Selasa, 27 September 2011

TRADISI MASYARAKAT ACEH MERAJUT SILATURRAHMI



“Sesuatu yang sederhana, akan jadi istimewa… bila dikemas dengan keikhlasan…” Yusra Jamali

Assalamuaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam hormat dan ta’zim, kepada guru-guru dan orang tua yang telah mendidik dan membimbing kami, sehingga pada saat ini sudah dapat memahami dan memaknai… arti dari sebuah kehidupan.
Menjadi istimewa dan akan bersejarah bila pada hari, tanggal dan tahun tertentu, pernah terjadi suatu peristiwa yang kemudian dikenang sebagai hari yang mengembirakan dan menyenangkan… maka dapat dipastikan… waktu-waktu tersebut akan menjadi kerinduan pada masa yang akan datang. Sweet of memories, menjadi pernyataan yang patut diungkapkan sebagai lambang kebahagian dan suka cita.
Perlu kami uraikan, Ketika itu… kalender menunjukkan Hari Kamis tanggal 04 Agustus 2011 yang bertepatan dengan Tanggal 4 Ramadhan tahun 1432 H, tapat pada pada pukul 17.00 WIB atas kesepakatan dan keinginan bersama, sebagaian besar masyarakat Aceh yang ada di Kepulauan Bangka bersepakat untuk berkumpul sekaligus berbuka puasa bersama di rumah Drh. Tgk. H. Rahmani. Rumah mungil beliau yang beralamat di jalan Swadaya Gang. Pemuda, Sungailiat Kab. Bangka menjadi tujuan kami pada hari itu.
Nama Tgk. Rahmani tidak lagi asing di telinga orang Aceh di kabupaten Bangka. beliau merupakan salah seorang sesepuh Aceh asal Montasik Aceh besar yang hampir 20 tahun lebih, mengabdikan dirinya pada Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupten Bangka. Rumah permanen yang terlihat sangat sederhana itu menjadi… saksi sejarah bahwa pada saat itu pengurus baru Ikatan Masyarakat Aceh Bangka Belitung (IMABA) periode 2011-2013 secara de facto resmi terbentuk, namun secara de jure belum memperoleh surat keputusan dari dewan formatur.
Bung Karno sebagai pendiri Bangsa ini sering menyebutkan “Jangan lupakan sejarah” pernyataan itu sering diungkapkan ketika beliau berpidato di depan generasi muda. Namun Soekarno lebih senang menyebutnya “ingat jas merah” itu sebuah tamsilan agar generasi muda perlu mencatat dan mengenang semua peristiwa yang dilakukan oleh pendahu…. termasuk perintis dan pendiri perhimpunan Masyarakat Aceh di Bangka sejak tahun 1990-an…
Tahun 1990-an, Untuk wilayah Bangka perhimpunan masyarakat Aceh sudah pernah ada… ketika itu dikenal dengan panggilan “IKMA” atau Ikatan Masyarakat Aceh Bangka…, keadaan penuh keakraban diceritakan oleh sesepuh Aceh ketika itu Tgk. M. Yusuf. Beliau menyebutkan bahwa “Ureung Aceh k awai na di Bangka, mungken segolom merdeka k na ureung Aceh… tapi hana kesatuan, baru bak thon 90-an na kesatuan” ini manandakan bahwa tipikal ureung Aceh senang hijrah (merantoe).
Keadaan Aceh pasca 90-an terus bergejolak hingga batas akhir 2004 pasca tsunami, keadaan Aceh pasca MOU Helsinki 15 Agustus 2005 kembali membaik dan beberapa keluaraga dari Aceh terus berdatangan ke Bangka. Keadaan perantau Aceh memang sedikit membaik bila dibandingkan dengan perantau asal Bugis… karena Ureung Aceh lebih cendrung jadi pengrajin Gorong-gorong (Meunyeung Mount atawa peunget poup).
Panggilan jiwa ureung Aceh untuk bersatu dan eksistensi diri menjadi salah satu pertimbangan penting, sehingga kesatuan urueng Aceh kembali menggelora untuk tampil “Bersama saling membesarkan” amanat inilah yang membangkitkan semangat sehingga terpanggil beberapa tokoh Aceh untuk duduk rembung dan bersepakat untuk kembali menghidupkan perhimpunan yang dulu pernah jaya pada akhir tahun 1998-an…
Dan pada tahun 2000-an IKMA kembali kehilangan tokoh sentralnya, dengan kembalinya sdr. Hasan….. maka sejurus itu…. Pelaksanaan arisan dan harumnya daun timphan tidak lagi terciup bahkan rasa rindu akan kampong halaman terus membuncah tiada tara.
Lalu waktu terus berjalan sesuai rodanya, dari tahun 1998-an sampai tahun 2010-an, IKMA fakum, tanpa penopang… waktu yang dilewati menjadi hambar… masyarakat Aceh di Bangka kehilangan induk dan selama 10 tahun, dan selama itu pula kerinduan untuk berkumpul dan bersilaturrahmi menjadi impian setiap orang Aceh di sana….
Namun pada pertengan tahun 2011 dengan kegigihan dan keinginan yang kuat dari generasi muda Aceh yang sedang berada di Bangka, dan dukungan sesepuh dan tokoh Aceh. Upaya untuk menggagas lahirnya perkumpulan terus disosialisasikan baik kepada tokoh atau para pekerja lepas di berbagai pelosok Bangka… dan atas “tulong Allah” dengan semangat keikhlasan, maka tanggal 4 Agustus 2011 menjadi lembaran baru bagi Masyarakat Aceh di Bangka.
Dengan terpilihnya Sdr. Drh. Tgk. H. Rahmani sebagai ketua yang dibantu oleh Sdr. Yusra Jamali, M. Pd pada posisi sekretaris dan bendahara dipercayaklan ekpada Sdr. Syahril atau lebih dikenal dengan sebutan pakcek, maka keinginan akan wadah berhimpun bagi Masyarakat Aceh di Bangka sudah terbentuk. Semoga pendirian wadah ini menjadi amal jariah kita semua dan bermanfaat bagi sesame orang Aceh dan bahkan juga manfaat akan mengalir kepada anak cucu kita dimasa-masa yang akan datang. Amin…
Sebagai orang baru diperantauan… ternyata tidak mudah memulai menjalankan sebuah organisasi panguyuban, kelemahan dan keterbasan yang ditambah dengan kesibukan pekerjaan mengakibatkan sejumlah program belum dapat di jalankan. Untuk itu kami atas nama pengurus IMABA mohon maaf dan sekaligus kami mohon dukungan dan saran/pendapat/usul untuk kemajuan IMABA dimasa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum warahmatullhi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar