Tampilkan postingan dengan label Budaya dan History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya dan History. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2020

Tengku Glee Iniem Darussalam, Kisah Mistis Tanpa Jejak


Tanpa direncanakan, setelah mengajar pada pagi hari Kamis, 5 Maret 2020, untuk suatu urusan, saya berkesempatan menuju arah Blang Bintang untuk sekadar mengantar tembusan surat untuk Kantor Regional BKN wilayah XIII Aceh, yang kebutulan beralamat di jalan Lambaro menuju Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (Bandara SIM) Blang Bintang. Setelah menitipkan surat sesuai arah dari kampus, maka saya membelokkan kendaraan kearah kiri sesuai julur keluar, menuju arah timur dan melintasi Bandara SIM, sehingga sudah berada di wilayah Kecamatan Darussalam.
Darusalam merupakan salah satu kecamatan tertua dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dengan Ibukota Lambaro Angan. Krueng Kalee merupakan Gampong (Desa) paling timur yang berbatasan langsung dengan Glee (Bukit) Iniem. Glee Iniem masuk dalam wilayah Gampong Krueng Kalee dibawah naungan Mukin Siem, di sana terdapat sebuah makam yang disebut dengan makam Tengku Glee Iniem.
Perjalanan dimulai dari Tungkop, sebuah desa yang terdekat dengan Kampus Darusalam, menggunakan sepeda motor selama 15 menit menelusuri jalan beraspal, sampailah di komplek makam sekira jam 11.00 siang, sesampai di komplek makam, cuaca terasa sejuk dan asri dengan pepohonan yang rimbun dan hijau. Pada siang itu, di Komplek makam, sudah ada 3 orang anak muda (salah satunya adalah cicit keturunan beliau) di balai sisi selatan makam, terlihat lagi santai dan bercengkrama sembari memberi sapaan akrab kepada saya. Saya sebagai tamu langsung menyapa dan memastikan posisi makam berada, sekaligus meminta izin untuk ziarah ke makam.
Saya diizinkan, lalu berwudhuk di kulah (tempat wudhu’) yang tersedia di depan makam, airnya sangat jernih dan sejuk, lalu saya bergegas menuju komplek makam yang dikelilingi bangunan permanen. Bangunan tersebut dibangun sejak tahun 1992 atas inisiatif keluarga dan warga masyarakat Gampong Krueng Kalee. Bagunan yang berwarna putih itu, terdiri dari dua ruangan, satu ruangan digunakan sebagai tempat shalat, dan ruangan dalam terdapat dua buah makam, adalah makam Tengku Glee Iniem disisi barat, dan disisi timur adalah makam Teungku Yusuf, sahabat Teungku Iniem yang selalu setia dan patuh atas perintah Tengku Iniem. Pada saat itu, sudah ada empat orang penziarah dari Lam Ateuk sedang membaca do,a disisi barat makam.
Saya sempat melakukan wawancara singkat dengan Tengku Muhammad Nawi yang kebutulah ada dibalai, beliau adalah keluarga dari generasi ke tiga dari Tengku Glee Iniem. Beliau mengisahkan bahwa Tengku Glee Iniem meninggal pada tanggal 6 Juni 1926 pada umur 63 tahun, tidak diketahui nama asli beliau, namun masyarakat setempat memangillnya Tengku Haji Cek, ayahnya bernama Haji Puteh, kakeknya bernama Tengku Umar dari Negeri Yaman. Tengku Glee Iniem adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, mungkin karena beliau anak bungsu, maka dipanggil Cek dalam bahasa Aceh “Cek” merupakan paman.
Tengku Glee Iniem, tidak pernah menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan, beliau juga tidak pernah membuka pesantren/dayah sehingga tidak ada murid/pengikut, dan beliau juga tidak pernah mengagaji/meudagang sehingga tidak ada guru, beliau juga tidak pernah mengarang kitab sehingga tidak ada ajaran dan tarekatnya. Lalu apa kelebihan atau karamah beliau, sehingga makamya selalu diziarah orang?
Berdasarkan cerita cicit dari saudara kandung beliau, Tengku Muhammad Nawi, bahwa Tengku Glee Iniem mempunyai beberapa karamah, diantaranya;
1.        Beliau tidak pernah basah bila berjalan pada saat hari sedang hujan.
2.        Tumbuh rumput nan hijau ditempat yang beliau tunjuk, untuk kebutuhan bagi pencari rumput pada musim kemarau tiba.
3.        Jika ada tamu, beliau selalu berisyarat, seperti menjala ikan di depan rumah dan ikannya ada untuk menjamu tamu.
4.        Beliau terkesan membuang air disembarang tempat, lalu masyarakat keberatan dan menyebut tidak ada air, maka langsung beliau ambil air di sampingnya dan disiramkan, padahal di situ sebelumnya tidak ada air.
5.        Jika ada anak-anak yang bertamu atau ketemu dijalan, maka beliau selalu berikan uang, padahal beliau lagi tidak ada uang dikantong.
6.        Jika ada tamu, atau beliau ingin suatu makanan/masakan, beliau selalu meminta tamunya untuk mengambilnya di meja, padahal tidak ada juru masak, dan beliau juga tidak pernah menikah.
7.        Beliau sangat senang jalan-jalan ke makam Syiah Kuala di Alue Naga, kadang-kadang ke Kampung Pande atau ke Ulee Lheee sekarang, beliau sering menunggang kuda putih dan selalu berjalan lurus, beliau perintahkan joki sado untuk selalu melihat ke depan, jangan pernah menoleh ke belakang. Suatu ketika sang joki ingin tau apa yang terjadi dibelakang, ternyata ketika kuda berjalan, maka dibelakang itu adalah hutan belantara, atau sungai yang berbahaya, atau lautan.
8.        Makam beliau selalu dijaga oleh harimau putih dan itu diceritakan oleh penziarah atau masyarakat setempat pernah melihatnya.
9.        Jika ada orang yang khianat kepada beliau, maka yang bersangkutan selalu ditimpa musibah. Pernah ada oknum masyarakat membakar kandang kerbau di komplek makam, maka rumah yang bersangkutan juga terbakar, pada saat yang bersamaan, dan itu nyata ada buktinya.
10.    Satu-satunya sahabat beliau yang sangat dekat adalah Tengku Hasan Krueng Kalee, beliau adalah sahabat sekampung, ketika Tengku Hasan Krueng Kalee berada di tanah haram, maka disana juga terlihat ada Tengku Gle Iniem yang sedang thawaf. Ketika Tengku Hasan Krueng Kalee berobat di Kuala Lumpur, disana juga terlihat Tengku Gle Iniem sedang berdo,a. ini cerita alm. Tengku Hasan Krueng Kalee kepada kerabat beliau atas karamahnya Tengku Gle Iniem.
Tengku Glee Iniem merupakan keturunan ke 3 dari kakek Tengku Umar yang berasal dari Yaman dan menetap pertama sekali di Keudah/Pelanggalan Banda Aceh. Tengku Umar diutuskan oleh Kerajaan Yaman bersama puluhan keluarga lainnya untuk misi penyebaran Agama Islam untuk wilayah Asia bagian Tenggara. Dalam misi tersebut, sebagian lagi ada yang mendarat di Pidie, Perelak dan Idi, sehingga Tengku Glee Iniem mempunyai sanak dan keluarga disepenajang lintas timur dan utara Sumatra. Mungkin itulah alasan sehingga makam ini selalu dikunjungi oleh penziarah dari Aceh Besar dan sekitarnya, juga pada hari tertentu juga dikunjungi oleh penziarah dari Negara Jiran Malaysia. Kisah dan khazanah tentang Tengku Glee Iniem masih sangat terbatas, semoga ada riwayat lain yang lebih shahih. Waalaahua’lam bissawaf.
(Yusra Jamali, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Ar Raniry Banda Aceh)

Selasa, 23 Mei 2017

Perang Ketupat, Tradisi Adat mengusir Lanun di Bangka Barat

Setiap tahun, pada minggu terakhir bulan sya’ban dalam rangka menyambut datangnya bulan puasa ramadhan, masyarakat Bangka Belitung menggelar pesta adat “perang ketupat “ yang di pusatkan di Desa Tempilang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat-Bangka Belitung.
Kali ini pelaksanaan pesta adat perang ketupan, dipilih pada hari Minggu, 21 Mei 2017, acara dimulai sekira jam 10.00 WIB di hadiri oleh Bupati Bangka Barat, Drs. H. Farhan dan Gubernur Bangka Belitung, H. Erzaldi. Sebelum rangkaian kegiatan perang ketupan dimulai, diawali dengan sambutan tetua/tokoh adat Tempilang, H. Keman, sekaligus bertindak sebagai dukun darat.
Lokasi perang ketupat, di desain sedemikian rupa, hanya terpaut 20 meter dari bibir pantai. Pantai  Pasir Kuning yang landai dan langsung terhubung dengan garis perbukitan yang mempunyai historis dengan benteng kota.
Tempilang sebelumnya merupakan kota para pedagang, yang terletak disebelah barat Pulau Bangka, berjarak ±64 Km dari Kota Pangkal Pinang sebagai Ibukota Prop.Kep.Bangka Belitung. Jalan menuju ke lokasi tergolong mulus dan beraspal beton, sehingga dalam waktu sekira 2 jam dengan kendaraan pribadi, kita sudah mencapai lokasi perang ketupat. Itu lebih hemat sekira satu jam bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Perang Ketupat ini, merupakan acara adat yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bangka Belitung yang dikemas dengan sedemikian rupa sebagai kegiatan tahunan. Prosesi pesta adat perang ketupan, dilaksanakan dengan ritual adat yang bernuasa mistis dengan menghadirkan roh para leluhur dengan meminjam raga para penari adat.
Sementara itu Bupati Bangka Barat H. Farhan, meminta kepada masyarakat Tempilang untuk senantiasa menjaga tradisi adat terutama pesta perang ketupat, kedepan akan kita promosi dengan lebih baik, dengan harapan akan lebih banyak para wisatawan yang hadir.
Lain halnya dengan yang disampaikan  Gubernur Bangka Belitung, H. Erzaldi, bahwa tradisi perang ketupan akan menjadi daya tarik sekaligus mangnet bagi wisatawan lokal dan nasional. Kita undang semua elemen untuk datang dan melihat secara langsung, bagaimana proses ritual pelaksanaan pesta perang ketupat. Diharapakan kepada semua kepala SKPD untuk lebih kreatif mengemas dan membungkus pesta rakyat ini sebagai daya tarik yang dapat mendatangkan income (pendapatan), bagi penduduk di sekitar pantai ini.
Asal muasal tradisi pesta adat perang ketupat, adalah pada zaman dahulu, di Desa Tempilang banyak anak gadis yang diambil dan dimakan siluman buaya, sehingga kondisi Desa Tempilang jadi sangat mencekam dan sebagian masyarakat merasa ketakutan. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa dukun berinisiatif untuk mengadakan ritual untuk mencegah terjadinya musibah yang lebih besar lagi. Ritual tersebut di Masyarakat Desa Tempilang dikenal dengan nama Perang Ketupat.

Timang burong

Gendang panjang, gendang Tempilang
Gendang disambit, kulet belulang
Tari kamei, tari Serimbang,
Tari kek nyambut, tamu yang datang

Itulah penggalan bait pantun yang terkandung dalam Lagu Timang Burong (menimang burung) pengiring tari serimbang , dilantunkan secara lembut. Lagu itu, diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan dawai (alat musi berupa biola), untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu. Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tepuk tangan dan rasa kagum para pengunjung menjadi, energi positif bagi penari yang sedang menunjukkan gerakan tari yang gemulai, menawan dan artistik. Tarian tujuh bidari, menjadi salah satu syarat dalam menggali tradisi adat pesta perang ketupat, tari yang dimainkan oleh tujuh bidari dan tujuh bidara akan memperkuat nyali sang leluhur dalam memenuhi keinginan sang dukun. Setelah tarian tujuh bidadari selesai dengan sempurna, maka sang leluhur, meminta segera mainkan tari kedidi, yang dilakonkan oleh dua pemuda tampat dengan memperagakan gerakan silat yang dimainkan dengan lembut dan pelan yang dilemgkapi dengan senjata berbentuk parang (golok).
Dukun darat, yang sudah agak sepuh terliat tegar menayakan beberapa informasi kepada leluhur yang sedang berada dalam raga salah seorang pemuda yang dijadikan perantara. Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur. Setelah semua ritual dan do,a selamatan selesai, dukun itu langsung meminta salah seorang petugasnya menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat, dan masing berebut ketupat dan melempar kepada lawannya sebagai simbol pengusiran para lanun (perompak laut-red).

Lanun dalam sejarahnya, merupakan perampak yang bersandar dan mendarat di kuala Tempilang sebagai jalur sibuk kerajaan Sriwijaya.Setelah tradisi adat perang ketupat, maka tidak dibolehkan selama tiga hari, sebagai pantangan antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, mencuci kelambu dan mencuci cincin di sungai atau laut. (yusra Jamali, Tenaga Pengajar di STAIN Babel)

Minggu, 14 April 2013

MAULID AKBAR WISMA FOBA, SANTUNI ANAK YATIM



 

 Pengurus Wisma FOBA Jakarta, memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad Saw. 1434 H. Kegiatan rutin ini dipusatkan diperkarangan Asrama FOBA (13/4/ 2013) menghadirkan penceramah Drs. Tgk. H. Sri Darmawan dari Aceh Besar. Maulid kali ini, panitia juga menyantuni 30-an anak yatim yang ada dilingkungan asrama FOBA  Kelurahan Setia Budi, Jakarta Pusat.
Ketua panitia Muntasir dalam laporanya menyebutkan panitia sudah menyiapkan kegiatan ini sejak sebulan lalu, dan menyebarkan 500 undangan untuk tokoh-tokoh dan para ketua organisasi paguyuban Masyarakat Aceh yang ada di Jakarta. Semua pihak kita undang agar dapat berkonstribusi memajukan penghuni foba. Maulid yang dimulai pada pukul 09.52 WIB mengusung tema “Merajut silaturrahim mengapai khilafah kerasulan” juga dihadiri oleh sesepuh Masyarakat Aceh, Nampak hadir mantan menteri BUMN Mustafa Abubakar, Jamil Hasan, Ibrahim Hasyem, Ketua tim Surya Darma, mantan ketua TIM Safli Didoh.
Sementara itu Ketua FOBA Mawardi Nur dalam sambutannya menyebutkan pelaksanaan mauled ini penuh makna, paling tidak  ini menjadi wahana silaturrahmi bagi mahasiswa asal Aceh yang sedang belajar di Jakarta. Untuk hendaknya Pemerintah Aceh perlu memberi  perhatian dan dukungan yang optimal untuk perawatan asrama FOBA yang mulai memperihatinkan.
Dalam kesempatan yang sama ketua PP Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta, Surya Darma menegaskan bahwa WISMA FOBA sangat bersejarah mungkin sudah 60 tahun berkonstribusi dalam menjaga kekompakan dan eksistensi masyarakat Aceh di Jakarta, semua ini menjadi bukti bahwa alumni WISMA FOBA memiliki kader yang kuat dan mampu menggerakkan pengurus TIM dalam mewujudkan kebersahajaan Masyarakat Aceh di Jakarta. Ia juga menambahkan FOBA menjadi barometer sebagai simpul Aceh di Ibu Kota Jakarta, untuk menjaga nama baik Aceh di Jakarta.
Sementara itu Mustafa Abubakar selaku sesepuh Masyakat Aceh di Jakarta menjelaskan bahwa keteladan rasul sebagai cermin dan teladan yang berakhlak mulia, memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu walau ke Cina dan meminta ummatnya agar menutut ilmu dari lahir sampai liang lahat. Sebagai salah seorang penghuni asrama, Mustafa menceritakan bahwa kehidupan di asrama sangat bemakna dan mewarnai kehidupannya, kenyaman dapat membentuk disiplin, jiwa social dan kepribadian yang mencitrakan. FOBA adalah warisan para endatu, Abu Daud Bereu’eh sangat visioner dalam berupaya mencerdaskan anak Aceh.
Pencamah kondang Tgk. Sri Darmawan memaparkan banyak hal tentang keteladanan Nabi Muhammad Saw. seperti disebutkan oleh Syeik Nawawi Al Bantani bahwa memperingati maulid salah satu sarana mendekatkan diri kepada  Allah. Rasul sebagai teladan dalam kepemimpinan, untuk menjadi pemimpin harus belajar dengan tekun dan Imam Syafi'I menyebutkan ada 6 syarat untuk menjadi orang yang terpelajar yaitu cerdik dan lincah, perlu diulang kaji, daya juang yang kuat dan tidak cepat puas, berambisi untuk menjadi yang terbaik selalu berusaha dan kompetitif.



Senin, 15 Oktober 2012

KETIKA PNS JADI BEBAN NEGARA


Ternyata jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Indonesia sudah mencapai angka 4.646.351 (bkn.go.id, 21/6/2011). Jumlah tersebut membuat Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjadi khawatir dan meminta pemerintah pusat dan daerah untuk waspada. Kekhawatiran Menteri Keuangan sangat beralasan, dengan jumlah PNS yang begitu besar mengakibatkan pada beban APBN/APBD yang terus meningkat. Setiap tahunnya pemerintah perlu mengalokasi sekitar 50-60 persen untuk membayar biaya rutin PNS seperti gaji, asuransi, dana pensiun, tunjangan jabatan dan Tunjangan Prestasi Kerja (TPK).
Memang kekhawatiran itu, sudah dipertimbangkan dengan adanya kesepakatan moratorium pembatasan penerimaan PNS secara nasional. Moratorium antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Keuangan, Badan Kepengawaian Negara, bersepakat hanya menerima PNS dengan kompetensi khusus. Untuk tahun 2012 pemerintah hanya menerima PNS untuk tenaga dokter, bidan, apoteker, auditur, pustakawan, arsiparis, guru dengan keahlian husus untuk daerah terpencil dan beberapa orang penyuluh pertanian dan kesehatan. Dengan jumlah PNS yang sangat membengkak dan membebani APBN/APBD pemerintah perlu berfikir bagaimana dengan nasib PNS yang sudah terlanjur ada? Apa yang perlu dilakukan pemerintah dan siapa yang berwenang untuk itu?
Tidak dipungkiri, masih ada PNS yang menunaikan tugasnya hanya sekadar menuntaskan kewajiban saja, belum memperhatikan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Sementara itu ada  PNS yang dengan sungguh-sungguh menjalankan nilai-nilai pengabdian sebagai abdi Negara. Kondisi ini sulit dipetakan, karena keberadaan PNS yang sunguh-sunguh dengan PNS yang sekadar hadir untuk absensi, sama-sama berseragam, dalam ruang dan kantor yang sama. Untuk itu, tugas pemerintah pusat dan daerah dalam hal ini gubernur dan bupati/kota, agar dapat berpikir stategis demi peningkatan sumber daya PNS di semua lini. Tidak hanya itu beban anggaran juga dapat dikendalikan dengan mengedepankan nilai-nilai efektif dan efesien.

Kebijakan Strategis
Semua pihak perlu berpikir positif, agar upaya pemerintah terhadap moratorium penerimaan PNS akan berhasil, paling tidak pemerintah perlu membuat kebijakan strategis untuk meningkatkan kinerja dan motivasi pengawai dalam bekerja. Pertama Regulasi, pemerintah perlu segera menyiapkan peraturan yang mengatur tentang fungsi, beban kerja dan reward kepada pengawai. Bukan berarti peraturan yang ada sekarang belum memadai, tetapi perlu ada optimalisasi agar para pengawai lebih termotivasi dalam bekerja yang semuanya berakibat pada tingkat kesejahteraan.
Kedua pemerintah perlu melakukan restrukturisasi, agar pengawai yang terasa gemuk perlu dirampingkan. Sederhana saja, bila satu bagian/ruangan di kantor pemerintah ada satu orang kepala bagian ditambah dengan 3-5 orang kepala subbagian yang setiap subbagian terdapat 3-6 orang staf, artinya setiap satu bagian/ruang dihuni oleh 15-25 PNS. Sedangkan beban kerja bagian tersebut hanya berfungsi untuk mengagendakan surat masuk dan surat keluar serta mengarsipkannya. Kalaulah yang terjadi seperti itu, maka jumlah itu masih terlalu besar dibandingkan dengan beban pekerjaan yang ada. Padahal beban tersebut dapat dikerjakan oleh 5-7 orang saja, yang penting setiap orang perlu diberi baban kerja yang jelas dengan prinsip satu pekerjaan dapat dikerjakan sacara tuntas. Bila ini dilakukan paling tidak pemerintah akan menghemat dari segi anggaran dan pemerintah akan lebih mudah mengotrolnya.
Ketiga Revitaliasasi, saat ini pemerintah membutuhkan tenaga yang professional dengan tingkat ekspert yang memadai, pemerintah sudah dapat bersikap tegas dengan pengawai yang tidak memiliki kompetensi, dedikasi dan loyalitas. Pemerintah perlu merekruitmen ulang terhadap pengawai yang sudah ada. Hal ini penting dilakukan, agar pengawai benar-benar tenaga professional yang focus dan serius dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Selanjutnya, pemerintah memberi pembinaan berupa peningkatan kapasitas bagi pengawai yang belum terpilih. Hal ini juga diberlakukan kepada pejabat eselon, meskipun mereka sudah pernah mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan baik diklat PIM tingkat I, II dan III.
Keempat Amputasi, pemerintah tidak perlu ragu dan bimbang untuk bersikap tegas terhadap pengawai yang belum menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Akan lebih berwibawa bila pemerintah dengan kewenangan dan wewenang yang melekat padanya untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan konfrehensif terhadap perilaku pengawai. Bila ditemukan pengawai yang hanya rutin absen dan rjin apel, sementara outpunya tidak ada, maka sudah sepantasnya diberi teguran dan sangsi secara tegas. Dan setiap atasan harus berani memberi rekomendasi kepada agar pengawai yang volume kerjanya rendah untuk dievaluasi.
Nah, pejabat berwenang dengan mengedepankan sikap kooperatif dan konfirmatif harus berani bertindak tidak populis, dengan mengajukan pilihan kepada pengawai yang tidak produktif. Bagi pengawai yang hanya datang untuk absen dan pulang setelah apel, perlu disodorkan pilihan untuk mundur dari PNS dengan tetap memperoleh tunjangan masa tua (pensiun dini). Atau diberhentikan dengan hormat tetapi tidak mendapatkan dana pensiun. Resiko terburuk, akan banyak pengawai yang mengadu kepengadilan, namun kita yakin bahwa upaya hukum apapun yang ditempuh. Waallahu’alam bissawaf.

