Hampir setiap rumah penduduk di Aceh memiliki televisi (TV), kecuali hanya orang-orang yang mampu menyakinkan anggota keluarganya saja yang mungkin TV lebih berdampak negatif di bandingkan manfaatnya, sehingga TV tidak perlu ada di rumah. Tidak hanya di rumah-rumah warga, diwarung kopipun televisi tersedia sehingga dengan adanya TV warung akan terasa lebih lengkap. Bahkan sekarang ini sudah menjadi tradisi di kantor-kantor pemerintahpun dilengkapi dengan TV. Lalu bagaimana kita menyakinkan keluarga, sahabat dan kolega agar lebih sehat dan cerdas dalam memilih siaran TV?
Isi siaran TV sangatlah berangam semua itu tersaji secara gratis dan dapat diterima di kamar kita masing-masing, malah sekarang ini dengan kemajuan teknologi siaran tersebut juga dapat diakses lewat telepon selululer dan internet. Namun kadang-kadang kita lupa bahkan cendrung terlena dengan indahnya kemasan sebuah tanyangan, padahal itu dapat mengakibatkan kecanduan.
Memang diakui, TV memiliki peran ganda seperti dua sisi mata uang, ada untung dan ruginya, sangat tergantung pada kemampuan mengendalikan remote control sehingga siaran TV lebih bermanfaat. Siaran TV akan memberi manfaat bila diberengi dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai tentang konten (isi) siaran TV. Ada siaran yang cocok dan tepat ditonton untuk anak-anak, remaja, dewasa atau semua umur, sangat tergantung pada kecakapan orang tua untuk membimbing keluaraganya agar TV akan lebih bermanfaat. Memilih siaran TV yang cocok dan sesuai dengan klasifikasi tersebut menjadi alasan penting, agar kita dapat memastikan bahwa TV lebih bermanfaat untuk informasi, pendidikan, hiburan dan sosial. Tidak dapat dipungkiri, sejurus dengan kelebihan siaran TV, ternyata memiliki kelemahan yang membawa anggota keluarga (pemirsa) menjadi malapeteka bila tidak dikawal dengan baik oleh kepala keluarga.
Perlu dikhawatirkan kencaduan menonton TV seperti menonton senetron atau berita investigasi tentang selebritis, akan melahirkan rasa malas dan menyita waktu berjam-jam di depan TV. Hal ini dinyakini tidak baik dan akan berakibat pada lemahnya etos kerja. Semua itu disebabkan oleh keahlian yang dimiliki oleh manajemen produksi TV dengan mengandalkan audio dan visual (pernyataan dan gambar). Tanpa dinyana sebagian besar waktu istirahat kita tersita di depan TV.
Di lain waktu kita terkesan seperti dininabobokan oleh trik dan gaya penayangan sebuah liputan, kita kadang-kadang lupa bahwa itu semua dilakukan dengan mengedepankan editing dan style dari manajemen produksi sebuah siaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa, pihak entertainment sebagai sebuah perusahaan akan selalu berpikir tentang bisnis dan keuntungan. Kondisi itu menjadi harga mati demi keberlanjutan dan kehidupan perusahaanya. Namun kadang-kadang pihak produksi lupa dengan etika jurnalistik dan kaedah penyiaran.
Kecendrungan media TV nasional dan lokal lebih berpikir reting dibandingkan etika penyiaran, sebut saja penanyangan senetron, layar lebar, klip lagu dan berita-berita yang cendrung menampilkan peristiwa ironis seperti mutilasi, korban pembunuhan, perkosaan dan tawuran. Kadang-kadang semua itu di sajikan dengan sangat vulgar tanpa ada proteksi dari pihak produksi, padahal etika dan prinsip jurnalistik menuntun para jurnalis untuk lebih peka terhadap kemumungkinan baik atau buruk bagi pemirsa.
Sekarang ini TV hampir menjadi guru yang kedua setelah guru di sekolah bagi anak-anak. Semua yang tersaji di TV akan ditiru oleh anak-anak terutama adegan kekerasan, pernyataan jorok hingga adegan mesum lainya. Pada prinsipnya hal itu tidak melampaui batas-batas dan kaedah penyiaran, namun secara etika penyiaran, hal ini dapat menggagu pemirsa dalam menentukan sikap. Dengan seringnya menonton adegan pembunuhan, intrik dan berita saling serang di forum dialog akan membentuk image bagi masyarakat bahwa hal itu menjadi baik dan dibolehkan.
Tidak tertutup kemungkinan pengalaman menonton berbagai adegan yang ditanyangkan akan dijadikan pengalaman baru bagi pemirsa terutama anak-anak, sehingga dikhawatirkan itu menjadi pembenaran dalam keseharian mereka. Kondisi ini dapat diperparah lagi bila terjadi pembiaran, justru peran orang tua perlu dimaksimalkan termasuk dukungan pihak yang konsen bergerak dibidang melek media dan perlindungan anak.
Semua kita berpotensi untuk menjadi teuladan, sekaligus menjadi penjahat dalam tanda petik, mengingat potensi itu sudah ada sejak kita dilahirkan. Pada prinsipnya semua manusia perlu dihargai dan dihormati, meskipun dilain pihak kebebasan seseorang akan dibatasi oleh kepentingan orang lain.
Kemajuan teknologi memaksa setiap orang untuk berhati-hati dengan perkembangan dunia penyiaran, televisi, radio, internet dan fasilitas komunikasi, tidak cukup sampai disitu semua orang juga harus mempunyai dan mempelajari setiap perkembangan yang ada pada perangkat komunikasi termasuk handphone.
Perubahan akan kelihatan pada masyarakat yang cendrung idola dengan seseorang atau benci dengan seseorang. Hal itu perlu dipikirkan kebelajutan dari akses ini semua, idealnya semua masyarakat perlu terlibat secara langsung dalam upaya membentengi diri dan advokasi agar generasi yang akan datang dapat terselamatkan dari bobolnya akses informasi yang tak terkendali. Semua kita berharap generasi yang akan datang akan lebih baik dan tidak ternodai oleh kebebasan hak mengeluarkan pendapat, usul dan saran yang disiarkan oleh media penyiaran. Maka, pemerintah, organisasi masyarakat, LSM, guru, ulama harus diajak untuk bersama-sama memberi konstribusi positif sesuai tugas dan fungsinya, untuk membentegi diri, kelompok dan teman sejawat untuk memilih konten siaran yang sehat, cerdas dan aman serta nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar