seketika itu juga, rasa penasaran terus berkecamuk di hati, lalu saya bergumam apakah ini menjadi pertanda kesetian, komitemen, loyalitas kita kepada negeri ini sudah mulai memudar, sehingga kita perlu diiringi dengan lagu padamu negeri sebagai bukti pengambdian… wallahu’alam.
Setelah padamu negeri berakhir dan semua peserta duduk kembali, saya bergegas masuk dan melihat hampir semua kursi sudah terisi dan hanya ada dua kursi yang kosong persisi disisi kanan Ketua STAIN, lalu dengan penuh percaya diri saya menuju kursi yang kosong tersebut, lalu duduk dengan memberi seyum dan rasa hormat kepada ketua. Tidak lama setelah saya duduk terdengar MC membacakan teks yang meminta kepada ketua STAIN untuk menyampaikan sambutan. Dengan sigap ketua STAIN yang juga guru besar bidang Ilmu Pendidikan Islam, memulai sambutannya.
Ketua mengawali sambutannya dengan mukaddimah dan penghormatan, lalu dengan nada jelas dan lugas menyampaikan ucapan ucapan terimakasih kepada pejabat yang sudah membantu dalam memajukan STAIN pada tahun 2011. Lalu dilanjutkan dengan ucapan terimakasih kepada para pejabat yang sudah terpilih untuk tahun 2012, dengan harapan sesuai kompetensi yang dimiliki diyakini dapat menjalankan tugas sesuai tugas pokok dan fungsi yang sudah digariskan dalam aturan perundang-undangan, minimal 8 aitem seperti tertuang dalam daftar penilaian prestasi pegawai (DP3).
Tidak hanya itu ketua juga memohon do’a restu kepada semua civitas akademika agar dengan sadar dan penuh tanggung jawab menjalankan beban tugas untuk pencapaian visi dan misi STAIN seperti yang sudah dietapkan oleh para sesupuh. Selanjutnya beliau juga menyebutkan tiada gading yang tak retak, lidi bercerai tak akan kuat, selamat berjuang kepada semua pejabat yang sudah diberi kepercayaan, semoga menjadi yang terbaik dengan menunjukkan prestasi. Dan ketua menutup sambutan dalam keadaan hening tanpa tepuk tangan dan semua peserta seperti tertegun membisu.
Selanjutnya giliran kepala bagian administrasi Drs. Asadi memberi sambutan. Pada kesempatan itu ia berpesan kepada semua peserta untuk dapat melaksanakan amanah yang telah diberikan sesuai Surat Keputusan Ketua STAIN dengan jujur dan baik. Karena dosen dan pegawai yang ada pada saat ini, pada prinsipnya tidak ada yang mengundang untuk mandaftar sebagai dosen dan pegawai di STAIN, semuanya dulu mendaftarkan diri dan tidak ada paksaan.
Oleh karena itu, STAIN ini menjadi milik kita semua, perlu ada rasa memiliki yang tinggi, disamping sebagai tempat mencari rezeki, kita juga memenuhi kewajiban minimal 8 jam perhari. Apabila kurang dari itu maka itu digolongkan sebagai korupsi, haram, zalim oleh karena itu seyogianya para dosen dan pejabat tidak perlu ngomel-ngomel hak dan kewajiban berbanding lurus dengan hasil kerja kita.
Sejurus dengan itu kabag juga menyampaikan bahwa yang di SK-kan pada hari ini sebagian besar adalah Pejabat pelaksana tugas (Plt) artinya satu hari setelah ada pejabat defenitif maka dengan sendirinya pejabat Plt. berakhir dari tugas alias lengser. Secara normatif setiap SK itu ada poin yang menyatakan bahwa apabila ada kekeliruan akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Maka apabila ada yang keberatan silakan menuntut keadilan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Karena SK ini dikeluarkan atas konsultasi dengan pak Kohar dan Pak Zain selaku pejabat berwenang di Kementerian Agama RI.
Kabag juga mengharapkan kepada Ketua agar membuat secara rinci tugas dan batasan kewenangan bagi masing-masing pejabat agar semua menjadi jelas dan tegas. Memang selama ini setiap SK yang dikeluarkan oleh Ketua STAIN belum dilengkapi dengan rincian tugas yang jelas, hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih wewenang dan kewenangan antar masing-masing pejabat di lingkungan STAIN.
Tidak hanya itu kasus dosen yang sedang tugas belajar dan izin belajar juga perlu dipertegas agar tidak muncul kekhawatiran, mengingat tugas belajar mempunyai konsekwensi untuk meningalkan tugas dan tidak boleh menjabat. Bagi yang sedang tugas belajar hanya berkonsentrasi pada pendidikan setelah selesai silakan kembali dan melaksanakan tugas seperti biasa. Sementara bagi dosen yang sedang izin belajar hanya dapat dibenarkan untuk dosen yang melanjutkan studinya dalam wilayah Kepulauan Bangka Belitung saja, sementara diluar itu dinyatakan melanggar.
Sedangkan bagi dosen yang fungsionalnya belum dapat diproses maka akan dilanjutkan pada awal Bulan Januri tahun ini, sedangkan bagi yang PNS-nya pada Bulan April, maka fungsionalnya akan kita proses pada bulan Februari 2012.
Setelah penyampaian sambutan kabag, scemoni dilanjutkan dengan pembacaan do’a yang dipandu oleh pak Sobri yang dilanjutkan dengan pembagian SK kepada para pejabat dan staf yang dilakukan oleh Ibu Farina selaku kasubbang Umum dan Kepegawaian.
Pasca pembagian SK, suasana terlihat ramai, masing-masing penerima SK terlihat saling memberi komentar dan apresiasi kepada teman yang kebutulan mendapat promosi jabatan. Dan lain halnya dengan pejabat yang belum mendapat promosi terlihat tidak ekspresif, malah yang dinonjobkan dari jabatannya terlihat santai seperti membisu, mungkin juga berfikir terlepas dari jeratan dan terbebas dari siklus.
Bagi yang mendapat promosi kita ucapkan selamat dan berdedikasi, sementara bagi yang bertahan kita ucapkan selamat bekerja. Sedangkankan yang lagi diuji non job, maka kita ucapkan selamat berdikari. Selagi masih bisa, maka berkaryalah tanpa henti, jangan nunggu besok, karena ada pameo yang mengatakan “Kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi”

Selasa, 27 September 2011

SEHAT DAN CERDAS MEMILIH SIARAN TV

Hampir setiap rumah penduduk di Aceh memiliki televisi (TV), kecuali hanya orang-orang yang mampu menyakinkan anggota keluarganya saja yang mungkin TV lebih berdampak negatif di bandingkan manfaatnya, sehingga TV tidak perlu ada di rumah. Tidak hanya di rumah-rumah warga, diwarung kopipun televisi tersedia sehingga dengan adanya TV warung akan terasa lebih lengkap. Bahkan sekarang ini sudah menjadi tradisi di kantor-kantor pemerintahpun dilengkapi dengan TV. Lalu bagaimana kita menyakinkan keluarga, sahabat dan kolega agar lebih sehat dan cerdas dalam memilih siaran TV?
Isi siaran TV sangatlah berangam semua itu tersaji secara gratis dan dapat diterima di kamar kita masing-masing, malah sekarang ini dengan kemajuan teknologi siaran tersebut juga dapat diakses lewat telepon selululer dan internet. Namun kadang-kadang kita lupa bahkan cendrung terlena dengan indahnya kemasan sebuah tanyangan, padahal itu dapat mengakibatkan kecanduan.
Memang diakui, TV memiliki peran ganda seperti dua sisi mata uang, ada untung dan ruginya, sangat tergantung pada kemampuan mengendalikan remote control sehingga siaran TV lebih bermanfaat. Siaran TV akan memberi manfaat bila diberengi dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai tentang konten (isi) siaran TV. Ada siaran yang cocok dan tepat ditonton untuk anak-anak, remaja, dewasa atau semua umur, sangat tergantung pada kecakapan orang tua untuk membimbing keluaraganya agar TV akan lebih bermanfaat. Memilih siaran TV yang cocok dan sesuai dengan klasifikasi tersebut menjadi alasan penting, agar kita dapat memastikan bahwa TV lebih bermanfaat untuk informasi, pendidikan, hiburan dan sosial. Tidak dapat dipungkiri, sejurus dengan kelebihan siaran TV, ternyata memiliki kelemahan yang membawa anggota keluarga (pemirsa) menjadi malapeteka bila tidak dikawal dengan baik oleh kepala keluarga.
Perlu dikhawatirkan kencaduan menonton TV seperti menonton senetron atau berita investigasi tentang selebritis, akan melahirkan rasa malas dan menyita waktu berjam-jam di depan TV. Hal ini dinyakini tidak baik dan akan berakibat pada lemahnya etos kerja. Semua itu disebabkan oleh keahlian yang dimiliki oleh manajemen produksi TV dengan mengandalkan audio dan visual (pernyataan dan gambar). Tanpa dinyana sebagian besar waktu istirahat kita tersita di depan TV.
Di lain waktu kita terkesan seperti dininabobokan oleh trik dan gaya penayangan sebuah liputan, kita kadang-kadang lupa bahwa itu semua dilakukan dengan mengedepankan editing dan style dari manajemen produksi sebuah siaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa, pihak entertainment sebagai sebuah perusahaan akan selalu berpikir tentang bisnis dan keuntungan. Kondisi itu menjadi harga mati demi keberlanjutan dan kehidupan perusahaanya. Namun kadang-kadang pihak produksi lupa dengan etika jurnalistik dan kaedah penyiaran.
Kecendrungan media TV nasional dan lokal lebih berpikir reting dibandingkan etika penyiaran, sebut saja penanyangan senetron, layar lebar, klip lagu dan berita-berita yang cendrung menampilkan peristiwa ironis seperti mutilasi, korban pembunuhan, perkosaan dan tawuran. Kadang-kadang semua itu di sajikan dengan sangat vulgar tanpa ada proteksi dari pihak produksi, padahal etika dan prinsip jurnalistik menuntun para jurnalis untuk lebih peka terhadap kemumungkinan baik atau buruk bagi pemirsa.
Sekarang ini TV hampir menjadi guru yang kedua setelah guru di sekolah bagi anak-anak. Semua yang tersaji di TV akan ditiru oleh anak-anak terutama adegan kekerasan, pernyataan jorok hingga adegan mesum lainya. Pada prinsipnya hal itu tidak melampaui batas-batas dan kaedah penyiaran, namun secara etika penyiaran, hal ini dapat menggagu pemirsa dalam menentukan sikap. Dengan seringnya menonton adegan pembunuhan, intrik dan berita saling serang di forum dialog akan membentuk image bagi masyarakat bahwa hal itu menjadi baik dan dibolehkan.