Minggu, 14 Oktober 2012

WISMA FOBA : Zona Aman di Ibukota Jakarta


           Mencari kenyamanan di ibukota Jakarta bukanlah perkara mudah, mengingat beban masyarakat ibukota terlalu berat, sehingga waktu lebih sering terbuang di jalan dan sampai di rumah sudah larut malam. Keadaan ini mengakibatkan bapak, ibu dan anak relatif tidak saling jumpa, apalagi komunikasi dengan tetangga dan sanak saudara hampir tidak ada, kecuali pada hari libur, itupun sering digunakan untuk liburan sama keluarga. Tradisi kekeluargaan, terlihat kontras di asrama mahasiswa Aceh atau lebih dikenal dengan Wisma FOBA Jakarta. Tegur sapa dan canda tawa antar mahasiswa terkesan sangat bersahaja.
Keinginan Masyarakat Aceh untuk membangun asrama mahasiswa di ibu kota Jakarta adalah sikap yang sangat visioner, ketika daerah lain belum terpikirkan, namun Masyarakat Aceh sudah merintisnya. Semua itu untuk mencerdaskan anak bangsa dan menjadi pemimpin masa depan. Sebuah asrama mahasiswa Aceh yang diberi nama FOBA sudah lahir sejak tahun 1950-an. FOBA adalah singkatan dari Found Oetoek Bantoean Atjeh didirikan atas prakarsa  Gubernur Aceh Tengku Daud Bereu’eh dan masyarakat Aceh di Jakarta.
Pertama sekali asrama Foba berada di wilayah senayan di komplek gelora Bung Karno sekarang. Karena terjadi perluasan untuk menyambut Asian Game IV pada tahun 1960, maka asrama foba dipindahkan ke wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kemudian daerah tersebut dibangun Hotel Indonesia tahun 1962 asrama Foba di pindahkan lagi ke wilayah Setia Budi Barat No.1, Kelurahan Karet, Kecamatan setia Budi-Jakarta Selatan. Asrama mahasiswa dengan luas tanah 3.180 M2. Di atas tanah tersebut sekarang ini sudah berdiri bangunan seluas 12x28 M2 tersedia 26 kamar dengan ukuran 4x5 M2. Bangunan yang didirikan pada tahun 1984 itu juga tersedia 2 buah kamar tamu yang khusus diperuntukan bagi mahasiswa baru atau masyarakat Aceh yang sedang melakukan perjalanan ke Jakarta. Sekarang ini, Asrama Foba ditempati oleh 60-an mahasiswa dari berbagai Kabupaten/Kota di Aceh yang sedang melanjutkan studi Sarjana dan Pascasarja di berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya.
Asrama mahasiswa FOBA telah melahirkan ribuan alumni, dalam catatan terdapat nama-nama besar seperti Ibrahim Hasan (Mantan Gubernur Aceh 2 Periode) Syamsuddin Mahmud (mantan Gubernur Aceh), Mustafa Abubakar (mantan Pj. Gubernur Aceh dan Menteri BUMN), Sofyan Jalil (mantan Menteri BUMN) dan banyak nama-nama lain yang sukses di pemerintahan dan swasta.
Asrama foba berada pada segitiga emas Kota Jakarta, wilayah Kuningan, Sudirman dan Gatot Subroto. Karena letaknya yang sangat strategis, memudahkan para penghuni untuk akses keberbagai tempat terutama perkantoran pemerintah dan swasta seperti kantor KPK, MK, Hotel Indonesia (HI), Hotel Sahid. Foba Juga dekat dengan pusat perbelanjaan seperti Blok M atau Tanah Abang, disamping itu juga dekat dengan beberapa kampus seorti UI, UNJ, Universitas Al-Azhar. Untuk menjangkau tempat-tempat tersebut dapat ditempuh dengan waktu 10-15 menit menggunakan kendaraan umum.
Asrama Foba juga menjadi lebih istimewa, karena  diantara bagunan asrama terdapat sebuah Balee Seumikee yang beratap daun rumbia yang dibawa khusus dari Musa Pidie Jaya. Ditempat ini terlihat beberapa mahasiswa berdiskusi serius larut malam. Tidak hanya itu ditempat ini juga lebih teduh dan sejuk karena dikelilingi oleh pohon-pohan besar yang hijau dan rindang. Mungkin Foba salah satu kawasan paling teduh dan sejuk di Jakarta.
Yang paling unik dan istimewa di asrama Foba adalah tingkat keamanan dan kenyamanan, suasana asrama yang 24 jam pintu terbuka tanpa pengawal dan satpam. Setiap malam belasan mobil mewah parkir di halaman dan tigapuluhan sepeda motor parkir teratur di kawasan Foba. Namun sejak tahun 1978 hingga sekarang tidak pernah ada kasus kerusakan atau kehilangan. Mungkin suasana seperti ini untuk Aceh sendiri sudah langka, tetapi justru nilai-nilai dan budaya Aceh didapati di asrama mahasiswa Foba yang berada di Jakarta. Maka pantas bila dilebelkan Wisma Foba, Zona paling aman di Ibukota Jakarta.