Tidak tertutup kemungkinan pengalaman menonton berbagai adegan yang ditanyangkan akan dijadikan pengalaman baru bagi pemirsa terutama anak-anak, sehingga dikhawatirkan itu menjadi pembenaran dalam keseharian mereka. Kondisi ini dapat diperparah lagi bila terjadi pembiaran, justru peran orang tua perlu dimaksimalkan termasuk dukungan pihak yang konsen bergerak dibidang melek media dan perlindungan anak.

Semua kita berpotensi untuk menjadi teuladan, sekaligus menjadi penjahat dalam tanda petik, mengingat potensi itu sudah ada sejak kita dilahirkan. Pada prinsipnya semua manusia perlu dihargai dan dihormati, meskipun dilain pihak kebebasan seseorang akan dibatasi oleh kepentingan orang lain.

Kemajuan teknologi memaksa setiap orang untuk berhati-hati dengan perkembangan dunia penyiaran, televisi, radio, internet dan fasilitas komunikasi, tidak cukup sampai disitu semua orang juga harus mempunyai dan mempelajari setiap perkembangan yang ada pada perangkat komunikasi termasuk handphone.
Perubahan akan kelihatan pada masyarakat yang cendrung idola dengan seseorang atau benci dengan seseorang. Hal itu perlu dipikirkan kebelajutan dari akses ini semua, idealnya semua masyarakat perlu terlibat secara langsung dalam upaya membentengi diri dan advokasi agar generasi yang akan datang dapat terselamatkan dari bobolnya akses informasi yang tak terkendali. Semua kita berharap generasi yang akan datang akan lebih baik dan tidak ternodai oleh kebebasan hak mengeluarkan pendapat, usul dan saran yang disiarkan oleh media penyiaran. Maka, pemerintah, organisasi masyarakat, LSM, guru, ulama harus diajak untuk bersama-sama memberi konstribusi positif sesuai tugas dan fungsinya, untuk membentegi diri, kelompok dan teman sejawat untuk memilih konten siaran yang sehat, cerdas dan aman serta nyaman.

Rabu, 05 Januari 2011

KEARIFAN SANG PEMIMPIN

Tulisan ini lahir, setelah 19 hari 8 jam 25 menit atau sebanding dengan 27.540 detik tidak muncul tulisan untuk mengisi blog ini. Alasan kesempatan dan waktu selalu menjadi halangan, meskipun sesungguhnya itu tidak menjadi satu-satunya alasan untuk pembenaran. Sebagai akademisi yang memiliki exspertasi tinggi dengan mobilitas yang memadai, alasan kesibukan tidaklah menjadi ukuran untuk menyatakan bahwa alasan tidak dapat...melakukan sesuatu, apalagi menjadi justifikasi sehingga memperoleh kelonggaran dari para pihak.

Seorang pemimpin hendaknya tidak harus mengeluh karena alasan waktu, kesibukan dengan alasan memenuhi undangan, mengikuti rapat. Menyelesaikan tugas tambahan dari... atau bahkan mencari order luar untuk kepentingan sertifikasi, akan tetap dilakoni sebagai tugas rutin secara fungsional.

Semua orang adalah pemimpin, paling tidak untuk dirinya sendiri, bagi yang mendapat kepercayaan di beri tugas tambahan untuk memimpin suatu lembaga/badan/instansi dipemerintahan atau swasta. Kesempatan itu... anggap saja sebagai tes case untuk menguji kesiapan untuk membantu dan membina bawahan bukan justru dijadikan “kelinci percobaan”, meskipun seorang pemimpin sering menggunkan jabatannya sebagai jastifikasi untuk menentukan kebijakan yang kadang-kadang berorientasi pada kenyamanan pribadi. Staff yang menjadi bawahan hendaknya di jadikan sebagai mitra untuk mempercepat tercapainya tujuan. Memilki staff yang yang siap tempur disegala medan dan waktu menjadi harapan semua pimpinan.

Stayle (gaya) kepemimpinan seseorang akan sangat berbeda dengan yang lainnya. Semua gaya menjadi seni dalam mengelola suatu unit untuk mempercepat proses pelayanan publik, dengan mengutamakan kesejahteraan tenaga pelaksana. Lahirnya seorang pemimpin dapat terjadi karena orbiter atau pengkaderan hal ini sering terjadi pada organisas massa, profesi, lembaga politik, perusahaan dan paguyuban. Namun tidak jarang pemimpin lahir akibat dari stagnasi yang disebabkan oleh kondisi atau kekosongan yang disebabkan oleh perebutan dan pertimbangan wilayah atau asal usul. Pemimpin ini lahir karena efek dan eforia dari ruang dan peluang yang tersedia dan tidak dapat diisi oleh orang lain, karena pertimbangan kebijakaan yang tidak strategis.

Lahirnya seorang pemimpin yang berkearifan memang tidak mudah.. apa lagi yang berkharisma itu jauh lebih sulit dibandingkan pemimpin yang lahie karena proses seperti di atas. Pemimpin yang memperoleh pengakuan dari masyarakat akan bertahan selama waktu berjalan hingga ajal menjemput. Jadi pemimpin tidak cukup dengan bermodalkan kompetensi akademik, wawasan yang luas, berpengetahuan umum, tetapi harus memiliki jiwa yang telaten, jujur, cermat yang didasarkan pada moralitas sebagai benteng jalanya roda kepemimpinan. Pemimpin lembaga struktural lebih mengutamakan pengalaman dan masa kerja, berbeda dengan pemimpin yayasan, organisasi massa atau partai politik lebih dikarenakan alasan time-ing yang tepat atau ada pertimbangan lain yang tidak mejadi syarat mutlak. Biasanya persyaratan ini menjadi perdebatan untuk kepentingan politis.

Budayawan Indonesia Sudjiwo Tejo seperti dilansir Republika.co.id merasa khawatir akan tradisi pendidikan kita yang belum mampu melahirkan pemimpin bangsa yang berkualitas “pendidikan di Indonesia saat ini telah gagal melahirkan pemimpim-pemimpin bangsa yang memiliki hati nurani”. Tri darma perguruan tinggi yang berupa Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat, tidak sesuai dengan kondisi perkembangan jaman. Seharusnya pendidikan diberikan setelah melalui proses pencermatan kondisi riil di masyarakat dengan pengabdian. Kearifan lokal yang didapatkan dengan pengabdian ditelaah kemudian hasilnya diberikan untuk pendidikan, hasil akhirnya adalah manusia yang berkarakter dan berhati nurani. Memilih pemimpin haruslah yang berhati nurani jangan hanya mengandalkan kecerdasan, tidak cukup dengan bermodalkan gelar doctor, tetapi memiliki basis dan mampu membawa hati nurani dalam setiap kebijakan dan keputusan yang diambil.

Secara ilmiah sudah cukup banyak literatur yang mengkaji secara serius tentang tipe-tipe pemimpin dengan perspektif yang beragan. Namun itu belumlah memadai karena kepemimpinan memiliki kecendrungan mengikuti arus perkembangan masyarakat yang dipimpin dan kekuatan eksternal lainnya yang kadang-kadang dapat memaksa seorang pemimpin untuk mengukuti irama yang dimainkan para pihak yang notabonenya sebagai decition maker sebagai stakeholder pengambil kebijakan.

Moejiono (2002). Memberi definisi kepemimpinan merupakan serangkaian kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Sama halnya yang dikemukakan Young dalam Kartono (2003) Kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Penting bagi seorang pemimpin adalah pengakuan bahwa dirinya mendapat legalitas dari penentu kebijakan, sehingga semua kebijkan yang sudah dan akan dikeluargan mendapat perhatian dari bawahanya, dan memperkecil perdebatan dan potensi penistaan dari bawahan. Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Disadari bahwa, munculnya rasa saling memahami, saling mengerti akan memudahkan membangun interaksi, hal ini penting untuk membangun sikap respek, saling menghormati sesama pimpinan. Pemimpin harus mampu menghilangkan rasa sensitif, yang menimbulkan ketersinggungan antar mereka. Saling terbuka dengan mengedepankan pertimbangan positif adan melahirkan sikap trust dan saling percaya.

Pemimpin yang arif dan bijaksana akan membawa pengaruh positif dalam mengeluarkan peraturan, kebijakan, penentuan personalia dan penempatan sumber daya manusia yang profesional. Kelemahan dan kelebihan menjadi dinamika dalam upaya pengembangan karier dan pengembangan pelayanan publik.