Selasa, 18 September 2012

Pemilu Melestarikan Perdamaian Aceh


Masih muda serta berwibawa terlihat dari mukanya yang putih berseri. Memancarkan kedewasaan, terbukti telah banyak pengalaman memimpin berbagai organisasi, mulai dari organisasi kampus hingga ke organisasi kepemudaaan. Karir organisasi dimulai saat menjadi Ketua Osis SMA 1 Meureudu tahun 1993 lalu. Namanya terus bersinar mengapai cita-cita begitu besar terparti dalam jiwanya.  Itulah dia, Yusra Jamali, S.Ag, M.Pd, anggota Panwaslu Aceh, lahir 32 tahun lalu di Beuracan, Meureudu. Saat ditemui dikediamannya Jln. Lingkar Kampus No. 5 Darussalam Aceh Besar.  
Ketua MPM Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry tahun 1998 lalu bercerita, bahwa sampai hari ini belum menerima SK dari Banwaslu. Walau sudah ditetapkan sebagai anggota Panwaslu Aceh 9 Juni 2008 lalu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), anggota Panwaslu belum juga dilantik. “Kami belum punya wewenang penuh untuk melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap tahapan Pemilu yang dilakukan KIP Aceh,” katanya. Suami Helma Sari, A.Md ini berharap, jika sampai bulan ini belum juga dilantik, maka jika ada pelanggaran pemilu tidak ada yang memantau. Seperti pelaksanaan Pilkada Pidie Jaya dan Subussalam dua bulan kedepan, ucapnya.
Ia bersama kawan-kawan Panwaslu lainnya mempertanyakan kepada Banwaslu, kenapa saya dan Nyak Arief Fadillah Syah, S.Ag, Rasyidin Hamin, SE, MM, M.Kes, Radhiana, SE, MM, dan Asqalani, S.TH belum juga dilantik. Nama-nama kami telah disahkan melalui sidang paripurna khusus dengan agenda Pengesahan Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) tanggal 9 Juni 2008 lalu, ucap ayah Vira Asfarina Yusra dengan tegas. Pria aktif berorganisasi ini telah banyak jabatan sosial disandangnya, terakhir dipercaya sebagai Ketua Umum PW. HIMMAH Aceh dan Ketua Asosiasi Wartawan Muslim Indonesia, juga aktif menulis di media massa ini memulai hari-harinya dengan optimis, dan dapat mengawal pemilu Aceh hingga melahirkan seorang pemimpin benar-benar dipilih oleh rakyat Aceh harapnya.
Yusra masih risau dengan belum ada kejelasan kapan pelantikan Pengawas Pemilu (Panwaslu) Aceh dilaksanakan. Padahal belum dilantiknya Panwaslu, membuat tahapan pelaksanaan pemilu di Aceh melanggar aturan, dimana ada parpol dan para calon mengkampayekan dirinya ke berbagai kalangan dalam masyarakat.  Seperti menempel atribut partai pada rumah ibadah; masjid, meunasah, kantor pemerintah dan rumah sekolah serta di kampus. Inikan tugas Panwaslu Aceh memantau sepak terjang mereka. Kita tidak bisa bekerja karena terganjal surat dari Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) Pusat tegasnya.
Perlu belajar sejarah dan melestarikan sejarah Aceh, kehadiran partai lokal sebagai salah satu wahana penyaluran aspirasi bagi masyarakat Aceh untuk berhimpun dan bersyarikat dalam koridor hukum yang berlaku di RI, parlok adalah sejarah baru bagi Aceh. Kesempatan yang diberikan oleh pemerintah adanya parlok di Aceh, merupakan peluang untuk menggali potensi lokal, situasi ini harus dimanfaatkan oleh partai lokal merebut suara rakyat Aceh dalam pemilu 2009 mendatang. Bagi masyarakat, kedamaian dan pelestarian kemajemukan dalam berpolitik bagi Aceh menjadi hal yang istimewa dan sejarah dalam percaturan politik di nusantara. Siapapun yang sudah berkempatan membentuk parlok, diminta untuk selalu berfikir positif dan berjuang bagi kemeslahatan Aceh kedepan harapnya.