ALHAMDULILLAH...

Assalamu’alaikum, diawal tahun 2011, kami akan berusaha mengunjungi pembaca secara rutin, mudah-mudahan belum terlambat, itu sebuah cita-cita luhur yang ingin kami wujudkan. Disadari, hal itu tidak mudah untuk melakukannya apalagi alasan waktu dan kesempatan menjadi alasan klasik yang tetap menghantui. Sejurus dengan itu, kami akan menepis semua itu dengan kesungguhan dan ketekunan mengisi blog. Tulisan yang disuguhkan masih sangat standar dan datar, yang itu mengakibatkan belum dapat memenuhi harapan pengunjung. Untuk memenuhi selera pembaca, kami akan melakukan upaya serius untuk menyuguhkan tulisan dengan varian yang beragam. Comet pembaca menjadi harapan dan kerinduan, atas semua perhatian dan kebaikan semua pihak akan diberi apresiasi. Salam hormat atas semua cometnya.

Kamis, 09 Desember 2010

ETOS KERJA DAN TRADISI KERJA TIM

Ketangguhan sebuah tim kerja dicirikan oleh orang-orang terpilih yang menduduki posisi tertentu dan mampu menjalankan tugas sesuai dengan kompetensinya. Keberhasilan tim merupakan akumulasi dari proses dan kinerja setiap karyawan. Katakanlah, semacam tugas dan hasil kolektif dalam suatu sistem kerja yang sinergis. Semakin tinggi kekuatan sinergitas diantara karyawan dan manajer semakin tinggi kekuatan sebuah tim. Tingkat kesalahan dalam pekerjaan pun dapat ditekan sekecil mungkin.
Pada umumnya tim kerja dibentuk sebagai suatu kebutuhan organisasi agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Dengan tim kerja diharapkan fungsi kontrol akan berjalan lebih efektif dan efisien. Konflik-konflik atau deviasi kerja bisa ditekan seminim mungkin dengan kepemimpinan yang kuat dari seorang manajer.
Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor. menuliskan ketangguhan sebuah tim kerja dicirikan oleh orang-orang terpilih yang menduduki posisi tertentu dan mampu menjalankan tugas sesuai dengan kompetensinya. Beberapa ciri yang mencerminkan terdapatnya ketangguhan sebuah tim kerja meliputi; pertama memiliki Kesamaan visi dan misi kerja. Para karyawan dan manajer memiliki sudut pandang yang relatif sama dalam mengerjakan tugas perusahaan. Orientasi dan fokusnya pada proses dan hasil, walau debat diantara karyawan tidak bisa dihindarkan namun selalu diarahkan pada bagaimana target hasil bisa dicapai.
Kedua Prioritas perhatian dan tindakan pada sesuatu yang terbaik buat organisasi. Tim memandang baik buruknya kinerja perusahaan merupakan akumulasi dari kinerja tim. Sementara kalau perusahaan memiliki kinerja (profitability) yang baik maka akan berpengaruh terhadap kompensasi yang diberikan kepada karyawan. Semakin besar kompensasi semakin puas karyawan dalam bekerja. Ketiga Karyawan berkomitmen tinggi pada pekerjaan. Pada umumnya tim yang kuat dicerminkan pula oleh kekuatan kepentingan para karyawannya. Tanggung jawab dan hak dibuat sedemikian rupa secara seimbang. Mereka tidak saja bekerja untuk kepentingan untuk memeroleh taraf kehidupan keluarga yang semakin baik tetapi juga buat kesehatan organisasi. Keempat Karyawan dapat hidup berdampingan dalam keragaman. Tiap individu tim sadar akan adanya keragaman latar belakang budaya, gender, usia, pendidikan, pengalaman, dan kepribadian di antara mereka. Keragaman tidak dipandang sebagai hambatan. Tetapi justru sebagai kekuatan dalam saling memahami dan mengisi kekurangan, dan memerkuat kelebihan masing-masing individu sebagai kekuatan tim.
Kelima Tim yang kuat sebagai magnit talenta. Dalam bekerja, setiap anggota tidak lepas dari suasana kompetisi sesama mitra kerja. Idealnya setiap orang ingin siap untuk itu. Namun dalam kenyataannya ada saja yang tidak bisa dan tidak biasa bekerja keras. Istilahnya pekerja minimalis. Sementara organisasi menghendaki semua karyawannya mampu bekerja keras. Karena itu manajer mengkondisikan suasana bekerja yang intensif namun dalam suasana nyaman tanpa harus ada tekanan-tekanan psikologis.
Hal itu baru bisa berjalan dengan baik apabila suasana dan proses pembelajaran berjalan efektif sehingga setiap karyawan didorong untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikapnya melalui pelatihan dan diskusi-diskusi membahas suatu ide.
Orang yang memiliki otak cerdas, berpikir kreatif, bereaksi lincah, belajar cepat, bekerja tuntas, mungkin inilah orang yang disebut multi talenta. Dalam perlombaan balap sepeda yang harus diperhatikan adalah kekuatan team, duration time, dan tingkat trial serta road dan race. Pada kasus ini peran pimpinan tidak terlalu berpengaruh, justru kesempatan dan kekompakan tim menjadi daya juang untuk menuju finish. Pemimpin tim berfungsi sebagai manajerial skill, hanya mengambil posisi di depan untuk menarik kawan-kawannya agar yang masih berada di belakangnya untuk segera meraih posisi terdepan, ia tidak harus mendayung sepada bersama-sama timnya.
Namun perlu diingat, ketika laju tim ini nampak mulai melemah, maka salah seorang dari kawan-kawan di belakang berpeluang untuk mengambil alih kepemimpinan dan langsung menarik kawannya dengan kecepatan yang lebih besar lagi. Kemungkinan ini dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, tidak harus menuggu habisnya masa kepemimpinan baik periodeisasi atau eselonisasi. Kesempatan menjadi manajerial skill selalu terbuka lebar, maka bersiaplah, tenaga tecnicall skill untuk memangku tugas sebagai manajerial skill.
Kondisi dan iklim kerja pada sebuah instansi akan selalu berbeda dengan kondisi kerja di tempat lain, atmosfir kerja sangat dipengaruhi oleh kecenderungan seorang pemimpin dalam mengelola potensi tim kerja dan kemampuan melihat peluang untuk mengejar target. Potensi yang dimiliki oleh person akan sebanding dengan kelemahan yang membatasinya, hal yang sama juga akan ditemui pada seorang pemimpin disemua tingkatan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan mengelola sumber daya manusia jauh lebih rumit dibandingkan dengan mengelola sumber daya alam berupa barang atau alat. Maka oleh sebab itu mengelola orang harus memiliki stayle dan gaya kepimpinan yang memadai termasuk memguasai tugas beban tugas secara datail dan rigit.
Pemimpin yang dipilih secara periodik akan mengalami permasalahan pada tingkat penguasaan pekerjaan yang akan diembannya. Hal itu juga yang mengakibatkan perubahan atmosfer pada tatanan kerja termasuk pengisian personalia yang sesuai dengan kompetensi dan propesionalitasnya. Pimpinan yang muncul secara instan di sebuah instansi pemerintah atau swasta akan membawa pengaruh terhadap tim kerja sebelumnya terutama unit yang berfungsi sebagai pelayanan publik.
Pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD dan DPRK yang dipilih langsung oleh rakyat, sedangkan unsur pimpinan dipilih dari anggota, oleh anggota untuk memimpon anggota juga. Pemilihan anggota dan pimpinan Lembaga Negara, seperti KPK, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, KPU, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Pemilihan pimpinan Perguruan Tinggi seperti rektor, ketua, direktur, mulai berbenturan dengan kepentingan politik meskipun pemilihannya dilakukan oleh guru besar dan anggota senat. Pemilihan pimpinan perguruan tinggi mulai sedikit memanas bila dibandingkan dekade tahun 2000-an.
Pemimpin yang berasal dari proses eselonisasi (karier) akan lebih stabil dan profesional seperti kepala dinas, badan, jawatan dan instansi pemerintah lainnya akan cepat akselerasi kepemimpinannya. Sementara pemimpin yang lahir akibat keputusan politik (pemilihan), seperti presiden, gubernur, bupati/walikota/Kades, akan membutuhkan waktu untuk sosialisasi visi dan misi minimal kepada bawahannya.
Tim kerja yang tangguh adalah dambaan setiap manajemen puncak. Disadari tim kerja yang kuat tidak timbul tiba-tiba. Tetapi harus dibentuk dan dikembangkan. Untuk itu diperlukan suatu perencanaan operasional yang dapat dilaksanakan dan terukur. Dukungan operasional seperti sumberdaya fasilitas dan waktu serta upaya sistematis akan memercepat terbentuknya tim tangguh atau kuat. Sebagai tingkat awal membentuk tim yang kuat adalah penting tetapi tidaklah cukup untuk kelangsungan organisasi. Dengan kata lain setiap manajer harus mampu menciptakan pertumbuhan tim yang berkesinambungan melalui pelatihan, insentif kompensasi, dan membangun hubungan kerja antarkaryawan dan manajer dengan karyawan secara intensif. Wallahu’aklam bis sawaf