Wakil Sekretaris Jenderal PP. Koniry ini juga menyatakan banyak pihak menaruh harapan kepada parlok dan parnas untuk mempertahankan serta melestaraikan perdamaian di bumi Serambi Mekkah. Setiap anak bangsa, mendapatkan porsi sama melibatkan diri dalam kancah politik, namum jangan lupa kita semua berangkat dari konflik dan keterputus asaan. Jadi, jangan lagi merasut benang basah di antara kita, kembali kepada amanah umat ucapnya lagi. Memiliki  motto hidup kerja keras dan pantang menyerah dan siap melawan bagi siapapun yang melanggar peraturan ini terus berusaha menjalankan tugasnya memantau jalannya tahapan pelaksanaan pemilu di Aceh. Saat ditanya tentang proses pengawalan Pilkada di Pidie Jaya dan Subussalam, dua daerah pemekaran. Yusra dengan tegas menjawab belum bisa bekerja, “Kami ketahui kedua daerah itu sudah ada kampaye terselubung dari calon Bupati dan Walikota,” ucapnya.
Yusra mengingatkan dengan hadirnya partai lokal, jangan ada trauma politik menghinggapi pemerintah. Jangan adalagi upaya pergerakan tuntutan macam-macam, mari kita jalankan amanah ini dengan baik. Trauma politik ini akan berimplikasi kepada kurang responnya pemerintah dalam melihat esensi dari pembangunan politik lokal, padahal dengan adanya parlok akan menggali potensi bagi masyarakat Aceh. Saat pemilihan umum legislatif nanti, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih.
Anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Provinsi Aceh tahun 2006-2008 lalu juga pernah mendapatkan penghargaan atas peran serta dalam menyukseskan Pemilihan Langsung Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota se-Provinsi Aceh pada tahun 2006 lalu dari Unition National Deveploment Programe (UNDP) dan Gubernur Aceh. Permasalahan sering timbul dalam sebuah lembaga, seperti parpol menghadapi masalah internal, di mana kuatnya relasi patron-klien dalam struktur kepartaian. Konstituen hanya untuk mobilisasi, bukan partisipasi. Massa hanya diperlukan ketika kampanye pemilu, setelah itu komunikasi terputus. Permasalahan kedua, faktor yang berkaitan dengan eksternal yaitu pada struktur pengaturan dan politik hukum yang mengatur sistem kepartaian maupun sistem pemilu. Adanya pengaturan azas, landasan, tujuan partai yang membingungkan ucapnya. Tetapi, bila parlok akan menambah masalah atau membuka peluang bagi muculnya alternatif saluran politik. Sistem partai terkadang tidak mampu menjawab kebutuhan pada tingkat lokal, semua mesti menunggu keputusan pengurus di atasnya dan akhirnya tidak responsif terhadap perkembangan dalam masyarakat Aceh.
Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh menganalisa bahwa parlok dapat menjadi tantangan bagi partai nasional. Dimana partai nasional harus memperbaiki diri dan benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat. Alumni Master Manajemen Pendidikan Unsyiah ini juga berani mengatakan akan ada perang politik antara partai lokal dengan partai nasional nanti, dimana akan terjadi perebutan lahan suara dan berlomba-lomba mendapatkan hati rakyat Aceh dengan berbagai macam cara. Inilah tugas Panwaslu mengontrol cara kerja meraka dilapangan, ucapnya dengan tegas. [Bahagia Ishak]
Publication Majalah NANGGROE edisi 17 Bulan Juli 2008