Senin, 06 Desember 2010

KERJA KERAS ATAU KERJA CERDAS

Setiap hari, setiap orang melakukan banyak hal untuk mempertahankan hidupnya. Hal-hal yang diklakukan sangat tergantung pada cita-cita, keinginan atau mimpinya, termasuk upaya mempertahankan eksistensinya duhadapan konstituenya. Seorang pegawai akan selalu berupaya untuk hadir lebih cepat kekantornya untuk menuntaskan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang pengusaha akan selalu terjadwal untuk menemui kleinnya, seorang guru atau dosen akan selalu berupaya untuk menemui murid dan mahasiswanya. Seorang atlit akan selalu mematuhi perintah dan jadwal yang ditetapkan pelatihnya, bahkan seorang pemulung akan selalu setia menunggu jadwal pembuangan sampah.
Semua pekerjaan itu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi dan menunjukkan jati diri kepada semua orang yang menjadi penangungjawabnya atau yang menjadi tanggung-jawabnya. Pekerjaan seberat dan serumit apapun akan tetap dilakukan untuk menghasilkan imunitas terhadap berbagai patologi terutama patologi sosial. Pertanyaanya adalah disiplin dengan jadwal, dapat menyenangkan pimpinan dan membahagiakan keluarga menjadi pilihan atau sekedar tantangan untuk eksistensi.
Donna Turner, seorang doktor psikolog asal Campbell, menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan seseorang bisa mencintai pekerjaannya atau tidak. Kesesuaian latar belakang pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan minat seseorang terhadap pekerjaan akan membuat seseorang merasa nyaman dengan pekerjaannya.
Peribahasa Inggris yang berbunyi “easy come easy go” yang artinya: sesuatu yang diperoleh dengan gampang maka akan gampang pula dilepas. Barang yang mudah diperoleh biasanya kurang dihargai. Berbeda dengan barang yang diperoleh lewat sebuah perjuangan yang keras dan berat maka barang itu pasti akan dijaga, dirawat dan dihargai sangat tinggi. Uang yang diperoleh dari meja judi atau karena menang undian akan lebih mudah dihabiskan dibandingkan uang yang dperoleh dari hasil cucuran keringat selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang yang kerjanya santai banget, nyaris tanpa perjuangan dan kerja keras tetapi bisa sukses. Tapi ada berapa sih jumlahnya orang yang seperti itu? Dan berapa lama sih orang seperti itu bisa mempertahankan keberhasilannya? Kita tidak boleh iri terhadap keberhasilan orang seperti itu. Jangan pula kecewa maupun frustasi. Kalau ada yang meraih keberhasilan karena masalah keberuntungan atau hoki, maka biarlah itu merupakan hak prerogative dari Tuhan yang memberikan banyak kemudahan kepadanya. Tetapi sebaliknya bila hal tersebut dia peroleh karena KKN atau karena perbuatan yang melanggar hukum, maka biarlah hal tersebut menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Kita tidak usah menghakimi dan menghukumnya karena ada hukum positif di negara ini dan sekaligus ada hukum Tuhan yang tidak bisa disuap atau dimanipulasi. Untuk meraih kesuksesan dan sekaligus mempertahankannya, kita tidak cukup hanya memiliki Etos Kerja saja melainkan harus memiliki Etos Kerja yang Positif. Apa bedanya? Begini, kalau hanya etos kerja saja maka saya yakin bahwa para perampok, pencuri dan penjahat lainnya juga memiliki hal tersebut. Mereka punya semangat kerja yang tinggi dan dan bahkan punya kode etik sendiri yang sangat dijunjung tinggi. Tetapi sayangnya apa yang mereka kerjakan bukanlah suatu perbuatan yang positif.
Bandingkanlah dengan etos kerja yang positif yaitu semangat kerja yang dilandasi oleh pikiran yang positif, dilakukan dengan cara-cara yang positif dan terutama untuk mencapai tujuan yang positif. Tujuan positif yang saya maksud adalah membawa manfaat yang positif baik untuk diri sendiri, untuk orang lain dan untuk Tuhan. Dengan adanya etos kerja yang positif maka kita tidak pernah kekurangan atau kehabisan energi. Meskipun banyak hambatan dan rintangan, tidak pernah menyurutkan langkah orang yang punya etos kerja yang positif.
Jadi jenis pekerjaan yang hanya menghasilkan, justru ia akan memperoleh banyak uang, seorang atletik akan memperoleh prstasi juga seorang pemulung/buruh akan mendapat upah yang setimpal dengan upaya dan karyanya. Seyogianya kita harus berupaya untuk membuang mindset atau pola/kerangka berpikir yang seperti itu.
Masih dalam bahasa Inggris, ada peribahasa yang berbunyi “no pain no gain”. Tidak ada keuntungan atau kenikmatan tanpa terlebih dahulu melalui kesulitan dan penderitaan. Kalau dalam bahasa Indonesia sering kita dengar slogan “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit kita dahulu bersenang-senang kita kemudian”. Dari pepatah itu ada pesan yang dapat kita petik semua usaha pasti ada harga, setiap harga akan dikalkulasikan sesuai dengan volume kerja masing-masing. Kompensasi yang diterima tanpa usaha dan peran dapat mengakibatkan kita menjurus pada korup (penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara/perekonomian nasisonal) atau gratifikasi (pemberian atas alasan jabatan seseorang).
Dalam dunia kerja, seorang professional bukan hanya lahir karena modal kepintaran saja tetapi juga karena kerajinan dan ketekunan serta kerja keras. Orang pintar tetapi malas akan dikalahkan oleh orang yang kurang pintar tetapi rajin. Bayangkan apa jadinya bila orang pintar sekaligus rajin, tekun dan pekerja keras. Jadi fungsi dan peranan kerja keras tidak bisa diabaikan. Sekalipun ada kerja cerdas tidak membuat kerja keras jadi berubah menjadi kerja lemah atau kerja santai. Kerja cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot semata melainkan juga menggunakan otak sehingga hasilnya terasa lebih efisien dan efektif.

Sabtu, 04 Desember 2010

WORKSHOP ATAU “SHOPWORK”

Tradisi perencanaan pembagunan di Indonesia dapat dilakukan secara top down dan button-up. Perencanaan pembagunan dapat bersifat top-down dan ini yang pernah dipraktekkan secara besar-besaran oleh pemerintah Indonesia pada masa orde baru. Sedangkan tradisi button-up baru digulirkan pada tahun 2000-an pasca runtuhnya orde baru.
Tulisan ini tidak mencermati perbedaan antara pembagunan yang berasal dari top down atau button-up, karena yang paling penting bukan dari mana asalnya tetapi apa manfaat dari bangunan tersebut. Dan biarlah itu menjadi perbincangan ditingkat pengambil kebijakan di level masing-masing termasuk ditingkat terendah di pedesaan, dan itu seperlunya tidak menjadi beban kita dalam menikmati pembagunan nasional dan daerah di pesedaaan.
Kali ini kita mencoba mendrive seberapa pentingnya program workshop yang digulirkan oleh pihak pemerintah/swasta dan/atau lembaga donor lainnya. Sosialisasi atas kebijakan pemerintah yang sering dibungkus dengan pelaksanaan program pemerintah sehingga stradisi pengenalan program dilakukan dengan berbagai bentuk musyawarah seperti musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) termasuk workshop. Padahal, cecara umum workshop bertujuan pertama untuk memberikan kontribusi positif terhadap sumber daya manusia dlam rangka perencanaan pembangunan infrastruktur Pemerintah Indonesia, untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. transportasi secara langsung dan atau kerjasama dengan pihak lainnya.
Kedua untuk memperoleh dukungan terhadap rencana pembangunan yang berorientasi pendidikan, kesehatan, dan program pembangunan social. Ketiga mendorong pengembangan sektor swasta bekerjasama dengan lembaga lokal keuangan lainnya melalui penyaluran pembiayaan di unit kerja masing. Keempat memperkuat manajemen pengelolaan terhadap bantuan pembagunan yang beorientasi pada efektif dan efisien. Kelima upaya untuk membantu pemerintah disemua tingkatannya untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbangai hambatan terhadap pembangunan melalui keikutsertaan semua pihak dengan studi diagnosis yang ketat.
Workshop yang dilaksanakan oleh para pihak sering dilaksanakan di ibukota kabupaten, atau ibukota provinsi bahkan di ibukota negara, semua itu dilakukan untuk kepentingan seperti di atas. Nah.. sekarang perlu ditilik kesiapan panitia, materi dan peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Terkadang pembentukan kepanitiaan pada suatu kegiatan hanya disusun untuk kepentingan pelaksanaan kegiatan karena sudah terlanjur di anggarkan pada DIPA di APBN/APBD. Selanjutnya materi yang menjadi penguatan pada sebuah workshop perlu dikaji secara rntut dan sistematis agar tidak sia-sia, munimal harus terpenuhi empat hal adalah presentasi, penyampaian tanggapan atau komentar, tanya jawab serta ditutup dengan kesimpulan. Kemudian... lembaga/badan/instansi yang diundang sebagai peserta juga hurus benar-benar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi staff untuk kepentingan memajukan unit kerjanya.
Sudah sekian banyak staf pada suatu instansi pemerintah atau swasta mengikuti pelatihan, workshop, seminar, diskusi, lokakarya, sosialisasi, namun seberapa banyak hasil sebuah pertemuan itu dapat direalisasikan di unit kerjanya masing-masing. Seharusnya semakin banyak mengikuti pelatihan yang bersifat penguatan kapasitas, maka semakin bagus pelayanan kepada masyarakat. Kalau ini belum terwujud mungkin ada kekeliruan pada panitia, materi atau peserta, mungkin juga tempat kegiatan yang belum strategis, sehingga belum terpatri pada perilaku keseharian. Malah... ada tradisi dikalangan pegawai/karyawan kesempatan menjadi peserta workshop itu lebih dimanfaat untuk kesempatan shopwork di mall-mall mewah di berbagai ibukota kabupaten, provinsi dan negara. Wallahua’alam bis sawaf